"Memalsukan senyuman lebih mudah daripada menjelaskan kenapa kita bersedih."
★★★
Pagi ini Zira berdiri di depan gerbang rumah nya dengan seragam sekolah yang sudah melekat rapih di tubuhnya. Sebelum mandi tadi, Boby sempat mengirimi pesan bahwa cowok itu ingin berangkat sekolah bersama, hanya atas permintaan nenek nya lagi.
Tak berselang lama, senyum Zira mengembang saat sebuah motor besar berwarna merah berhenti di hadapan nya.
"Yeay! Akhirnya lo sampai juga." Ucap Zira antusias. Namun sepersekian detik senyum itu berubah menjadi cemberut. "Panas tau di sini."
"Ya." Boby menyodorkan helm pada Zira. Cewek itu pun menerima nya meski ada rasa sedikit kesal karena Boby hanya merespon nya seperti itu.
Saat ingin naik, Boby menahan lengan Zira membuat cewek itu mengurungkan niatnya untuk duduk di jok belakang.
"Kenapa?" Tanya Zira bingung.
Boby tidak membalas. Zira hanya memperhatikan Boby yang sedang melepas jaket kebanggaan nya lalu melingkarkan jaket itu di pinggang cewek itu. Zira sempat tersentak kaget, namun ia langsung sedikit membuka kedua lengan nya agar Boby mudah untuk memasangkan jaket tersebut.
"Rok lo kependekan." Ucap Boby setelah selesai memasang jaket itu.
"Thanks." Zira tersenyum lalu menatap ke arah pinggang nya yang terdapat jaket milik Boby. Ia pun cepat-cepat naik ke motor dan duduk manis di sana. "Boleh pegang?"
Sedikit ragu, dan akhirnya Boby mengangguk. Hal itu membuat Zira tersenyum senang dan ia langsung memeluk Boby dengan santai. Motor Boby melaju membelah ibu kota pagi ini. Untunglah jalanan tidak terlalu padat, jadi mereka bisa datang ke sekolah tepat waktu.
Kini kedua nya sudah sampai di tempat parkir sekolah. Zira turun dan menyerahkan helm yang sebelumnya ia pakai pada Boby.
"Yuk." Ajak Zira semangat saat Boby sudah turun dari motornya. Kedua nya pun melangkah pergi dari are parkir.
"Zira!"
Langkah Boby dan Zira terhenti ketika ada seseorang yang memanggil cewek itu dari belakang. Baru saja ingin membalikkan badan, dua orang telah berdiri di depan Boby dan Zira.
"Astaga Ra, muka lo kenapa? Terus kenapa chat gue gak di bales-bales hah?" Tanya Luna khawatir. "Terus sakit gak bilang apa-apa sama gue. Jahat banget lo."
"Gue gapapa kok." Ucap Zira sembari tersenyum hangat pada Luna dan Gael.
"Jawab pertanyaan Luna yang pertama, Ra." Ucap Gael menatap serius pada Zira. Seperti meminta nya untuk jujur.
"Gue..." Zira menggantungkan ucapan nya karena bingung harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak. Karena untuk saat ini, sangat tidak tepat jika harus menceritakan yang sebenarnya.
"Pasti gara-gara dia kan?" Gael menunjuk pada Boby dengan rahang yang mengeras. "Jawab, Ra!"
"Bu-bukan kok." Balas Zira dengan terbata.
"Brengsek!" Umpat Gael.
Bugh!
Zira menganga saat Gael memukul wajah Boby. Karena Boby tidak membalas, Gael langsung menarik kerah seragam cowok itu dengan tatapan yang tidak bersahabat. Hal itu membuat siswa-siswi SMA Elang yang baru datang jadi menatap pada kedua nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Boby Boys [On Going]
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA SOBAT] Kalian orang2 baik💘 _____ Semesta yang misterius telah mendekatkanku dengan seseorang yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dan seharusnya aku bersyukur atas kejutan itu. Hanya dengan hadirnya kamu, aku mengerti...
![Boby Boys [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/266634751-64-k713154.jpg)