Apakah keluarga itu seperti ini??
Ini kisah dari sebuah keluarga yang terlihat harmonis di depan publik, namun kenyataanya keluarga ini sangat kacau.
Semua kekacauan itu berawal dari sebuah tragedi kecelakaan.
•
•
•
•
•
•
by : Wanda Izza
Start :...
Sesuai yang diperintahkan Jonathan di weekend sebelumya, weekend ini ketujuh putra Valholter harus mengosongkan jadwalnya dan pergi berlibur bersama.
Subuh tadi Jonathan, Arreta dan ketujuh putra Valholter mulai melakukan perjalanan menuju tempatnya vacation mereka.
Dan setelah beberapa jam berkendara mereka sampai di sebuah resort yang terbilang mewah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jonathan dan Arreta lebih dulu menggeret koper mereka memasuki area resort, meninggalkan putra-putra mereka yang masih mengeluarkan barang bawaan mereka dari mobil.
"Loh? Dimana Dewa, Lio dan El?" Tanya Jonathan saat keempat putranya masuk kedalam resort dan ia baru menyadari ketidak hadiran ketiga putranya yang lain.
"Mobil bang Dewa tadi ada dibelakang mobil kami, yah. Lalu setelah tikungan terakhir kami sudah tidak melihat mobil bang Dewa." Jawab Marvino.
"Kamu kok gak kabari bunda sih kalo mobil abang mu ketinggalan jauh. Dan kenapa juga kamu ikut mobilnya Avan, bukan mobil abang mu saja???" Gerutu Arreta.
"Bang Avan juga abangnya Vino, Bun. Jadi gak masalah Vino ikut mobilnya bang Avan." Balas Marvino.
"Udah-udah, mungkin mereka mampir ke suatu tempat. Sebentar lagi pasti mereka akan datang. Sekarang kalian masuk ke kamar kalian, bereskan semua barang yang kalian bawa, lalu setelah itu kalian bersiap kita pergi piknik." Titah Jonathan panjang lebar.
Arlavan, Marvino, Avzra dan Vriza hanya mengangguk dan melangkah menuju kamar masing-masing.
Tak berselang lama terdengar suara mobil datang, sudah dipastikan yang datang itu mobil Dewangga. Soalnya siapa lagi yang datang ke resort ini, kan seluruh resort sudah dibooking oleh Jonathan.
"Loh dek? Itu rambut kamu kok jadi warna merah?" Tanya Arreta saat ketiga putranya melangkah masuk sambil menggeret koper mereka.
"Bisa dong, Bun. Tadi Adek minta bang Dewa buat mampir ke salon, warnai rambut. Bagus kan?" Tanya Delvian sambil menyisir rambutnya kebelakang dengan tangannya.
"Bagus." Bukan Arreta yang menjawab tapi Jonathan. Delvian tersenyum senang mendengar pujian dari sang ayah.
"Cepat kalian siap-siap gih! Kita akan pergi piknik sekarang." Titah Jonathan yang diangguki ketiga putranya itu.
Selang beberapa menit ketujuh putra Jonathan akhirnya melangkah turun menghampiri kedua orangtuanya yang sudah lebih dulu selesai bersiap.
"Semua sudah siap?" Tanya Jonathan kepada semua orang.
"Sudah mas, aku juga sudah menyiapkan beberapa makanan untuk makan siang dan sudah aku letakkan di mobil."