49. Mawar putih

901 76 5
                                        

Happy Reading !!!

Jonathan mengira kehidupannya tidak akan pernah baik-baik saja setelah insiden penculikan yang dilakukan Hendrik Raymond kepada keluarganya.

Namun semua itu salah. Kini kehidupan Jonathan dan keluarganya perlahan membaik.

Sudah satu bulan lamanya semenjak kejadian itu, dan semuanya perlahan membaik.

Marcellio dan Marvino sudah keluar dari rumah sakit dan menjalani pemulihan di rumah, serta Arlavan yang sudah siuman dan dalam masa pemulihan dirumah sakit. Pemuda itu hanya perlu menjalankan beberapa terapi saja agar kembali pulih seperti sedia kala.

Hubungan Jonathan dan Adella juga sudah membaik, keduanya masih saling mencintai dan memutuskan untuk rujuk kembali. Kini mereka kembali berstatus sebagai suami-istri.

Saat ini hanya tinggal satu hal yang dicemaskan oleh kepala keluarga Valholter itu, yaitu Avzra.

Putranya itu masih terbaring di ranjang rawat rumah sakit. Matanya masih terpejam, rona di pipinya pun masih pucat.

Seperti pagi-pagi sebelumnya Jonathan akan mengantarkan Adella ke rumah sakit guna mengunjungi putra mereka.

"Maaf tidak bisa menemanimu, aku harus ke kantor. Masalah perusahaan tidak bisa aku tinggalkan lebih lama lagi. Meskipun sudah ada Dewangga yang menangani, aku juga harus ikut turun tangan langsung." Ucap Jonathan penuh sesal karena tidak bisa menemani Adella menunggui Avzra dan Arlavan.

"Tidak masalah, mas. Kamu pergilah ke kantor."

"Baiklah." Jonathan kembali masuk kedalam mobilnya setelah memberikan kecupan di kening sang istri.

Adella lantas langsung melangkah menuju ruang rawat putranya. Setelah membuka pintu, kedatangannya disambut oleh Arlavan yang sedang duduk di ranjangnya sambil menikmati sarapannya.

"Selamat pagi, putranya mommy." Sapa Adella dengan senyum hangat diwajahnya.

Arlavan membalas senyuman sang ibu dengan senyum manis, "Pagi, Mommy Adel yang cantik."

"Bagaimana kondisimu hari ini?"

"Lebih baik dari kemarin, Mom. Avan sudah bisa menggerakkan kaki Avan dan berjalan, meskipun hanya tiga langkah saja." Jelas Arlavan kepada sang ibu, tak ada satupun hal yang ia sembunyikan dari ibunya itu.

Arlavan mengalami cidera yang cukup parah di kedua kakinya sehingga menyebabkannya lumpuh untuk sementara. Namun kini sudah perlahan pulih karena terapi yang ia jalani.

"Itu kemajuan yang sangat baik, Avan. Mommy yakin sebentar lagi kamu bisa berjalan lagi seperti semula." Adella mengelus sayang Surai hitam sang putra.

"Lanjutkan sarapan mu, Mommy tidak ingin melihat kau menyisakan makananmu." Ucap Adella lagi.

Adella lantas menuju ranjang sebelah, dimana satu putranya lagi terbaring dengan mata terpejam.

"Selamat pagi, putranya mommy." Sapa Adella namun tak ada jawaban sama sekali.

"Bagaimana kabarmu hari ini? Kapan kamu akan membuka matamu, hemm?"

Adella menghembus nafas panjang kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain, tepatnya kearah nakas dekat ranjang.

"Bunganya sudah diganti?" Gumamnya melihat bunga di vas sudah diganti dengan yang baru.

Really, like this a family?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang