Ravn diam mematung sambil memandangi sebuah ruangan di hadapannya. Seoho yang berada di belakang laki-laki itu juga tak bisa berbuat banyak. Ia hanya memberikan temannya itu waktu untuk mencerna semua kenyataan yang tiba-tiba menghantam Ravn itu.
"Y-Yena ada disini?" tanya Ravn pelan.
Seoho berdeham. Ia kemudian membalikkan badannya, tak ingin melihat Ravn membuka pintu ruangan tersebut.
"Lo cepat masuk. Gue dan Leedo mau ngurus administrasi," suruh Seoho.
Suara langkah kaki Seoho yang menjauh terdengar dengan jelas di indera pendengaran Ravn. Jujur saja, Ravn masih tidak percaya bahwa ini semua adalah kenyataan. Masih belum terbesit rasa penyesalan di hatinya, yang ada hanya penyangkalan di pikirannya.
Ravn menarik nafas dalam-dalam dan ia perlahan membuka pintu ruangan tersebut.
Sesampainya di dalam, Ravn melihat sebuah ranjang pasien yang diatasnya ditutupi sebuah kain putih. Ravn bisa melihat dengan jelas siluet seseorang dari balik kain tersebut.
Pelan-pelan Ravn berjalan mendekati ranjang tersebut, lalu dibukalah kain penutup tersebut sehingga Ravn bisa melihat dengan jelas wajah seorang gadis yang mulai memutih dengan kedua mata tertutup.
Ravn membekap mulutnya. Jantungnya berpacu sangat cepat dibarengi dengan langkah mundur sedikit demi sedikit.
Enggak... ini enggak benar... Ini pasti cuma mimpi, pikir Ravn.
Setelah menenangkan dirinya, Ravn memberanikan diri untuk menyentuh wajah gadis itu, Yena, yang sudah mendingin.
"Na... Na, bangun, Na," bisik Ravn. Air matanya sukses mengalir di pipi dan batang hidungnya.
"Yena bangun... Lo janji enggak bakalan kemana-mana sama gue... Lo janji bakalan selalu ada di samping gue... Kenapa sekarang lo pergi?"
Dada Ravn terasa sangat nyeri, seperti ada panah yang menembus punggungnya.
"Ini bukan yang gue mau, Na... Lo tahu, kepala sekolah udah bilang lo enggak bersalah. Jadi, lo bisa kembali sekolah kayak dulu. Ketemu gue, ketemu temen-temen lo, kita bisa kayak dulu, Na."
"Gue minta maaf... Gue tahu minta maaf gue ini sia-sia, tapi selama gue masih bisa bilang ya gue akan bilang. Gue minta maaf karena gue udah sangat bodoh, Na. Gue enggak sadar lo sesayang itu sama gue. Gue enggak sadar lo itu cewek rapuh yang butuh sandaran gue. Gue bego karena udah ngebiarin lo tinggal di rumah yang gak layak disebut rumah itu. Maaf lo jadi harus nanggung semuanya ini, Na," ujar Ravn panjang lebar.
Penyesalan demi penyesalan terus saja datang ke hati Ravn. Ia seperti tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Na... lo begini karena gue. Gue minta maaf, Na... Gue bener-bener nyesel," ucap Ravn.
"Buka mata lo, ya, Na? Kita ulang semua cerita kita... Oke? Gue sayang lo juga, Na. Maaf gue selalu mengelak kalau temen-temen gue bilang gue suka sama lo. Ya, gue suka sama lo dan gue sayang sama lo lebih dari apapun. Tapi ego gue terlalu tinggi dan akhirnya lo berakhir begini, Na. Gue minta maaf," lanjut Ravn.
Ravn menarik nafasnya dalam-dalam. Sesekali ia mengusap air mata yang mengalir di dagunya.
"Yena? Kenapa lo enggak buka mata lo? Na... Jangan begini... Please," mohon Ravn yang sebenarnya ia tahu akan sia-sia.
"Lo boleh musuhin gue, Na. Lo boleh benci gue, marahin gue, dan lain-lain asal lo buka mata lo, Na. Ayo... buka," katanya lagi.
Ravn menangis tersendu-sendu. Beruntung di dalam ruangan tersebut tak ada orang lain selain dirinya. Ia bisa menangis sepuasnya, meluapkan segala emosi yang tersimpan di dalam dirinya, dan menyesali segala keputusan yang ia buat di masa lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ice Cube Lover || ONEUS RAVN
FanfictionYena tidak pernah berpikir dirinya akan jatuh hati pada seorang kakak kelas super dingin dan misterius bernama Ravn. Dibalik sikap dingin Ravn, ternyata laki-laki itu memiliki masa lalu yang cukup kelam. Mampukah Yena meluluhkan hati Ravn? Apakah Ye...
