29(Tamu Tak Diundang)

67 55 100
                                        

Zira turun dari motor Boby dan menyerahkan helm pada cowok itu setelah sampai di depan gerbang rumah nya. Sepanjang perjalan tadi, yang biasanya nya Zira akan mengajar Boby berbicara malah menjadi pendiem. Kedua nya sama-sama tidak ada yang angkat bicara.

"Boby," panggil Zira dengan pelan. Boby hanya diam sembari memandang kosong ke arah jalanan yang sepi. "Maafin ayah gue tadi ya. Dia gak jahat kok, cuman karena lagi emosi aja makanya ketus sama lo."

Zira mencoba meraih tangan Boby yang ada di stang motor karena cowok itu hanya diam tanpa mau menatap nya sama sekali. Lalu Zira menggenggam nya penuh perasaan.

"Bob, untuk kesekian kali nya gue ngomong ini. Gue sayang sama lo, tulus. Kalau lo punya trauma di masa lalu, gue bisa coba buat nyembuhin lo. Gak tau kenapa, gue bisa sesuka ini sama cowok, dan itu lo. Gue tau, lo orang baik, Bob. Dan gak ada salahnya lo buka hati untuk kali ini aja." Ucap Zira mengeluarkan isi hatinya membuat Boby kini mau menatap nya.

Sebelum menjawab, Boby menjauhkan tangan nya yang sedang di genggam oleh Zira.

"Gue gak sebaik yang lo pikirkan. Dan, jangan terlalu terbawa perasaan sama sesuatu yang belum sepenuhnya gue lakuin buat lo."

Zira tersenyum getir mendengar ucapan itu. "Iya gue tau kalau yang selalu lo lakuin ke gue itu cuman atas permintaan dari nenek. Kalau lo gak ikhlas ngelakuin nya, mending gak usah ya. Gue gapapa, dari pada harus terjebak sama perlakuan lo yang buat gue semakin suka sama lo."

"Jangan suka sama gue." Ucap Boby terdengar perintah bagi Zira.

"Untuk itu, gue gak bisa." Zira tiba-tiba merasakan pusing di kepalanya, namun ia mencoba untuk menahan sakit itu. Boby mengerutkan keningnya menatap Zira yang tubuhnya sedikit oleng. "Sshh..."

"Ra." Boby spontan menahan punggung Zira yang ingin terjatuh. Dengan gerakan cepat, Boby membuka helm nya dengan satu tangan lalu turun dari motor, kemudian membantu Zira agar berdiri dengan tegak.

"Gue gapapa," Zira tersenyum sembari menahan tubuhnya agar tidak oleng kembali. "Gue masuk ya, lo hati-hati."

"Ra," Boby menghentikan langkah Zira yang ingin memasuki gerbang. Kini suaranya terdengar lembut. Cewek itu pun menghadap ke arah Boby.

"Iya?" tanya Zira.

Sebelum mengatakan sesuatu, Boby menatap lekat manik mata kecoklatan milik Zira. Degup jantung cewek itu tiba-tiba bergerak cepat. Zira yang awalnya menatap Boby dengan kerutan di dahi, kini berganti dengan senyuman tulus saat mengetahui kebingungan yang akan Boby ucapkan.

"Makasih ya," bukan. Ini bukan Boby. Tapi Zira yang mengucapkan nya. "Makasih udah mau antar gue pulang, makasih juga barusan udah mau nolong gue biar gak jatuh."

"Sama-sama." Jawab Boby yang terdengar kelu. "T-tunggu,"

"Sekali lagi, hati-hati ya pulang nya. Jangan ngebut." ucap Zira memperingati. Tapi Boby tidak mendengarkan nya.

"Kalau ternyata kita adik kakak, gimana Ra?" Tanya Boby pada akhirnya. Hal itu membuat Zira kebingungan.

"Maksud nya?" Tanya Zira. "Gue gak ngerti."

"Nggak. Lupain." Balas Boby dengan wajah datar seperti biasanya. Zira pun tidak mau ambil pusing dan memilih tersenyum lagi.

"Ya udah, sana gih balik. Bye bye!" Zira melambaikan tangan dengan senyum yang kini terlihat lebar hingga matanya menyipit.

★★★

Siang ini, Boby masih tidur nyenyak di atas kasur nya yang sudah berantakan akibat posisi tidur yang tidak beraturan. Nenek Yola masuk ke dalam kamar Boby yang tidak di kunci lalu membuka gorden hingga cahaya matahari masuk ke dalam dan memancar ke arah Boby membuat cowok itu menggeliat kecil saat dirasa terpapar sinar matahari.

Boby Boys [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang