"Jadi begitu, Riichi..."
Aku menganga mendengarkan semua kalimat penjabaran yang sangat ruwet dan memusingkan kepalaku itu.
Bukannya aku meragukan hasil tes DNA yang mereka sodorkan itu. Tapi, bukannya hasil tes itu bisa aja dipalsukan...?
Lagian nih ya, meskipun dokter itu dan adeknya adalah dua pria mateng dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya, buatku jauh lebih baik Mas Jimmy dan Mas Farhan.
Setidaknya mereka itu dua orang yang mau menerimaku dengan apa adanya. Bahkan kedua orang asing itu, gak keberatan menganggapku sebagai adek mereka.
Gak kayak dua orang yang ada di depanku ini. Bahkan meskipun mereka berdua adalah sodara sedarahku, buktinya mereka cuma bisa diem aja saat aku dibuang dan dilupakan begitu aja dari yang namanya 'keluarga'.
"Kamu tinggal dimana, Riichi?"
"Aku?" Kutatap balik dokter bernama Nanda itu. "Apa peduli kalian?"
"Mas punya apartemen, bagaimana kalau kamu tinggal disana untuk sementara?"
"Sementara?" mataku membulat. "Lalu, kalian akan membuangku lagi?" emosiku meledak. "Lagian, semewah apa sih apartemennya? Dikiranya aku gak bisa beli juga?"
"Aku mau kasih tahu papah sama mamah, mas!"
"Niko, jangan!"
"Jangan kenapa, mas?! Apa mas lebih memilih orang lain yang sama sekali gak kita ketahui, ketimbang adek kandung kita sendiri?!"
Meskipun keliatannya si Niko itu berada di pihakku, tapi aku harus tetap waspada dengannya. Soalnya dia itu kan cowok yang pernah tidur bareng sama Ahsan!
"Jangan gegabah, Niko."
"Kalian gak usah cemas. Karena kehadiranku disini, cuma untuk ngeliat gimana sih wajah 'keluarga' yang udah ngebuang dan nganggep aku mati."
"Mas tahu mas salah, Riichi. Karena waktu itu --- mas juga masih kecil. Mas gak tahu harus berbuat apa."
Aku tepis tangannya Nanda. "Aku gak butuh pengakuan dari kalian. Aku juga sama sekali gak menuntut apapun dari kalian. Tapi permintaanku cuma satu. Jangan pernah menghalangiku saat aku akan balas dendam ke adik kalian yang sangat kalian sayangi itu!"
"Octa melakukan itu? Apa kamu tidak salah?"
"Salah?! Kalian kira aku ini bego?!"
"Gak mungkin kalau Octa --"
"Mas Nanda ini kan dokter terbaik yang ada di rumah sakit ini. Tapi mas gak tahu kalo dia sering bolak-balik kesini meminta obat-obatan yang bahkan dia gunakan untuk ---" aku pun memperlihatkan rekaman video saat Octavian mengambil obat-obatan yang entah untuk apa dia melakukannya.
"Kamu --- bagaimana cara kamu mendapatkan video ini?"
"Mas --- rumah sakit ini tuh gak ada apa-apanya. Bahkan, kalo detik ini juga aku mau ambil alih seluruhnya, aku bisa melakukannya."
"Papah sama mamah udah aku kasih tahu, mas."
"Kamu ----!?"
"Mas Niko ---" aku tatap dia. "Bukannya mas itu sayang dan ngelindungin banget Octa ya?" aku menghela pelan. "Sampai, ngelarang dia buat pacaran sama pilihan hatinya sendiri. Tckckck..."
"Armando?"
"Kenapa mas ngelarang? Apa karena Armando bukan dari keluarga kaya? Atau --- karena status ayahnya yang jadi tersangka atas pembunuhan isterinya sendiri?"
"Jadi kamu yang ngelarang Octa, Niko?"
"Iya, mas."
"Kamu tahu kan, kalau Octa itu ---"
KAMU SEDANG MEMBACA
A LIFE
Teen FictionAku kacau... Kehidupanku juga kacau... Semuanya semakin jadi kacau, saat mereka datang di kehidupanku...
