47

925 100 39
                                        

Aku telah menjadi semacam keajaiban dalam bidang medis karena aku jatuh dari bukit tinggi, mendarat diatas pohon rindang dengan cedera yang cukup ringan. Namun hal itu tidak menyenangkan dikarenakan banyaknya 'kecelakaan' yang terus-menerus menimpaku yang tentunya membuat keluargaku dan para detektif disekitarku mencurigai kenapa aku bisa sampai sesial ini.

Ya, setidaknya sekarang Amuro dan Conan sudah tahu kenapa aku terus-menerus terlibat kejadian yang sangat tidak menguntungkan diriku secara berkelanjutan. Tetapi aku kasihan pada Papa dan Mama yang tidak mengerti kenapa aku terus ditimpa kesialan beruntun.

Aku mengetahui bahwa aku berhutang nyawa kepada Yohan. Aku sungguh tak mengira dewa kematian satu itu benaran datang menolongku saat batinku menjerit memanggil namanya saat jatuh. Anehnya Yohan tidak ada muncul lagi dihadapanku. Menilik sikapnya, kukira dia akan muncul dengan keangkuhannya yang menyebalkan itu, membual soal menyelamatkanku lagi dan hutangku kepadanya. Aku mendesah pelan. Aku terlalu sensi mungkin akan dewa kematian satu itu. Tetapi rasa sebalku kepadanya jadi sedikit berkurang karena perihal kali ini.

Mungkin dia menyelamatkanku hanya akan terjadi sekali saja, selanjutnya, menilik pesannya, kurasa dia tak akan mau datang lagi menyelamatkanku. Kesanku akan Yohan jadi agak bergetar. Aku sangat berterima kasih karena dia telah menyelamatkanku. Tetapi bagaimanapun dia masih merupakan bahaya bagi diriku, bukan? Kapan saja dia mau, dia bisa saja mencabut nyawaku dan membuangku ke tempat itu. Jika demikian, aku tetap harus memandangi Yohan sebagai ancaman terhadap diriku.

Jika sudah demikian, aku tak boleh ragu. Aku harus meminta bantuan kepada Akako Koizumi. Karena aku tak yakin akan bisa menemukan Fuyuka Magami dan anaknya tepat waktu dan jika bisa menemukan mereka pun, tak ada jaminan mereka akan bersedia membantuku. Juga sama halnya dengan si penyihir Akako, hanya karena dia bersedia menemuiku bukan berarti dia bersedia menolongku.

Aku menggeram dengan agak kesal. Aku memijat-mijat pelipis kepalaku yang berdenyut-denyut. Duh, mau hidup saja dibikin susah.

777

Aku agak tegang untuk menemui Conan dan Amuro karena mereka telah mengetahui kebenarannya, khawatir akan pertanyaan apa lagi yang akan mereka hendak tanyakan kepadaku. Aku sampai agak ragu mau mampir ke Poirot. Kalau Conan, aku memang tak bisa menghindarinya karena kami satu sekolahan. Tetapi untungnya, Conan tidak mendatangiku dan mendesakku.

Aku memandangi Kafe Poirot dari depan masih diliputi keraguan apakah aku hendak masuk atau mau langsung pulang saja. Namun keputusan itu diambil dari tanganku saat Conan tiba-tiba melangkah didepanku dan berhenti sejenak dengan wajah serius. Dia menoleh kepadaku sembari menampilkan senyum kekanak-kanakan palsunya, dia mengajakku masuk.

"Ada hal penting yang Kak Eva harus tahu soal kejadian kemarin..." ujar Conan kalem.

Aku mendesah pelan, menyadari aku tak bisa menolak anak itu. Kami pun masuk ke dalam Poirot. Amuro menyambut kami dengan senyum ramahnya seperti biasa. Aku tersenyum agak gugup kepadanya sebelum mengikuti Conan untuk duduk ditempat pilihannya. Azusa tidak ada ditempat.

Conan memperlihatkan foto dari smartphone-nya. Sebuah foto brosur tempat kami menginap kemarin terpampang pada foto tetapi ada coretan besar pada brosur. Come here and fulfill your purpose.

Aku menatap foto itu dengan bingung sebelum menoleh pada Conan.

"Wanita bernama Mei Kurosu itu berbohong. Dia tidak kebetulan menemukanmu disana. Seseorang menyuruhnya datang kesana dan menyiratkan bahwa dia akan menemukan target baru disana. Kau, Kak Eva." jelas Conan dengan wajah serius.

Wajahku memucat mendengarnya. "Siapa yang menyuruhnya melakukan itu?"

"Wanita itu tidak tahu siapa yang meninggalkan brosur itu kepadanya."

walking on a dreamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang