26°C

68 8 0
                                        

Yena mengeratkan jaketnya sembari melangkahkan kakinya di lobby utama sekolahnya. Senin pagi hari itu langit seolah paham isi hati Yena, mendung dan gelap. Yena tak berani menengadahkan kepalanya. Otaknya terus menerus memutar kejadian hari Sabtu kemarin. Hal itu menjadi trauma tersendiri untuknya.

Kenapa Papa mesti masukin aku ke sekolah begini, sih? Tahu gitu dulu aku enggak usah ikut pindahan, pikir Yena.

Beberapa kakak kelas berdiri di sampingnya, mengantre untuk menaiki lift.

"Eh, eh, itu Yena, kan?"

"Kayaknya iya, deh."

"Hahaha, ngapain coba sok-sok make jaket kayak gitu?"

"Itu kemarin dia kenapa, sih? Kayak kerasukan."

"Tau, cuma disuruh ngomong sama Hayoung doang sampe begitu."

"Konsekuensi gak sih kalau dideketin modelan Leedo? Salah sendiri caper."

"Tapi lo pada liat lengannya gak sih kemarin? Kenapa deh?"

"Eh, iya tuh. Serem banget gila. Kek habis jatuh dari mana gitu."

"Gak ngurus deh gue. Pokoknya Sabtu kemaren tontonannya seru abis."

"Mau gak nyuruh dia teriak lagi? Hahah!"

Yena menghela nafas panjang. Ia sudah tahu akan berakhir begini. Ia benar-benar merindukan sekolah lamanya yang bak surga dunia itu. Sekarang ia harus menjalani hari-harinya dengan cibiran dari kakak kelasnya sampai mereka lulus dan Yena menjadi senior di sekolah.

Pintu lift terbuka, Yena melangkah masuk mendahului kakak kelas yang berbaris di sampingnya.

Bukannya ikutan masuk, para kakak kelasnya itu malah berdiam diri dan menatap Yena aneh. Merasa risih, Yena akhirnya memencet tombol untuk menutup pintu lift tersebut dan naik ke lantai 6.

Yena ingin menangis. Namun, ini masih pagi. Ia tak mau membuat matanya jadi bengkak seharian dan malah tak bisa belajar.

Pintu lift terbuka di lantai 6. Yena melihat Yesoo dan kedua temannya sudah menunggu Yena di depan lift.

"Na! Oh my God, gue kira lo enggak datang!" ujar Saemi sumringah. Ia menarik Yena keluar dari lift dan memeluk gadis itu.

"Lo enggak apa-apa, kan, Na?" tanya Yeona dengan nada khawatir.

Yena tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam tanpa membalas pelukan Saemi.

"Na, tadi kakak kelas di bawah ada ngapa-ngapain lo, gak?" tanya Yesoo.

Dengan berat hati, Yena melayangkan senyumnya agar terlihat baik-baik saja.

"Guys, gue enggak apa-apa. Geokjeonghajima," katanya.

Saemi melepas pelukannya. 

"Gimana gak khawatir, Na? Line lu enggak dibalas 2 hari. Kita pikir lo kenapa," balas Saemi.

"Gue cuma enggak buka hape aja," kata Yena.

"Tapi lo baik-baik aja, kan, Na? Lo diapain? Bilang sama gue," suruh Yesoo.

"Kalian kenapa, deh? Gue enggak apa-apa," ujar Yena. "Kenapa kalian kok tiba-tiba nanya gitu?"

"Na?" panggil Yeona.

Yena berdeham.

"Video lo kesebar di base sekolah," bisik Yeona.

Yena mengernyit.

"Vi-video apa?" tanyanya.

Yeona menatap Yena takut-takut lalu menyerahkan ponselnya. Video tersebut adalah rekaman hari Sabtu kemarin. Dimana Yena terduduk di tengah taman dan berteriak keras hingga memekakkan telinga. Entah siapa yang mempublikasikannya, itu jelas sangat memalukan dan melanggar privasi.

Ice Cube Lover || ONEUS RAVNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang