27

716 121 18
                                        


Hari ini, aku mampir ke Poirot dan agak sedikit kecewa karena Amuro sedang tidak ada tapi aku tetap masuk dan memesan makanan disana. Tak masalah jika nanti bertemu Conan. Sudah kuputuskan untuk mengikuti alur saja. Yang penting aku ingin bisa menikmati sisa hidupku.

Aku ingin memanjakan mataku dengan mengamati semua karakter manga DC baik yang karakter major maupun yang minor. Sayang sekali aku tidak dapat bertemu Kaito Kid. Rasanya aku ingin agar KID memberiku sekuntum bunga mawar dan menyebutku 'lady'...walau aku bukan seorang lady. Aku mengetahui hal itu sungguh agak memalukan tetapi hidupku sudah tidak begitu lama lagi, buat apa malu-malu? Iya kan? Kalau perlu, aku akan blak-blakan dan menyatakan rasa suka-ku kepada kedua tokoh favoritku itu untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya. Jadi, aku bisa menutup mata dengan damai, mengetahui bahwa aku menjalani hidup bagai tokoh utama fanfiction dikelilingi tokoh-tokoh favoritku.

Tapi, sebenarnya walau aku berpura-pura berlapang dada dan bersikap seperti memiliki wibawa, aku tetap saja khawatir akan apa yang akan terjadi pada jiwa-ku nantinya. Apakah aku akan disidang dan masuk neraka, disiksa oleh setan-setan atau neraka-nya akan seperti versi Lucifer terperangkap dalam time loop di momen paling menyedihkan, menyakitkan, memalukan dan menyiksa selamanya? Ataukah akan terjadi seperti perkataan Reina, jiwaku akan dimusnahkan? Bukankah sungguh sinting bahwa aku berharap jiwaku dimusnahkan saja? Lebih baik menderita sekali daripada selamanya... Aku berasumsi rasanya pasti sakit jika jiwa dimusnahkan...tapi pasti lebih baik ketimbang sakit selamanya jika aku dijatuhkan ke neraka, bukan?

Aku mendesah. Aku merasa dengan keberuntunganku, aku pasti akan berakhir di neraka. Biasanya jika seseorang sangat menginginkan satu hal, yang terjadi selanjutnya malah hal lain yang dia dapatkan. Jadi, mungkin saja jiwaku tak akan dimusnahkan, malah di alamatkan secara permanen di neraka.

Ah, pemikiran semacam ini hanya membuatku tambah stres. Setidaknya soal raga, aku bisa lebih tenang. Caleb akhirnya mengontakku dan menenangkanku bahwa raga-ku tidak akan membusuk seperti yang kupikirkan. Kenapa Lizzie menggunakan kata pembusukan raga? Membuatku ketakutan sekali.

Aku mendesah, memikirkan bagaimana menjalani sisa hidupku ini untuk melakukan semua yang aku suka. Kukira setelah keinginanku bisa dibilang terkabul dengan adanya batas limit kehidupanku, aku akan lebih termotivasi melakukan yang terbaik dan yang kusuka untuk sisa hidupku. Tapi aku malah masih tanpa arah.

Azusa meletakkan sepotong kue brownies dan secangkir teh manis pesananku pada meja sambil tersenyum ramah. Aku berterima kasih kepadanya. Aku memandangi gadis itu yang dengan elegan melayani tamu-tamu lainnya. Hari ini Poirot terhitung lumayan sepi dan aku menyukai ketenangan yang kurasakan saat itu.

Aku memandangi lagi Azusa yang tengah mengelap meja sebelum kembali ke belakang meja bartender. Aku mendadak jadi penasaran apakah gadis itu memiliki perasaan khusus untuk Amuro. Di manga utama DC, hal itu tidak dikedepankan tetapi dalam manga khusus Amuro, sepertinya ada tanda-tandanya. Ya, jika dia memiliki perasaan suka kepada Amuro, aku tak akan terkejut. Amuro memang tipe pria yang ideal, bukan?

Akhirnya, aku memutuskan untuk mengobrol dengan Azusa. Sehabis menyelesaikan pesananku, aku melangkah ke arah meja kasir. Kebetulan Azusa sepertinya lagi agak senggang.

"Kak Azusa, bolehkah aku bertanya sesuatu yang agak bersifat pribadi kepadamu?"

Gadis itu agak terkejut karena aku mengajaknya mengobrol. Biasanya memang aku lebih ramah kepada Amuro ketimbang dirinya. Aku jadi sedikit tidak enak hati kepadanya.

Azusa tersenyum ramah padaku. "Memangnya Eva ingin bertanya soal apa?"

Aku menatap gadis itu dengan serius. "Apa hubungan Kak Azusa dengan Kak Amuro?"

walking on a dreamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang