Disinilah Yuju, dibelakang sekolah yang sepi. Hanya ditemani oleh seekor kucing kecil, tak ada siapapun selain mereka disini. Yuju menghela napasnya kasar sambil mengusap kepala kucing kecil tersebut.
"Kucing." Panggil Yuju hendak mengeluarkan unek-uneknya. "Kayaknya aku salah pindah ke sekolah ini. Semakin lama disini banyak masalah yang aku terima, ingin rasanya semua masalah cepat selesai ..."
" … Tapi bukannya selesai satu persatu malah makin nambah, apalagi sekarang Eomma udah tau kalau Jin anak kecil waktu itu. Pasti banyak hal yang ingin Eomma lakuin supaya aku dekat dengan Jin … dan Eomma gak tau kalau aku sama Jin lagi marahan. Entah sampai kapan aku memakai topeng buat wujudtin keinginan Eomma ... Aku ingin tolak permintaan Eomma tapi takut Eomma kecewa."
Kedua mata Yuju sudah digenangi air dan sekali kedip air itu turun. Dadanya sesak, sakit, ingin semuanya yang ia alami ini tidak terjadi. Tangan yang tidak mengelus kepala kucing dikepal kuat, menyalurkan rasa sakitnya.
"Kasih tahu aku cing kalau semua yang aku lakuin itu salah. Ketemu Jin waktu kecil, pindah sekolah kesini, masuk eskul dance, itu semua salah aku. Bilang kalau itu salah aku ... Hiks! … Dan sekarang Eomma tahu Jin, bukannya itu semua salah aku?"
"Meong." Jawab kucing didepannya entah kucing itu bilang semua salahnya atau bukan.
Yuju mengusap kasar air matanya, dirinya ingin menghentikan air mata ini tapi bukannya berhenti malah makin deras. Dadanya terasa makin sesak dan sakit ketika ia berusaha berhenti untuk menangis, entahlah dirinya bingung sendiri kenapa bisa sesedih ini hanya karena satu orang.
Karena air matanya tidak berhenti Yuju menghentikan kegiatannya yang berusaha untuk berhenti menangis. Dirinya membiarkan air mata dan isakannya keluar begitu saja, mungkin bisa melegakan dadanya yang sesak.
Kucing yang tadinya didepan Yuju, berdiri dan Selonjoran dikakinya sambil menatapnya. Yang ditatap pun makin banyak mengeluarkan air matanya. "Aku … hiks … aku gak tau … kamu natap aku sedih … atau prihatin, hiks. Tapi, makasih udah nemenin aku disini."
"Meong."
"Aaaaaa, Eomma! Tolongin aku."
Ditempat lain Nara membeli sebuah roti dan air minum, ia beli untuk Yuju takutnya belum makan. Soalnya dirinya melihat Yuju sangat sedih, jadi kemungkinan besar Yuju pasti belum makan.
Suasana kantin mulai sepi, lima belas menit lagi bel masuk berbunyi. Sebelum kekelas dirinya membeli roti, kalau ia sudah makan jadinya sampai sore perutnya masih kenyang. Tapi entah Yuju sudah makan atau belum, kalau nanti dia tidak terima ia akan memakan roti yang dibelinya.
"Nara! Aku lihat kayaknya Jin lagi marah ya sama Yuju?" Tanya Jina datang tiba-tiba dan mengagetkannya. "Kasihan, kamu beli roti? Bukannya udah makan? … Oh iya temen kamu belum ya, wah! Baiknya. Tapi sayang dia lagi kabur."
Nara mengepalkan tangannya mendengar Jina yang menjelek-jelekkan Yuju. Ia ingin membalas ucapan Jina, tapi dirinya tidak bisa seperti Yuju yang dengan mudah membalas perkataan orang yang menyakitinya.
"Kok diem? Apa karena Yuju gak ada? Kasihan."
"Jina! Cepet nanti keburu Jungkook ngeliat aku." Lirih Hina sambil menatap sekitar.
"Kenapa sih? Biarin aja Jungkook ngeliat kamu. Kali aja dia juga dukung kamu giniin Nara, kan Jungkookmu juga gak suka sama Yuju. Otomatis dia pasti gak bakal suka sama temannya."
"Bukan gitu … "
"Udah santai aja dia gak bakal ngeliat." Jina menatap Nara yang terdiam. "Masih gak mau buka suara? Apa pita suaranya ilang, entah kemana? CK, gak asik ngomong sama kamu … tapi aku seneng Jin marahan sama temen kamu itu, cupu."
Nara menatap dua orang yang tadi berbicara dengannya pergi melewati pintu kantin. Ia menghela napasnya kasar mencoba sabar menghadapi masalah satu ini. Dengan perlahan Nara berjalan, mengingat kakinya masih sakit ia tidak bisa terburu-buru untuk masuk kelas.
