Aku teringat akan episode ramen dalam manga Detective Conan setelah menonton acara lomba ramen di TV dan aku jadi ingin makan di tempat dalam manga itu yang katanya ramennya enak sekali. Kalau tidak salah, namanya Ramen So Good, It's To Die For. Aku menanyakan kepada Papa dan Mama apakah mereka tahu soal tempat itu. Kebetulan kami semua jadi agak ngiler ramen jadi Mama pun segera meng-google lokasi tempatnya dan kami pun berjalan kaki bersama menuju kesana.
Aku dengan gaya kekanak-kanakan memegangi masing-masing tangan Papa dan Mama layaknya sebuah gambar keluarga bahagia. Akankah tahun-tahun yang akan datang kami tetap bisa utuh sebagai keluarga yang bahagia dan nyaman? Aku melihat hubungan Papa dan Mama baik-baik saja dan tidak pernah melihat mereka bertengkar jadi mungkin pernikahan mereka sementara ini langgeng saja. Semoga tidak ada konflik macam-macam seperti yang terjadi pada kedua orangtuaku dulu di dunia nyata.
Setibanya di kedai ramen itu, kami segera masuk dengan semangat karena kami jadi tambah lapar selama perjalanan menuju ke tempat ini.
Aku terperangah saat aku mengenali dua orang yang juga sedang bertamu di kedai tersebut yaitu Sera dan kakaknya, Shukichi. Wah, akhirnya aku bisa melihat langsung saudara kandung Shuichi Akai yang terakhir. Sera yang mengenaliku, melambaikan tangan kepadaku.
"Itu Kak Sera, dia seorang detektif. Dia juga seorang gadis, bukan lelaki." Aku menjelaskan kepada Papa dan Mama yang tidak pernah bertemu Sera sebelumnya.
Papa menggaruk-garuk dagu-nya. "Detektif lagi? Eva, kenapa banyak sekali detektif disekelilingmu?"
"Biar saja, detektif itu keren!" seruku sengaja dengan suara keras.
Sera mengacungkan jempol padaku dan mengerlingkan matanya. Dia lalu kembali berbicara pada kakaknya tetapi aku tak bisa mendengar percakapan mereka.
Mama sudah memesankan ramen untuk kami bertiga dan kami sangat tidak sabar ingin segera makan. Saat pelayan mengantarkan pesanan kami, kami langsung melahap ramen tersebut. Ternyata rasanya benar-benar enak sesuai yang dikatakan pada manga. Aku sungguh senang bisa menyantap makanan enak disini. Papa dan Mama juga suka dengan ramen disini.
"Darimana kamu tahu soal tempat ini, Eva?" tanya Papa sehabis makan.
"Aku pernah mendengar guru di sekolah membicarakan soal tempat ini." jawabku asal.
Aku tak bisa menahan senyumku saat melihat Mama menyuapi Papa agar mencoba ramen yang Mama pesan. Hubungan mereka benar-benar masih langgeng.
Aku menatap ke arah Sera dan Shukichi. Aku ingin bisa bicara dengan Shukichi juga tapi aku tak tahu bagaimana harus berinteraksi dengannya. Aku membelalak kaget saat Sera tiba-tiba membuat gerakan tangan yang menyuruhku bergabung ke mejanya. Beneran nih? Aku pun bangkit berdiri dan mendekati Sera sambil tersenyum-senyum.
"Halo, Kak Sera."
Sera tersenyum padaku dan menyuruhku duduk disampingnya. Dia lalu memperkenalkan Shukichi kepadaku. "Ini Kak Kichi, kakak-ku."
"Namaku Shukichi. Senang berkenalan denganmu. Kau Eva, bukan? Penulis kecil yang diceritakan adikku." Shukichi menoleh padaku sambil tersenyum ramah.
Wajahku memanas karena agak malu. "Aku bukan penulis." Aku melirik kedua orangtuaku yang untungnya tidak memperhatikan interaksi kami. Aku malas jika sampai mereka tahu, bisa-bisa aku diejek terus. Untungnya cerita yang kubuat itu tidak membuat Pak guru Shin memanggil Mama ke sekolah lagi seperti waktu dulu. "Aku cuma menulis cerita asal saja koq, Kak Shukichi."
"Cerita asal? Menurutku kau sangat memikirkannya dengan masak-masak." tutur Sera. "Panggil dia Kak Kichi saja sepertiku. Namanya kepanjangan, bukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
walking on a dream
FanfictionEva terbangun dalam tubuh gadis kecil di dunia manga DC. Bisakah dia bertahan hidup disana?
