Yena tidak pernah berpikir dirinya akan jatuh hati pada seorang kakak kelas super dingin dan misterius bernama Ravn.
Dibalik sikap dingin Ravn, ternyata laki-laki itu memiliki masa lalu yang cukup kelam. Mampukah Yena meluluhkan hati Ravn? Apakah Ye...
Yena menggigit bibir bawahnya saat mengetahui supirnya tidak bisa menjemput dirinya di hari Selasa siang hari itu. Hujan lebat lagi-lagi melanda sekolahnya. Mobilnya mogok karena nekat menerobos banjir di depan perumahannya.
Yena menoleh ke kanan dan ke kiri, tampak kebingungan.
Sekarang gue harus balik sama siapa? pikir Yena.
Ketiga temannya sedang ada rapat, sedangkan rapat Yena selesai lebih dahulu.
Yena membuka aplikasi ojek onlinenya. Sialnya, saldo di akunnya tersebut tersisa 0 rupiah. Ia kembali merutuk dalam hati. Sebenarnya, di saat-saat seperti ini biasanya Ravn akan menawarinya tumpangan, atau biasanya lebih terkesan memaksanya pulang bersamanya.
Akan tetapi, semenjak kejadian Jumat minggu kemarin, Ravn dan Yena tiba-tiba berjarak. Terasa ada jurang pemisah di antara kedua orang itu. Yena beberapa kali bertemu Ravn siang tadi di sekolah, tetapi ia tak menyapa atau menunjukkan senyum di wajahnya. Ia hanya berjalan melewati Ravn seolah tak mengenal kakak kelasnya itu.
Perasaannya belum juga membaik padahal sudah 4 hari berlalu. Mungkin ini karena Yena tak pernah jatuh hati kepada orang lain sebelumnya, jadi ini terasa menyakitkan untuk Yena.
Seseorang menepuk pelan bahu kiri Yena. Yena langsung menoleh ke kiri sambil sedikit berjengit kaget.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Belum pulang?"
Setelah beberapa hari tidak melihat sorot mata tajam itu, Yena akhirnya kembali tersihir oleh tatapan Ravn. Jantungnya berdebar-debar sangat cepat sampai nafasnya terasa berat.
Orang sempurna kayak gini pasti enggak tahu rasanya patah hati. Kan yang suka sama dia banyak, pasti bukan cuma gue, pikir Yena lalu mengalihkan pandangannya tanpa menjawab pertanyaan Ravn.
"Lo jangan berdiri disitu, nanti kena air hujan," suruh Ravn.
Yena mencueki kakak kelasnya itu. Ia hanya tidak mau dinding pertahanan yang mulai ia bangun itu runtuh kembali hanya karena ia tak bisa menahan perasaannya pada Ravn yang jelas-jelas hanya menganggapnya teman.
"Na." Ravn mengernyit. "Lo kenapa, sih? Dari kemarin enggak mau ngomong sama gue."
Oh, dia sadar soal itu, pikir Yena.
Ravn memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya.
"Lo juga jadi dekat sama Leedo," ujar Ravn.
"Lo mulai menerima dia, ya?" tanyanya.
Apa urusan lo? tanya Yena dalam hati.
"Lo harus tahu, Leedo seneng banget karena lo jadi dekat sama dia," ucap Ravn lagi.
"Gue lihat lo dan Leedo Minggu kemarin di cafe gue. Mau kemana?" tanya Ravn tiba-tiba dan sukses membuat Yena menatap Ravn kaget.