34°C

51 7 0
                                        

Sepulang sekolah, ONEUS berkumpul di sebuah restoran cepat saji di dekat sekolah mereka. Seperti sudah menjadi kebiasaan, restoran tersebut selalu ramai oleh murid-murid SMA yang ingin mengisi perut mereka yang keroncongan setelah nyaris 8 jam belajar.

Ravn mengaduk-aduk milkshakenya. Pikirannya masih dipenuhi pernyataan Seoho saat jam istirahat tadi. Ia masih mencoba mempercayai perkataan temannya itu, tetapi rasanya sangat sulit.

"Do, lo ngebiarin base sekolah rame karena lo?" tanya Keonhee lalu melahap wafflenya.

Leedo tampak cuek. Ia hanya mengedikkan bahunya dan lanjut menyuap makanannya.

"Yena kan pernah rame di base sekolah, Do. Siapa tahu dia enggak nyaman," ucap Hwanwoong. "Mending lo suruh anak OSIS take down deh. Takut Yena kenapa-kenapa."

"Yena biasa aja," sahut Leedo.

"Gimana lo bisa tahu?" tanya Xion.

"Dia enggak ada protes ke gue," jawab Leedo.

"Mungkin dia belom tahu. Kan sekarang anak-anak pada enggak berani sama dia. Gatau karena apa," balas Seoho.

Ravn tersenyum diam-diam. Ia ingat sekali hari dimana ia nyaris membuat babak belur sang ketua OSIS hanya agar Yena tidak lagi menjadi bahan perbincangan. 

Ya, Ravnlah yang menyuruh sang ketua OSIS untuk mengawasi gerak-gerik siswa-siswi di sekolah. Siapa pun yang berani macam-macam dengan Yena akan langsung berurusan dengan Ravn.

Akan tetapi, Ravn tetap tutup mulut. Bahkan ia yakin Yena tidak mengetahui hal ini. Lebih baik begini saja. Ia takut Yena malah merasa berhutang padanya.

"Lo kenapa?" tanya Hwanwoong saat melihat Ravn tersenyum kecil sambil menatap minumannya.

Ravn tersadar dari lamunannya dan menggeleng pelan, ia menyeruput minumannya lagi.

Seoho yang duduk di samping Ravn menatap laki-laki itu iba. 

Gue tahu lo sebenernya punya perasaan sama Yena, Rav. Cuma lo gak mau bikin pertemanan lo hancur hanya karena Yena, kan? pikir Seoho.

Seoho mengulurkan tangannya dan mengusap punggung laki-laki itu.

"Apa?" Ravn mengernyit.

"Gak apa. Takut kesedek lonya," ucap Seoho beralasan.

"Gue bukan bayi," ketus Ravn.

"Jadi, jawaban Yena apa, Do?" tanya Keonhee tiba-tiba.

Leedo nyaris tersedak mendengar pertanyaan Keonhee itu. Ia segera menyambar es lemon teanya dan menenggaknya hingga setengah gelas.

"Makanya, jangan buru-buru ngomong," kata Xion.

Leedo berdeham. "Apa kata lo tadi, Hee?"

"Jawaban Yena, apa?" ulang Keonhee.

Leedo menghela nafas panjang. Raut wajahnya terlihat sedih.

"She said..."

I thought we're friends, Kak. Janji kita kan waktu itu temenan.

"Do?" Hwanwoong terlihat khawatir.

Leedo menunjukkan senyum palsunya. "Enggak."

"Apa?"

"Dia bilang enggak."

"Damn," gumam Xion.

"Kapan dia bilangnya? Tadi? Kemarin?" tanya Seoho.

"Tadi. Di chat," jawab Leedo lalu dengan santai melahap makanannya.

Oh, Yena enggak ada rasa sama Leedo, pikir Ravn. Terus kenapa waktu itu jalan sama Leedo? Kenapa mau diantar pulang sama Leedo?

Ice Cube Lover || ONEUS RAVNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang