49. A Dance Before The Eclipse

243 14 0
                                        


Aloha.. Kembali lagi bersama penulis molor yang satu ini (mohon maaf sebesar-besarnya 🙏😔)

Ide emang sesusah itu ya, didapetin.. (Tiba2 curcol)

Walau udah ada outline untuk ending, tetap aja untuk merangkai outline dalam sebuah chapter itu.. butuh waktu dan masih menguras ide juga huhu...

Merasa bersalah banget sama pembaca yg udah kena PHP update berkali2😿 maafkan yaa🥲🥲

Ayo tetap kawal cerita ini sampai tamat, aku tau kalian pasti bisa✊!!

Sekian curcolnya, sok atuh, dibaca😘
Oiya, di chapter ini ada sedikit benang merah dengan chapter '35. Breakfast' yaa.. Kalau mau refresh ingatan soal benang merah itu, boleh dibaca dulu part yang kumaksud yaa..

Happy readinggg😻😻😻

Ah, Abercio mengerti sekarang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ah, Abercio mengerti sekarang. Lager Vaesen ... tidak pernah benar-benar berhenti bersekutu dengan Isabelle. Sebaliknya, ia malah memperluas aliansinya dengan orang-orang bodoh yang memiliki ambisi yang tidak sehat. Buktinya, Isabelle tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya--disekat oleh jeruji besi yang menghalangi Abercio untuk langsung menghabisi wanita itu-dan di belakangnya, terlihat Miss Annora yang dibayangi oleh Lager Vaesen dalam wujud setengah manusia, serta Nona Callie yang memandangnya datar.

Heeh.. rupanya rasa bersalah itu sudah hilang, huh? Callie kini akan lebih totalitas mewujudkan keinginannya-entah itu untuk menyelamatkan Villucia atau hal-hal klise lainnya, Abercio tak tahu dan tak peduli. Yang ia yakini sekarang, hanya dirinyalah yang bisa menghentikan orang-orang jahat di depannya ini. Tetapi ia mungkin akan membutuhkan sedikit bantuan.

"Anda tahu, tuan? Saya bertemu seseorang yang menarik sebelum ke tempat ini." Setelah beradu pandang-saling mengancam tanpa suara-cukup lama, Isabelle akhirnya bersuara dan menghentikan perang tersirat antara dirinya dan Abercio, si Pencuri Buku Takdir.

Tak mendapat tanggapan-seperti dugaannya, Isabelle melanjutkan, "Dia terlihat terlalu bersenang-senang saat kematiannya sudah begitu dekat, dan dia bahkan mengetahui hal itu. Tetapi masih saja keras kepala walau aku sudah menyuruhnya untuk menyerah."

Mengetahui siapa "seseorang" yang dimaksud Isabelle, Abercio akhirnya menaruh perhatian lebih pada gadis itu.

Isabelle tersenyum miring ketika pancingannya mulai bergerak. "Dia bahkan menarik rambutku karena tak suka dengan kenyataan yang kuucapkan." Ia cemberut memegangi sisi kepala yang sebenarnya tak terasa sakit sama sekali. "Tetapi apa anda tahu, Tuan? Anak malang yang menolak mentah-mentah untuk menerima takdir kematiannya itu ... tiba-tiba saja terlihat gusar saat mengetahui, kalau ia bisa menyelamatkan nyawa kekasihnya jika ia mati. Pfft... hahahahahh.."

Abercio menatap tajam si perempuan licik yang tertawa terbahak itu. Jika saja ia tak mengingat orang-orangnya yang turut ditawan di tempat jelek ini ... Abercio tentu sudah sejak tadi menghancurkan jeruji sihir yang mengurungnya dan akan ia lenyapkan Isabelle dalam sekejap mata.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 30 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Please, Take Me Home!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang