Setelah kejadian tak terduga dimana aku dan Caleb terdampar ditempat semacam limbo, antara hidup dan mati, kami melakukan pertemuan darurat keesokan harinya. Lizzie tidak datang, kata Caleb, dia sedang di luar negeri untuk mengurus perihal Lucille dengan salah satu teman mereka. Caleb tidak bicara banyak soal itu, mungkin dia masih kurang mempercayaiku. Aku tak begitu mempermasalahkannya jika dia tak mau mengatakan sejujur-jujurnya karena aku pun demikian. Masih ada beberapa hal yang aku pun tak jujur sepenuhnya kepadanya.
Kali ini Amuro ikut serta, dia sedikit memaksa, sepertinya dia sangat mengkhawatirkanku. Aku berbicara kepada Caleb, meminta izin agar aku bisa memperkenalkan Amuro kepadanya.
"Dia bisa dipercaya." bujukku.
"Hanya karena dia salah satu karakter favoritmu bukan berarti kau bisa mempercayainya begitu saja, Eva." ujar Caleb sembari mendesah.
"Iya, aku tahu. Tapi Kak Amuro bukan orang jahat dan dia telah banyak membantuku. Aku mempercayainya secukupnya seperti kau mempercayaiku secukupnya." ujarku tanpa ada maksud menyindir.
Caleb tertawa kecil mendengar perkataanku. "Baiklah, aku mengalah, bawalah kekasihmu itu kepadaku." godanya.
Aku memutar bola mata akan godaannya yang tidak masuk akal soalnya walau jiwaku bukan anak kecil, jelas-jelas ragaku anak kecil. Perkataan semacam itu malah akan mensiratkan bahwa Amuro itu pedophile, dan dia jelas-jelas bukan red flag.
Dan disinilah kami sekarang, di sebuah kafe pilihan Caleb bersama dengan Amuro. Caleb menatap Amuro lekat-lekat dan Amuro juga melakukan hal yang sama, saling mengobservasi satu sama lain sebelum keduanya mendadak sama-sama tersenyum ramah dan bersalaman.
Aku mendesah melihatnya sembari menggeleng-gelengkan kepala dengan tingkah mereka yang agak dramatis. Agak mengingatkanku dengan interaksi Subaru dengan Amuro dalam manga di kasus konser dimana Vermouth menyamar jadi Azusa.
Setelah 'ramah-tamah'-nya selesai, Caleb menoleh padaku dan mulai menuturkan kejadian ditempat misterius dan orang-orang yang ditemuinya disana.
Aku mengangguk. "Disana aku bertemu pria bernama John Smith dan gadis bernama Seo-Kyung...dan kau melihat bahwa gadis itu...tidak selamat..." ujarku masih terganggu akan kejadian yang menimpa Seo-kyung.
Amuro tidak banyak bicara, hanya mendengarkan percakapan kami. Aku memang sudah mengatakan dia tak akan bisa banyak membantu karena hal yang menimpa kami bersifat supernatural namun dia tetap bersikeras ingin dilibatkan.
"Aku juga bertemu beberapa orang yang sepertinya sudah lama berada disana...dan mereka bertingkah sebagai pemburu. Ada seorang gadis, aku tak tahu siapa dia, dia membawah senjata busur panah, aku mendengarnya berkata bahwa sepertinya mereka bisa mencuri raga orang yang datang kesana seperti kita." tuturku.
Caleb mengerutkan dahi mendengarnya. "Kau tidak menanyakan bagaimana cara dia melakukannya?" tanyanya kepadaku.
"Aku sudah mencoba menanyakannya tapi dia lebih ingin memanahku daripada menjawabku." tukasku agak sedikit kesal.
Amuro menatapku lekat-lekat. "Kejadian bahwa kau hampir mati...sering sekali terjadi padamu."
Caleb mengangkat bahu. "Resiko sebagai jiwa illegal kurasa..."
"Jiwa illegal yah? Eva menjelaskan sedikit soal itu. Jadi...kau pun juga seharusnya sudah mati tapi karena kesalahan teknis para shinigami, kau dan Eva dan entah berapa banyak orang lagi jadi tetap hidup dan memiliki...esensi shinigami? Begitu?" tutur Amuro, wajahnya memperlihatkan apa yang dipikirkannya terhadap para shinigami tersebut, benar-benar tidak bertanggung jawab sekali mereka.
Aku tertawa renyah. "Iya, aku pun meragukan ke-efisiensi-an mereka." Aku jadi teringat Yohan yang lebih memusingkan surat kerja yang harus ditanganinya akibat orang-orang yang mati sebelum waktunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
walking on a dream
FanfictionEva terbangun dalam tubuh gadis kecil di dunia manga DC. Bisakah dia bertahan hidup disana?
