Lima hari telah berlalu. Ravn berdiri di depan cermin kamarnya. Sambil mengenakan jaket berwarna hitam, Ravn merapikan rambutnya yang mulai memanjang.
Laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Perasaannya gugup, ia sendiri tak bisa jelaskan mengapa.
Ravn membuka laci mejanya dan mengambil kunci motornya. Setelahnya, ia mengambil tas selempangnya yang berisi dompet lalu menuju ke basement apartemennya.
Ravn menyalakan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan sedang menuju suatu perumahan yang sudah lama tak ia lihat. Rasanya asing, padahal ia sudah pernah mengunjunginya walau tidak sering.
Perjalanan ke perumahan tersebut memakan waktu 20 menit karena jalanan yang agak ramai dan macet. Ravn memperlambat laju motornya saat mulai mendekati sebuah rumah yang sudah sangat ia rindukan.
Namun, setibanya di rumah tersebut, Ravn malah dibuat kebingungan dengan garis polisi yang terikat di pagar rumah tersebut.
"What the hell is going on?" gumam Ravn.
Di atas motornya, Ravn merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya. Ia menghubungi sebuah akun Instagram yang sudah lama tak dibukanya. Kalau saja Instagram adalah sebuah benda, mungkin akun tersebut sudah berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba.
Ravn menempelkan ponselnya di telingan kanannya, sayangnya tak ada jawaban. Ponsel orang yang ia hubungi tampaknya tidak aktif. Bahkan akun yang Ravn hubungi tersebut menunjukkan akun tersebut tak aktif selama beberapa minggu terakhir.
Ravn mendengus panjang. Kepedihan menggerogoti dadanya. Ada perasaan bersalah yang mengelilingi pikirannya.
"Gue harus kemana...," tanyanya pada dirinya sendiri.
Akhirnya Ravn memutuskan untuk pergi ke cafe miliknya. Ia memacu motornya lagi untuk pergi keluar dari perumahan tersebut.
Di tengah perjalanan, mata Ravn menangkap sesosok orang yang tak asing di matanya. Melihat orang itu, Ravn sontak menghentikan motornya dan mematikan mesinnya. Dengan cepat ia turun dari motornya dan berlari ke orang tersebut.
"Yena!"
Orang yang terduduk di kursi roda dengan infus di tangan kirinya itu menoleh. Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki yang tengah berlutut di depan orang itu ikut menoleh ke arah suara Ravn.
"Seoho...?" gumam Ravn tak percaya.
Orang yang tak lain adalah Yena itu langsung mengalihkan pandangannya. Tak ingin menatap wajah Ravn yang sebenarnya sangat ia rindukan itu.
"I-ini... Kenapa?" tanya Ravn terbata-bata.
Seoho berdiri dan berhadapan dengan Ravn.
"What are you doing here?" tanya Seoho tak suka.
Ravn terdiam.
"You're not suppose to be here," sambung Seoho.
"Ho... What happened? Kenapa Yena di kursi roda? Kenapa dia diinfus?" tanya Ravn bertubi-tubi. Dadanya terasa sakit, seperti ditinju kenyataan.
"Apa peduli lo?" balas Seoho ketus.
Ravn menarik kerah baju Seoho, menatap laki-laki itu tajam.
"Tell me what happened, Ho. Don't make me punch your fucking face," suruh Ravn.
"Then do it. Punch me," ucap Seoho.
Ravn mengernyit bingung. Seoho menepis tangan Ravn kasar lalu mundur beberapa langkah.
"Was this... Yena's step brother did this...?" tebak Ravn. Suaranya memelan.
"What a surprise you know about this," sahut Seoho.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ice Cube Lover || ONEUS RAVN
FanfictionYena tidak pernah berpikir dirinya akan jatuh hati pada seorang kakak kelas super dingin dan misterius bernama Ravn. Dibalik sikap dingin Ravn, ternyata laki-laki itu memiliki masa lalu yang cukup kelam. Mampukah Yena meluluhkan hati Ravn? Apakah Ye...
