Unsur - 37

45 15 6
                                        

Dengan tanpa mencari pembenaran, adalah cara minta maaf yang paling elegan

-Unsur~Bab Tiga Puluh Tujuh-

Dita dan Ares sudah memasuki minggu-minggu ujian akhir. Try out ketiga sudah dilaksanakan sejak beberapa hari yang lalu, dan akan selesai besok. Tapi tentu mereka tidak bisa tenang dulu karena masih akan ada serangkaian ujian lagi. Belum lagi pertanyaan mau kuliah di mana dari orang-orang menambah berat kepala mereka.

Selama itu pula, Ares dan Dita semakin rajin melakukan panggilan video setiap malam. Mereka suka belajar dan berdiskusi bersama. Dari kegiatan ini, Ares jadi tahu macam-macam playlist yang Dita suka. Sebaliknya, Dita jadi tahu kebiasaan Ares yang suka ngomong sendiri kalau ga bisa ngerjain soal.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Tapi keduanya masih aktif membaca materi di kamar masing-masing. Dengan kamera menyala menampakkan wajah satu sama lain. Hening, hanya terdengar suara alat tulis bergesekan dengan kertas.

"Dit, pake rumus yang mana ini?" tanya Ares, kemudian menyebutkan soal nomor berapa yang ia maksud.

"Pake yang pertama, kayak soal yang nomor dua puluh," jawab Dita tanpa menoleh ke arah kamera.

Gadis itu refleks menjatuhkan pulpennya saat tiba-tiba muncul noda merah di atas buku tulisnya. Ia langsung mendongak, mencegah tetesan darah dari hidungnya jatuh lagi-meski perilaku ini sebenarnya tidak disarankan. Sementara tangannya meraba ponsel dan langsung memutus sambungan.

Dia akan beralasan baterainya habis jika Ares bertanya nanti. Ia tidak mau temannya itu khawatir. Ares tidak akan mengijinkannya belajar malam lagi besok-besok kalau dia tahu.

Kotak tisunya sedang kosong di saat genting seperti ini. Namun alih-alih pergi ke kamar mandi pribadinya untuk membersihkan darah yang masih menetes. Ia malah keluar kamar mencari kertas tisu yang tersisa.

Dita dikejutkan oleh keberadaan Mamanya saat ia membuka pintu. Vania juga tak kalah terkejutnya. Wanita tersebut semakin panik saat mengetahui putri bungsunya tengah mimisan.

"Astaga! Kamu masuk kamar mandi dulu cepetan," ujar Vania sembari dengan lembut membuat kepala Dita menunduk.

Setelahnya anak itu menurut dan masuk ke kamar mandi. Membasuh hidungnya sampai bersih. Sementara Mamanya pergi mengambilkan handuk dan segera kembali.

Vania memperhatikan putrinya membersihkan wajahnya. Sambil memeberi nasehat dengan lembut, "Kalo lagi mimisan jangan dibiasain ndongak, nanti malah nambah sakit, nunduk biar darah kotornya keluar semua dulu."

Setelah selesai, keduanya baru sadar apa yang baru saja terjadi. Anak ibu tersebut pun terdiam dalam kecanggungan. Belum pernah melakukan ini sebelumnya. Ini sepertinya kali pertama mereka duduk berdua seperti ini.

"Mama, ngapain di depan kamar Dita?"

Hening tetap ada di antara mereka bahkan setelah Dita mencoba memecahnya. Vania menarik napas panjang sebelum mengelus pelan surai Dita. Kemudian menjawab pertanyaannya.

"Mama pengen tau kamu lagi ngapain," kemudian buru-buru mengalihkan topik, "Kamu kenapa bisa mimisan?"

Mengapa? Mengapa begini? Dita tidak terbiasa dengan perasaan semacam ini.

"Kenapa? Kenapa Mama pengen tau? Mama enggak pernah pengen tahu sebelumnya?"

Vania tidak bisa mengatakan hal selain, "Maaf, maaf karena baru bisa ngelakuin ini sekarang, Mama yakin kamu tahu semuanya, maaf."

"Sejak tujuh belas tahun lalu kamu lahir, sampai hari ini dan selamanya, Dita tetap anak Mama."

Katakan saja Dita memang lemah. Tapi hal barusan bukanlah hal yang biasa untuknya. Tidak peduli wajar atau tidak menurut orang-orang, ia akan menangis lagi malam ini.

Unsur Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang