"disitu masih kotor" tunjuk angga pada sudut wc guru
"lo aja yang bersihin sana, anak bangat lo nyuruh nyuru gw" marah Aletta dan melempar pel yang dia pegang di depan angga
"yang dihukum siapa? Lo atau gw?" tanya angga
"lo mau gw laporin ke pak joshua kalau lo gak mau ngejalanin hukuman trus orang tua lo dipanggil lagi?" ancam angga
"lo kenapa bisa sebenci ini bangat sama gw? Padahal dulu waktu gw masih kelas sepuluh kita damai damai aja. Kalau gw bikin kesalahan bilang, jangan ngebenci gw sampe segininya" tegas Aletta dangan suara pelan
"..." diam, tak ada jawaban yang bisa diberikan oleh angga
"yang salah bukan lo, tapi yang di atas" setelah lama hening, angga angkat bicara lalu pergi meninggalkan Aletta
"lah? Kok pergi? Bodo amat, mending gw ke kelas" guman Aletta
Aletta tidak memikirkan apa yang dikatakan angga, yang penting sekarang dia bisa pergi dari toilet yang bauk itu. Saat berjalan di depan ruang osis, Aletta melihat ana yang sedang berdiri diatas kursi sedang membersihkan kaca dan rafka yang sedang mengamatinya
Aletta melangkahkan kakinya ingin masuk kedalam dan membebaskan ana dari hukumannya, tapi saat berada di ambang pintu. Ana terjatuh dan dengan refleks rafka menangkap ana, karena tidak memiliki persiapan. Rafka dan ana terjatuh di lantai berdua seolah olah sedang berpelukan. Mata mereka saling bertemu
Aletta yang melihatnya kaget dan menutup mulutnya yang terbuka. Ekspresi Aletta benar benar tidak bisa diartikan, tangannya mengepal kuat seolah olah ada benda berharga dalam kepalan tangannya
"a-Aletta" kaget ana ketika melihat Aletta berada di ambang pintu dengan satu tangan yang menutup mulutnya, dan tangan lainnya terkepal kuat
Buru buru ana melepaskan pelukannya dari rafka dan berdiri memberi penjelasan pada Aletta
"ta ini ga-"
"anjirrr, ini keren bangat. Kayak yang di wattpad wattpad gitu, huaaaaa gw baper lihatnyaaaa. Gw pikir yang adegan jatuh jatuhan itu cuma ada di wattpad, duh kok gw yang baper ya lihatnya?" potong Aletta dengan semangat 45
"ta?" ana tidak mengerti apa yang dimaksud Aletta, bukankah seharusnya dia cemburu? Bagaimanapun rafka suaminya, dan ana mantan rafka
"maaf ye kalau gw ganggu, lanjutin aja lagi. Na ntar ceritain ke gw ya kalau bagus gw bikin cerita di wattpad" Aletta mengedipkan satu matanya lalu mendorong ana masuk ke ruang osis dan menutup pintunya
"anjirrr gw baperrr, kayanya gw gak perlu baca wattpad lagi. Cerita ana aja udah lebih bagus dari wattpad. Btw tadi rafka keren bangatttt huaaa mereka emang cocok" guman Aletta dan buru buru pergi ke kelas
"kamu gapapa?" tanya rafka yang dari tadi diam. jujur saja, tadi rafka sempat berpikir Aletta akan membesarkan masalah ini dan melaporkan pada bundanya, ternyata tidak. Cewek emang susah ditebak apalagi ditembak
"i-iya, aku udah selesai bersihin ruang osis, aku mau kekelas dulu" pamit ana, entah kenapa rasanya menjadi sangat canggung. Dengan segala kekuatannya ana berlari menuju kelas
"dasar cewek aneh" kekeh rafka dengan senyum kecil. Entah siapa yang dipanggil 'cewek aneh' oleh rafka, tapi yang pasti orang itu adalah orang spesial di hatinya
💫💫💫
"seblak disini emang ter the best sih" ujar Aletta sambil terus memasukan setiap sendok seblak ke mulutnya
"iya, gila. Ini seblaknya pedas tapi ada manis manisnya juga" ujar ana memakan seblaknya seperti orang tidak pernah makan
"kalian itu kalau makan jangan sambil ngomong" ujar ola memakan seblaknya hati hati agar pewarna bibirnya tidak hilang
"habis!" teriak Aletta setelah memakan suapan terakhir
"anjir, kenyang bangat gw. Cabut aja yuk males gw kekelas" ajak ana
"nah bener tuh, mending kita ke mall bedak gw udah hampir habis nih" saran ola
"jangan ke mall ke pan-"
"Aletta" panggil al memotong pembicaraan Aletta
"eh al, ada apa al?" tanya ana
"padahal disini kita bertiga, tapi yang dipanggil cuma Aletta" guman ana yang masih dapat didengar oleh semua
"hehe sorry, hai samua" ulang al
"ngapain kesini al?" tanya Aletta basa basi
"gw mau ngundang lo secara khusus untuk hadir minggu depan di sma galaksi besok" jawab al
"ngapain?" tanya ana penasaran
"lomba basket" jawab al
'sma galaksi bukannya sma radit?' batin ola
"gw ikut boleh gak?" tanya ola bersemangat
"boleh, gw duluan ya jangan lupa datang ta" pamit al
"sipp" jawab Aletta mengangkat ibu jarinya
"oiya ta, tadi saran lo kemana?" tanya ana mengingat bahwa ucapan Aletta tadi belum selesai
"kita ke pan-"
"Aletta dipanggil pak gibran" potong seorang siswi
"tek" lanjut ola menyambung ucapan Aletta karena benar benar sudah geram
"gw ke ruang pak gibran dulu ya" pamit Aletta
"mau kita temenin gak?" tawar ola yang mendapat gelengan dari Aletta
Aletta berjalan menuju ruang pak gibran, tanpa dia sadari rafka melihatnya masuk, hanya sekedar melihat bukan mengikuti
"ada apa kak?" tanya Aletta to the point
"tadi si pelaku mengirim email ke alamat email sekolah" jelas gibran memberikan laptop yang lansung dibaca Aletta
'untuk sementara tidak akan ada korban, saya memberi kalian waktu sampai acara kemah. Sebelum acara kemah semua pelaku pembunuhan 1 tahun lalu harus ditangkap. Jika tidak maka seluruhnya akan menjadi korban'
Itu lah yang tertulis di sana
"kenapa gak langsung ditangkap aja?" kesal Aletta
"kita gak bisa tangkap dia tanpa bukti, dan alamat email si pengirim masih belum bisa dilacak" jelas gibran
"gak ada cara lain, kita haru ambil resiko" ujar Aletta
"maksud lo?" tanya gibran penasaran
"bentar, sekolah kita bakal ngadain acara kemah?" tanya Aletta
"iya, tapi yang tau hanya guru dan anggota osis" jawab gibran
"kapan acaranya?"
"malam kelulusan kelas 12"
"itu kesempatan terakhir kita, jika dimalam itu kita gagal. Maka permainan berakhir"
Rabu
26 januari 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Rafka Untuk Aletta (Tamat)
Teen Fictioncerita ini dilindungi undang undang follow dulu sebelum membaca :) ... Rafka aprilio Seorang ketua OSIS yang dingin dan tak tersentuh. Sosok yang tegas dengan rahang keras dan alis mata yang tebal. Seseorang yang masih terjebak dengan masa lalunya...
