Aku dikejutkan oleh rencana Papa dan Mama yang katanya hendak meliburkanku dari sekolah selama 2 minggu untuk pergi ke England, London. Mama mengatakan kami akan pergi menemui Kakek, ayahnya Mama yang memang Eva yang asli juga belum pernah bertemu. Rupanya Kakek tidak menyetujui hubungan Papa dan Mama tetapi keduanya menolak berpisah dan akhirnya kawin lari. Wah, drama...
Tetapi, aku yakin ada alasan lain selain menemui Kakek yang katanya sudah lama sekali hilang kontak dengan Mama. Aku menyadari ternyata mereka berniat memeriksakan diriku di rumah sakit di London. Rupanya mereka masih saja mengkhawatirkan kesehatan diriku padahal aku beberapa hari ini baik-baik saja, tak mengalami kejadian yang aneh-aneh lagi. Yaa, mereka tidak tahu soal serangan panik yang kuderita saat bepergian bersama Amuro. Aku meminta orang itu untuk tidak memberitahu Papa dan Mama. Aku jadi tidak enak dengan orang itu, dia begitu pengertian kepada diriku dan aku malah tidak bersikap jujur kepadanya. Tapi, secara teknis, Amuro juga sebenarnya tidak jujur padaku juga, bukan?
Bagaimanapun menurutku hanya membuang waktu dan uang untuk memeriksakan diriku di rumah sakit London. Mereka juga pasti tak akan menemukan yang salah padaku. Tetapi, Papa dan Mama bersikeras untuk pergi. Mama juga mengatakan dia memang berniat untuk menjenguk ayah-nya juga. Mereka bahkan sudah mengurus izin dengan pihak sekolah agar aku bisa diberikan tugas susulan nantinya. Ugh, membayangkannya saja sudah membuatku gusar, aku malas harus mengejar ketinggalan. Karena aku memang dalam wujud anak kecil, aku tak berhak menolak keinginan mereka untuk membawaku pergi. Setidaknya aku tidak dipaksa pindah dari Jepang. Aku tak rela meninggalkan orang-orang dari manga DC. Aku tak mau jika sampai tak bisa bertemu lagi dengan Amuro dan Subaru.
Aku menuturkan komplain pada Subaru saat jam les hari itu.
Subaru mendengarkanku dengan sabar sebelum berkata, "Eva, saya rasa tak ada salahnya kamu mengikuti keinginan orangtuamu. Periksakanlah dirimu dirumah sakit disana. Anggaplah demi menenangkan pikiran orangtuamu."
"Tapi kan itu percuma, Kak! Dokter disana juga tak akan menemukan kejanggalan apapun pada diriku."
"Jika demikian pun, anggap saja kau sedang pergi liburan dengan orangtuamu."
"Aku perginya dengan Mama saja. Papa tidak ikut." tukasku dengan agak cemberut. "Kami akan menemui Kakek yang bahkan Eva belum pernah bertemu sama sekali. Katanya, Kakek tidak menyukai hubungan Papa dan Mama. Orang itu juga pasti tak akan menyukaiku karena aku anak Papa."
Aku tak percaya dengan diriku yang bisa saja merasa gugup hendak menemui 'Kakek' padahal orang itu bukan benaran Kakek-ku. Papa dan Mama juga bukan orangtua asliku tetapi entah kenapa aku menyayangi mereka dan tak ingin hal buruk terjadi pada mereka. Ah, sudahlah jangan dipusingkan. Jika orang itu tidak menyukaiku nantinya, aku tak harus terlalu mempedulikan soal itu, bukan? Ataukah esensi Eva yang asli dalam diriku juga akan merasa sedih, merasa ditolak? Aku benci dengan kemungkinan penolakan dari seseorang walau hal itu memang pasti tak bisa dihindarkan dalam hidup, bukan?
Subaru menepuk kepalaku dengan lembut. "Saya yakin Kakek-mu pasti akan menyukai keberadaanmu, Eva." Dia mengatakan kalimat seperti itu kurasa untuk menghiburku saja, mana mungkin dia bisa seyakin itu bahwa Kakek benar akan menyukai diriku. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, anggap saja Eva pergi liburan. Saya rasa Eva akan menyukai jalan-jalan di London."
Yang dikatakan Subaru mungkin ada benarnya. Aku yang asli juga belum pernah ke London, England. Makanya, ini kesempatan baik untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri. Tetapi, apakah akan baik-baik saja jika aku pergi kesana? Bagaimana jika nanti aku dikejar pemburu lagi? Aku harap tidak. Aku sungguh berharap perkataan Caleb ada benarnya bahwa organisasi pemburu tak akan terus menargetkan diriku sekarang setelah beberapa kali gagal.
"Apakah Eva khawatir akan para pemburu?" tanya Subaru.
Aku mendesah. "Semoga saja mereka akan membiarkanku sendiri. Tanpa diburu pun, nyawa-ku mungkin sudah tak berapa lama lagi..." tuturku dengan mata menerawang jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
walking on a dream
FanfictionEva terbangun dalam tubuh gadis kecil di dunia manga DC. Bisakah dia bertahan hidup disana?
