Kelas 2 IPS-1. Wali kelas -- Pak Yama. Jumlah muridnya ada 25 siswa. Dimana cowok jumlahnya cuma 7 orang, dan cewek --- 18 orang...?!
Aku melongok sejadinya. Gimana bisa di kelasku itu, jumlah ceweknya lebih banyak ya...?
"Bisik-bisik apaan sih, kalian?" tanyaku pada Oliver dan Kenta.
"Wali kelas kita itu kan galak banget." ucap Kenta lesu.
"Pak Yama, maksudnya?"
"Kamu belom kenal sih sama dia. Pokoknya ada tiga guru paling galak di sekolah ini. Pak Yamada, Bu Yolanda, dan Bu Safitri." jelas Oliver.
"Segalak-galaknya dia, gak bakal gigit juga kan?"
"Riichi...!" Mata Kenta membulat. "Hati-hati kamu kalo bicara. Ada yang dengar, kamu bisa diadukan dan poinmu nanti bisa berkurang!"
Selain sekamar dengan mereka, rupanya aku satu kelas dengan keduanya. Kupikir tadinya Oliver itu anak IPA. Taunya si cowok berkacamata itu ngambil jurusan IPS juga.
Aku bertemu dengan siswa lain di sepanjang koridor. Tapi yang kuperhatikan, mereka kayak gak memperdulikan aku yang merupakan siswa pindahan ini.
"Lantai dua ke bawah, itu dihuni sama anak-anak IPA. Kalo lantai empat dan tujuh, itu dihuni sama anak bahasa." jelas Kenta.
Seperti yang dibilang Kenta barusan, begitu kita sampai di lantai dua, aku bisa ngeliat dengan jelas gimana rupa dari cowok-cowok penghuni kelas IPA.
Sejauh mataku memandang, kayaknya aku sama sekali belom bisa nemuin cowok yang beneran sreg di hati.
Mereka emang putih dan tinggi-tinggi. Tapi --- wajahnya biasa aja. Gak ada yang menggairahkan gimana gitu.
"Idihh, yang wali kelasnya Pak Yama! Keren euuyyy...!"
Aku gak tau siapa cowok berpostur tubuh sedang itu. Tapi yang pasti, kayaknya cowok itu temannya Oliver dan Kenta.
"Mimpi buruk ---" Kenta geleng.
"Ehh, siapa tuh?"
"Riichi." aku memperkenalkan diri.
"Junior ya?"
"Sok tahu, kamu! Dia ini temen sekamar dan sekelas kita." jelas Oliver.
"Ohhh --- ehh, aku duluan ya."
"Temen kalian?"
"Iya. Namanya Eko. Dulu dia sekelas sama kita. Tapi sekarang dia pindah jurusan ke IPA. Soalnya dia itu diem-diem pinter banget." jelas Kenta.
Sebelom ikut upacara, kita ke kelas dulu buat taro tas. Aku pikir, keadaan kelas masih belom begitu rame. Taunya hampir seluruh kursi udah terisi. Ditambah lagi, ada sesosok pria tinggi, dengan kemeja abu-abu tua berlengan panjang, lagi berdiri di depan kelas.
"Kebetulan sekali kamu datang. Riichi Lionel, benar?"
"Iya, pak."
"Sekarang, perkenalkan dirimu di depan teman-temanmu."
"Iya, pak."
Aku kenalin deh siapa diriku, di depan teman-teman baruku. Tapi, ada yang aneh dengan mereka. Kenapa wajah mereka itu keliatan tegang sekali ya?
"Selesai upacara nanti, kita akan langsung menyusun susunan kepengurusan kelas. Bapak minta, dua perwakilan dari kalian untuk maju sebagai ketua kelas dan wakilnya."
Bel panjang pun terdengar menggema di seluruh penjuru sekolah. Seluruh siswa langsung meninggalkan kelas masing-masing, dan bergerak menuju lapangan untuk mengikuti upacara senin pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
A LIFE
Novela JuvenilAku kacau... Kehidupanku juga kacau... Semuanya semakin jadi kacau, saat mereka datang di kehidupanku...
