Hari kembali berganti. Hari Jumat siang hari ini terasa lebih panas dari hari-hari sebelumnya. Namun, hal tersebut tak menghentikan ONEUS untuk tetap bermain basket di bawah teriknya sinar matahari.
Waktu baru menunjukkan pukul 12 siang. Jam istirahat baru saja dimulai dan ONEUS sudah berkumpul di tengah lapangan sesuai janji mereka di hari Kamis kemarin.
Ravn memantul-mantulkan bola basket ke lapangan hingga menciptakan suara menggema di sekeliling lapangan.
"Rav, you sure you wanna play?" tanya Xion melihat Ravn sering kali menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Yea, a hundred percent," jawab Ravn sambil berusaha tersenyum.
Xion mengedikkan bahunya. Ia kemudian mengambil ancang-ancang untuk siap-siap merebut bola basket milik Ravn dari tangan laki-laki itu.
Permainan pun dimulai. Ternyata ONEUS cukup mampu menarik perhatian banyak siswa-siswi yang tengah berada di kantin lantai 6. Para murid menonton dari lantai tersebut sambil sesekali bersorak jika salah satu dari anggota ONEUS berhasil memasukkan bola ke ring basket di salah satu sisi.
Tidak hanya ramai di lantai 6, pinggir lapangan basket pun ikut ramai. Mendadak suasana terasa seperti tengah ada turnamen basket. Padahal ONEUS bermain hanya sekadar untuk membunuh waktu dan memanfaatkan waktu bersama.
"KAK RAVN SEMANGAT, KAK!!!"
Disaat Ravn tengah berlari sambil mendribble bola dan mendengar teriakan tersebut, fokusnya pun terpecah. Ravn berhenti berlari dan membiarkan bola basket tersebut menggelinding ke pinggir lapangan. Ravn menengok ke arah kanan dengan alis menyatu.
Yena? pikir Ravn.
"Rav?" Seoho menghampiri Ravn. "Kenapa?"
"Yena...," gumam Ravn pelan.
"Ha?" Saking pelannya suara Ravn, Seoho tak bisa mendengar perkataan laki-laki itu.
"Yena...," ulang Ravn agak kencang.
"Yena? Apaan sih, lo?" tanya Seoho heran.
"Gue... gue dengar suara Yena tadi, Ho," ujar Ravn lagi-lagi dengan tatapan terluka.
Seoho menghela nafas panjang dan menepuk bahu temannya itu.
"Rav... Forget her," bisik Seoho.
Ravn menepis tangan Seoho dan menyipitkan matanya ke pinggir lapangan.
Sialnya, bukannya menemukan sosok Yena, Ravn malah menemukan wajah Hayoung dengan senyum terbuka lebar tengah menyoraki namanya.
"Kok... dia? Tadi disana Yena," tanya Ravn terlihat kaget.
"Lo minum dulu, deh. Ini lagi panas lo mungkin dehidrasi makanya halu!" suruh Seoho.
Ravn dengan cepat menarik kerah seragam Seoho dan menatap temannya itu dengan tatapan marah.
Suasana lapangan menjadi tegang setelah Ravn menarik kerah seragam Seoho. Beberapa siswi mulai berhamburan ke dalam sekolah sebelum perkelahian terjadi.
"Hey hey hey!" tegur Hwanwoong yang berlari disusul Keonhee, Leedo, dan Xion.
"Don't... don't say that," pinta Ravn kepada Seoho.
"Rav, lepas," suruh Keonhee sambil memegangi pergelangan tangan Ravn.
"Gue... gue gak halu... Gue beneran denger Yena tadi," ujar Ravn.
"Rav, Yena udah enggak ada," balas Seoho.
Ravn terlihat menahan air matanya. Seoho merasakan kepedihan laki-laki itu. Perlahan Seoho melepaskan genggaman tangan Ravn pada kerah seragamnya dan mengusap punggung laki-laki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ice Cube Lover || ONEUS RAVN
FanfictionYena tidak pernah berpikir dirinya akan jatuh hati pada seorang kakak kelas super dingin dan misterius bernama Ravn. Dibalik sikap dingin Ravn, ternyata laki-laki itu memiliki masa lalu yang cukup kelam. Mampukah Yena meluluhkan hati Ravn? Apakah Ye...
