Yena nampak berdiri di antrean yang lumayan panjang di sebuah ruangan di lorong kelas 11. Dirinya sudah bulat untuk mendaftar sebagai salah satu panitian pentas seni sekolah. Ketiga temannya juga mendaftar kepanitiaan tersebut, jadi Yena memilih untuk mencoba juga. Siapa tahu ia beruntung diterima sebagai panitia.
Ini kali pertama Yena mengikuti kepanitiaan di sekolah. Semasa kelas 10, Yena bertekad untuk menjadi siswi yang diam-diam saja dan hanya fokus belajar. Dia enggan mengikuti segala jenis organisasi, entah itu OSIS, MPK, ataupun organisasi lainnya.
Akhirnya, setelah mengantre beberapa saat, Yena sampai di meja tempat mengambil formulir seleksi tahap 1. Disana ada dua kakak kelas yang akan menerangkan cara pengisian formulir dan pengembaliannya.
Setelah Yena mengambil formulir tersebut, ia keluar dari antrean dan hendak kembali ke kelasnya.
Tiba-tiba, seorang perempuan mencegatnya di tengah jalan.
"Yena, kan?"
Yena menatap perempuan itu. Ia mengenalnya. Dia perempuan yang sama seperti yang Yena lihat saat ia menghampiri Ravn untuk meminta biodata kemarin.
Yena mengangguk tanpa membuka mulutnya. Sungguh, mengapa semakin banyak kakak kelas yang mengenalnya? Ia jelas tidak nyaman dengan hal itu.
Perempuan itu mengulurkan tangannya ke depan Yena.
"Lee Hayoung, yang kemarin ketemu di depan kelas Ravn," katanya.
Yena menjabat tangan Hayoung dan tersenyum kaku. "Kim Yena, Kak."
"Gue tahu," balas Hayoung.
"Gue boleh tahu, gak, kemarin lo nemuin Ravn buat apa?" tanya Hayoung.
Yena terdiam. Ini enggak ada yang mau nolongin gue apa?
"Ah, maaf. Kesannya kayak mau tahu banget ya," ucap Hayoung.
"Tapi emang gue perlu tahu. Kenapa?" lanjutnya.
"Ada tugas, Kak. Makanya aku nemuin Kak Ravn," jawab Yena.
"Tugas apa?" tanya Hayoung.
"PASKIBRA," jawab Yena.
Hayoung menaikkan sebelah alisnya.
Bentukan kayak dia PASKIBRA? Seriously? pikir Hayoung remeh.
"Terus, disuruh apa sampe nyamperin Ravn?" tanya Hayoung lagi.
"Minta biodata aja, Kak," jawab Yena.
"Yakin enggak lebih dari itu?" tanya Hayoung.
Yena menggeleng.
"Ravn kayak kenal sama lo gitu kemaren, emang udah kenal dari lama?" tanya Hayoung lagi.
Apaan sih ni kakel? Penasaran banget, pengen gue tinju mukanya, keluh Yena dalam hati. Eh, astaga, Na. Mikir apaan, sih, lo?
"Enggak, Kak. Aku enggak kenal Kak Ravn, Kak Ravn juga gak kenal aku," jawab Yena.
Hayoung bersidekap di depan Yena.
"Gue mau minta sesuatu sama lo boleh?" tanya Hayoung untuk kesekian kalinya.
Ini gue lagi diwawancara apa gimana, ya? Bakal masuk berita nih gue, pikir Yena.
"Apa, Kak?"
"Kalau Ravn lagi sama gue, lo gak usah muncul di depan dia," pinta Hayoung yang terdengar seperti paksaan.
Yena mengernyit. Lihat, kan? Kakak kelasnya itu memang tidak jelas. Yena mulai berpikir bahwa Hayoung adalah bagian dari Chaerin, kakak kelasnya yang melabraknya di kamar mandi hanya karena ia didekati Leedo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ice Cube Lover || ONEUS RAVN
Fiksi PenggemarYena tidak pernah berpikir dirinya akan jatuh hati pada seorang kakak kelas super dingin dan misterius bernama Ravn. Dibalik sikap dingin Ravn, ternyata laki-laki itu memiliki masa lalu yang cukup kelam. Mampukah Yena meluluhkan hati Ravn? Apakah Ye...