Akhirnya setelah perjuangan menaiki tangga tanpa bantuan Yuju, Nara sampai dikelas untung saja guru belum datang. Tak lama setelah dirinya duduk, seorang perempuan memasuki kelas.
Perempuan itu memulai pelajaran dengan meng-absen satu persatu muridnya, sampai nama Yuju dipanggil. Orang yang bersangkutan tidak menjawab, perempuan itu bertanya dengan murid lainnya dan tidak ada yang tahu. Tapi mereka tahu kalau dikantin tadi terjadi pertengkaran antara Yuju dan Jin.
"Permisi."
Seluruh orang dikelas menatap satu murid yang berdiri didepan pintu kelas. Murid yang ditanya-tanya sejak tadi baru muncul sekarang.
"Darimana kamu?"
"Kamar mandi Ssaem."
"Kamu tahu jam istirahat waktunya lama, kemana aja kamu? Kalau emang gak tahan bisa izin sama teman kamu jadi gak ada yang saling tanya kayak gini." Semprot perempuan itu kepada anak muridnya.
"Ne Ssaem, mian."
'ini guru, merasa bener aja. Minggu kemarin telat karena kesiangan dimaklumin sama muridnya, masa muridnya kekamar mandi gak dimaklumin.' batinnya jengkel dengan guru satu ini.
"Yasudah silahkan duduk, satu lagi panggilin Taehyung bilang kalau nanti akan ada kuis yang mau Ssaem berikan. Ini akan keluar diujian nanti." Salah satu murid pergi mencari Taehyung yang seperti biasa tidak mengikuti pelajaran. "Kalau gitu kita mulai pelajarannya."
💗💗💗
"Keterlaluan bukan? Padahal dia cuman kasih makanan ke Hyung tapi dibalas dengan cara yang gak baik."
"Diam Hyung, kau suka dengannya hah? Hyung ada dipihak siapa? Kenapa sampai dibela-bela."
"CK! Bukan gitu masalahnya ya gak sopan aja gitu kesannya."
"Terserah kau Hyung, kasihan Jin Hyung lagi mumet dia."
Perdebatan antara Jungkook dan Taehyung tak dipikirkan dua orang dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan geng Bangtan yang terdiri dari empat anggota. Setelah perdebatan Tae dan Jungkook semua orang terdiam, tidak ada yang membuka suara.
Bel pulang sudah berbunyi dari setengah jam yang lalu dan mereka sedang diparkiran menduduki motor masing-masing.
"Meong grrrrr … grrrrr."
Seekor kucing datang sambil mengelus kaki Jin dengan badannya. Awalnya ia tidak menghiraukan tapi dirinya merasa asing dengan kalung yang kucing tersebut pakai. Jin berjongkok dan melihat kalung kucing didepannya dan ternyata benar, Kalung ini pasti punya Yuju yang dipakaikan dikucing ini.
Jin mengambil kulung itu dari seekor kucing, entah dirinya tidak bisa kalung itu hilang sebelum benar-benar tau siapa pemiliknya. Walaupun sudah dibilang Yuju, tapi Jin masih ragu
"Kalung itu? Bukannya udah Hyung kasih ke Yuju, kenapa bisa ditangan Hyung?" Tanya Jungkook melihat Jin memegang kalung yang sudah dia buang sejak istirahat.
"Hyung nyuri kalung itu dari Yuju?" Tanya Namjoon asal sampai memelototkan matanya.
"Bukan tadi ada kucing yang pakai kalung ini kemungkinan Yuju yang pakaikan." Semuanya mengangguk ngerti.
#=#
Kayaknya aku jarang ngelibatin Namjoon ngobrol sama yang lain ya?😅 Namjoon sering muncul nama aja 😂 Keseringan Jungkook sama Taehyung. Nanti deh part selanjutnya kemungkinan ada Namjoonnya.
Jan lupa vote 🌟dan komen 💬
Pen kayak orang"😄
SPAM NEXT??
Kali aja bakal rame kan 🤗
____
Eomma : ibu
Ssaem : guru
Ne : iya
Mian : maaf
Hyung : panggilan anak laki-laki kepada kakak laki-laki
Publikasi
Minggu, 10 April 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
The Dance Jinju (End)
JugendliteraturJika kau suka dance, kau akan hanyut dengannya. Tapi, jika kau tidak suka dance, kau akan dibuat tersiksa olehnya. ~Kim Seok Jin (Jin)~ Aku datang kesini bukan untuk membuatmu kalah. Tapi, agar kau bisa menjadi seorang dancer yang lebih baik lagi...
