Sore ini, Zira duduk di kursi meja belajar yang langsung menghadap pada jendela kamar sembari memandangi air hujan yang turun dengan deras, di temani secangkir kopi yang panas.
Lamunan Zira buyar saat seekor kucing meloncat ke atas meja belajar nya, dan saat itu juga senyum Zira terbit.
"Bubu," Zira mengelus kucing oranye tersebut. Bubu, kucing tersebut terduduk nyaman karena Zira terus saja mengelus bulu nya, hingga kucing itu tertidur.
Zira bangkit untuk menutup jendela kamar, tak lupa juga menutup gorden nya. Setelah itu ia naik ke atas ranjang, lalu meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Jari jemari nya mulai lihai mengetikkan sesuatu di room chat yang jarang sekali di balas oleh mamah nya.
Mama
Zira
Ma, kapan pulang? Zira kngn loh ma
Sibuk bgt ya ma sampai ga sempet bls chat aku?
Zira menghembuskan nafas setelah mengirim pesan tersebut kepada Rani. Selagi menunggu jawaban, Zira menyimpan ponsel di atas kasur, sementara diri nya termenung dalam diam.
Tak lama, suara notifikasi pesan masuk terdengar. Zira langsung bersemangat melihat ponsel dan berharap itu balasan dari mamah nya. Setelah di lihat, ternyata benar, Tarisa membalas pesan nya.
Mama
Kmu mau apa sayang? Nanti mama transfer.
Uang sekolah lancar? Atau ada barang yg pngn kamu beli? Bilang aja biar mama kirim ya uang nya❤️
Maaf, mama gabisa pegang hp lama2 krna sibuk kerja.
Kmu klo bisa lngsung bls yg penting aja ya sayang.
Zira
Ma...
Aku cuman butuh mama pulang, bukn uang.
Cepet pulng ya ma, aku kangen.
Love u ma.
Zira menghempaskan ponselnya ke sembarang arah. Sangat sulit sekali bagi nya untuk mendapatkan kebahagiaan bersama keluarga sendiri. Memiliki ayah tiri sungguh menyakitkan bagi Zira yang selalu mendapatkan luka yang selalu laki-laki tua itu torehkan tanpa alasan. Jika bisa memilih, Zira lebih baik tidak memiliki ayah tiri dari pada harus hidup tersiksa seperti sekarang ini.
Zira selalu berharap, semoga tuhan bisa berpihak pada nya selama ia hidup di dunia.
"Awwss..." Zira meringis saat tiba-tiba kepala nya terasa pusing, seperti ada benda tajam yang menghantam nya. "Please, ayok kuat, Ra. Lo pasti bisa bertahan hidup."
"Non Zira,"
Suara mbok Sisil dari luar kamar dan ketukan pintu membuat atensi Zira teralihkan.
"Iya sebentar mbok," Zira berusaha bangkit meski rasa pusing masih menyerang kepala nya. Lalu berjalan perlahan untuk membuka pintu.
"Non Zira kenapa?" Tanya mbok Sisil saat melihat Zira memegangi pelipis nya. Zira langsung menjauhkan tangan nya dari pelipis, kemudian tersenyum.
"Ah, gapapa kok mbok, cuman pusing aja sedikit. Nanti juga pusing nya ilang." Bohong Zira. Sebenarnya rasa pusing itu akan terasa jika ia telat memakan obat.
"Oh gitu..." Seloroh mbok Sisil sembari menganggukkan kepala nya. "Oh iya, non Zira belum makan malam kan? Makan yuk. Mbok udah masakin masakan kesukaan non Zira. Sayur asem, cumi kecap pedas sama tumis kangkung."
KAMU SEDANG MEMBACA
Boby Boys [On Going]
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA SOBAT] Kalian orang2 baik💘 _____ Semesta yang misterius telah mendekatkanku dengan seseorang yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dan seharusnya aku bersyukur atas kejutan itu. Hanya dengan hadirnya kamu, aku mengerti...
![Boby Boys [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/266634751-64-k713154.jpg)