Aku membuka mataku dan menyadari aku berada di dalam kegelapan. Aku kebingungan. Tiba-tiba aku merasakan hawa dingin yang membuatku menggigil. Aku menyadari ada sosok dibelakangku. Perlahan-lahan aku menoleh dan dibelakangku tampak makhluk berwajah menyeramkan dengan tubuh besar yang meringkuk mengerikan.
Makhluk itu memandangiku dengan kedua mata hitamnya. "Belatung. Belatung sialan! Berani-beraninya kau mencuri buku-ku!" pekiknya. Kedua tangannya yang panjang dan terlihat agak kurus kering mengarah ke arahku seakan ingin menangkapku, mencekikku. "Kembalikan Death Note-ku!"
Aku menjerit dan meronta-ronta namun aku merasakan kesulitan untuk bergerak.
=====
Aku memekik kecil sebelum aku jatuh ke lantai dengan keras. Aku perlahan-lahan membuka mataku dan menyadari yang membuatku sulit bergerak adalah selimut yang menutupi tubuhku. Dengan agak linglung, aku melihat sekelilingku dan mulai bernafas lega menyadari bahwa aku hanya mimpi buruk.
Aku dengan gemetaran naik lagi ke atas ranjang, lalu aku meminum segelas air dari meja disamping tempat tidurku perlahan-lahan supaya tidak tersedak. Aku melirik ke arah laci meja belajarku. Aku beranjak berdiri dan melangkah dengan agak oleng.
Aku membuka laci dan melihat kotak berisi Death Note. Aku langsung menjatuhkan diri ke lantai sembari menjambak rambutku dengan gemas.
Sial, ternyata benaran ada. Aduh, Reina, kau ini hendak membantuku atau ingin memperumit kehidupanku?
Aku kembali mengunci laci tersebut. Aku tak ingin memikirkan soal buku tersebut. Aku bertekad tak akan menggunakan buku tersebut.
Situasiku saja sudah rumit. Aku harus menyembunyikan baik-baik benda itu. Aku mendesah galau. Aku merasa tengah menyembunyikan alat kejahatan saja. Dan jika teringat mimpi burukku tadi, aku merasa seperti pencuri saja jadinya. Aku sungguh berharap mimpiku itu hanya mimpi buruk belaka bukan suatu peringatan dari...siapapun pemilik asli Death Note itu.
777
Aku memandangi kue terbaru keluaran kafe Poirot dan jadi teringat akan kemungkinan signature yang ditinggalkan si pembunuh.
Setelah berminggu-minggu menyelidiki kasus dari Yohan bersama dengan Subaru, Caleb dan Lizzie, akhirnya mereka menemukan kesamaan pada korban. Sepotong kue ulang tahun selalu ditemukan di tiap rumah korban tetapi diletakkan di tempat yang tidak begitu menarik perhatian. Kadang kuenya seperti sudah setengah dimakan.
Menurut Lizzie, daripada sebuah birthday cake, sepertinya lebih pantas disebut deathday cake, mengingat para korban memang meninggal di hari yang telah dijadwalkan dewa kematian. Lizzie bertanya-tanya apakah kue yang ditinggalkan oleh si pelaku adalah sebuah permainan yang menggunakan birthday dalam Beyond Birthday jadi apa mungkin pelakunya juga memiliki pengetahuan manga Death Note?
Rasanya aku kurang bisa percaya jika ada psikopat yang membaca manga dalam keseharian mereka tapi siapa yang tahu...
Tetapi sepertinya signature yang berupa deathday cake itu benar-benar nyata karena dalam minggu saat kami menyelidikinya, ada jatuh korban baru lagi dan dirumahnya juga ditemukan sepotong kue.
Aku meringis saat mendengarkan penjelasan Caleb tentang korban terbaru. Menurutnya, penyiksaan terhadap korban makin lama makin sadis. Subaru melarangku melihat foto TKP atau foto hasil pemeriksaan mayat korban yang menurutnya tak baik bagi anak kecil sepertiku, membuatku merasa sedikit sebal karena aku bukan anak kecil tulen tetapi aku bersyukur juga karena aku sebenarnya tak tahan melihat yang gore. Menonton film yang ada adegan semacam itu saja membuatku mual dan biasanya aku hanya menutup mata di bagian yang mengerikan. Dan sekarang aku berada di dunia dimana adanya pembunuh sadis yang mampu melakukan kekejaman semacam itu dan itu adalah nyata, bukan palsu seperti di film-film.
KAMU SEDANG MEMBACA
walking on a dream
Fiksi PenggemarEva terbangun dalam tubuh gadis kecil di dunia manga DC. Bisakah dia bertahan hidup disana?
