"OPPA!"
Yuju bangun dari tidur lalu berlari membuka pintu yang setengah terbuka dengan kasar. Napasnya tersegal-segal dengan tatapan memancar amarah. Saram baru saja mengganggu tidurnya, padahal ini hari libur. Ia hanya ingin tidur tenang setelah memenang kan lomba kemarin. Dirinya berjalan ke samping dimana terdapat pintu yang menjadi tempat kediaman Saram.
"OPPA KELUAR! AKU DOBRAK PINTUNYA!" Teriak Yuju sangat nyaring membuat orang yang berada didalamnya menutup telinga dengan bantal.
"Ada apa sih teriak-teriak?" Tanya seorang wanita yang menaiki tangga sambil membawa keranjang pakaian. Lee Sooha.
"Eomma, Oppa ganggu tidur aku." Rengek Yuju menghentakkan kakinya kesal.
Sooha meletakkan keranjangnya diatas meja lalu menatap Yuju dengan berkacak pinggang. Ia menatap pintu yang tertutup didepannya. "Saram! Ayo nak minta maaf sama Yuju."
"Ani!" Teriak Saram.
"Saram." Panggil Sooha kali ini dengan suara yang lembut.
Bunyi kunci dibuka terdengar, Saram membuka pintu sedikit. Terlihat ia masih memakai baju tidur, Saram menundukkan kepalanya menatap Ibunya yang menatapnya lembut tapi tegas.
Sooha melipat kedua tangannya. "Ayo minta maaf. Kamu udah kuliah masa kayak gitu sama adiknya. Ayo, kasih contoh yang baik jangan kayak gitu."
"Ne, mian. Lagian anak perempuan tidurnya kuat banget. Gak baik tau." Nasihat Saram.
"Anak laki kok masih pake baju tidur? Gak malu sama anak kecil." Balas Yuju.
Saram memelototkan matanya terkejut. "Yak! Kamu copy paste ucapan Oppa." Saram sungguh tidak terima.
Sooha menurunkan tangannya. "Nah, daripada tidur lagi mending ke pasar. Beliin Eomma bahan dapur."
"Ah Eomma, kemarin kan aku menang lomba. Sehari aja aku istirahat." Rayu Yuju.
"Gak ada! Makanya ini hari libur kalian bantu Eomma beli bahan-bahn didapur."
"Eomma-"
"Kalau gak mau beli gak usah makan." Sooha memalingkan wajahnya membuat kedua anaknya mendengus malas.
"Yaudah Yuju siap-siap dulu." Ucap Yuju dengan malas berjalan ke kamarnya.
Sooha menatap putranya. "Oke aku juga." Setelah itu Saram menutup pintu, membuat Sooha menghela napas.
《■》
Diruang tamu Yuju sudah rapi, ia duduk dengan sabar menunggu Saram yang belum keluar dari kamar. Ia menatap jam tangan yang dipakai, sudah dua puluh menit dirinya menunggu. Yuju menghela napas kasar, tanpa sengaja melihat remot ia mengambil dan menyalakan TV. Semakin lama dirinya tidak bisa diam, menunggu sungguh sangat lelah.
"OPPA! PALLI!"
Saram yang baru turun menutup telinganya mendengar teriakan Yuju. "Ne! Oppa turun! Yang sabar jadi cewek!"
Yuju mencebikkan wajahnya, kesal dengan ucapan Saram. "Emang aku cewek, kalo cowok udah jalan dari tadi."
"Ayok ... ke mobil duluan Oppa mau ambil kunci."
Dengan cepat Yuju berlari ke mobil dan masuk. Tak berapa lama Saram datang dengan kunci yang diputar-putar di jarinya, tangan satunya dimasukkan ke dalam saku.
"Sok cool! Gak ada cewek ngapain bergaya."
"Tapi ganteng kan?"
"Ish."
"Pake sabuk pengaman, sayang."
Yuju merasa bulu kuduknya meremang, Saram selalu memanggilnya seperti itu disaat kesal. "Jijik!" Umpat Yuju sambil memakai setbealtnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Dance Jinju (End)
Teen FictionJika kau suka dance, kau akan hanyut dengannya. Tapi, jika kau tidak suka dance, kau akan dibuat tersiksa olehnya. ~Kim Seok Jin (Jin)~ Aku datang kesini bukan untuk membuatmu kalah. Tapi, agar kau bisa menjadi seorang dancer yang lebih baik lagi...
