Yena tidak pernah berpikir dirinya akan jatuh hati pada seorang kakak kelas super dingin dan misterius bernama Ravn.
Dibalik sikap dingin Ravn, ternyata laki-laki itu memiliki masa lalu yang cukup kelam. Mampukah Yena meluluhkan hati Ravn? Apakah Ye...
Yena berhenti mengusap telapak tangannya saat suara lantang seorang laki-laki memanggilnya.
"Na, cepet, Na!" bisik Yeona.
"Semangat, ya! Jangan gugup!" sahut Saemi.
"Santai aja. Kakelnya enggak ada yang bangsat-bangsat sih kalau gue lihat," ujar Yesoo.
Yena menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dengan langkah gemetar, Yena berjalan masuk ke dalam ruangan kelas 10 IPA 3, tempat wawancara penerimaan panitia pensi sekolah diadakan.
Ya, hari sudah berganti menjadi hari Senin. Yena juga tidak mengerti mengapa hari terasa begitu cepat, rasa baru kemarin Ravn mengajaknya berjalan-jalan bersama padahal hanya berakhir pergi ke taman yang tengah mengadakan bazaar.
Yena duduk di salah satu kursi yang ditunjukkan oleh kakak kelasnya. Di hadapannya ada 2 orang kakak kelas laki-laki serta 1 orang kakak kelas perempuan yang tidak ia kenal.
"Oh, lo Yena gebetan Leedo, kan?" tanya seorang kakak kelas laki-laki yang tengah menulis sesuatu di atas kertas.
Yena hanya menyengir, tidak berani menjawab. Takutnya jawabannya malah keliru dan membuat dirinya terpojokkan.
"Sstt, jangan gitu. Gak ada sangkut pautnya sama wawancara," tegur teman laki-lakinya.
"Oke. Kita mulai wawancaranya, ya-"
"Jamkkanman."
Ketiga kakak kelas di depan Yena itu menatap kaget ke arah belakang Yena. Yena sebenarnya ingin menoleh, namun ia terlalu gugup untuk peduli dengan apapun yang ada di belakangnya.
"Nam, lo panggilin peserta wawancara aja. Divisi humas kosong," suruh orang itu.
Kakak kelas perempuan itu mengangguk lalu segera beranjak dari kursinya, mengikuti perintah orang itu.
Orang itu berjalan ke hadapan Yena dan duduk di kursi kosong yang berada dekat dengan gadis itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gue yang interview dia," ujar Ravn.
Yena sontak menahan nafasnya. Berada sedekat ini dengan Ravn? Rasanya seperti mimpi dan ia tidak akan pernah mau bangun dari mimpi itu.
"Tapi, Rav-"
"Penilaian tetep di tangan lo. Gue cuma interview."
Kedua laki-laki itu mengangguk. Sepertinya mereka terlalu takut untuk mendengar ribuan kata-kata mutiara yang sudah Ravn siapkan kalau-kalau mereka menolak.
"So, kita mulai darimana?" tanya Ravn.
Laki-laki di samping Ravn menyerahkan sebuah kertas berisikan daftar pertanyaan.