Suasana siang hari saat pemakaman Yena terbilang cukup terik. Beberapa orang yang ikut melayat sampai harus membawa payung masing-masing karena cuaca sangat panas.
Semua orang di taman pemakaman itu memakai baju serba hitam. Tidak banyak yang datang, hanya ONEUS dan ketiga teman Yena. Memang Seoho sengaja tidak memperbolehkan anak-anak SMA Saint Joseph datang untuk melayat atas permintaan Ravn.
Ravn merasa mereka tak pantas untuk datang ke acara pemakaman Yena atas apa yang sudah mereka lakukan kepada Yena dahulu. Bahkan Ravn sendiri merasa tak seharusnya dirinya ada di samping gundukkan tanah yang sudah ditaburi bunga itu.
Ravn berlutut di dekat kayu salib yang tertancap di atas gundukkan tanah tersebut. Dengan mata yang berair, Ravn memeluk salib tersebut dan mengusapnya perlahan.
"Yena... lo yang tenang, ya? Terima kasih udah hadir di hidup gue... Terima kasih udah jadi perempuan yang paling kuat yang pernah gue temuin... Walaupun kita belum lama bareng, gue merasa waktu-waktu yang gue habiskan sama lo adalah waktu yang paling berharga yang pernah gue punya. Lo berhasil bikin gue jatuh sama perempuan lagi. Terima kasih udah bikin gue sadar sama banyak hal. I love you, Na," ujar Ravn panjang lebar.
Saemi yang berdiri di samping Xion membalikkan badannya membuat Xion memeluknya dan mengusap lengan gadis itu. Begitu juga dengan Yeona dan Yesoo yang saling bergandengan. Rasanya waktu berjalan terlalu cepat dan berlaku jahat kepada mereka.
Leedo berlutut di samping Ravn dan mengusap punggung temannya itu.
"Rav... udah, kita harus pergi...," bisik Leedo.
"Nanti, Do! Gue masih mau disini!" elak Ravn.
"Rav lo janji bakalan kuat... Yena udah tenang, Rav. Dia udah enggak sakit lagi... Tuhan lebih sayang sama dia, jadi Dia enggak mau Yena terus-menerus kesakitan di dunia ini. Lo harus relain dia, Rav," ujar Leedo.
"Enggak semudah itu, Do... Enggak semudah itu...," kata Ravn terbata-bata.
"Gue tahu... Gue merasakan yang lo rasakan, tapi sekarang kita harus pergi, Rav... Nanti kita kesini lagi," ujar Leedo.
Ravn melepas pelukannya dari salib tersebut dan mengusap air matanya. Ravn berdiri perlahan dibantu Leedo.
"Oke... Ayo kita pergi," ucap Ravn lemas.
Teman-teman Yena itu pun pergi menjauh dari pemakaman Yena menuju lapangan parkir makam.
"Sekarang kita bakalan ngapain?" tanya Keonhee.
"Gue balik ke rumah. Papa mau ngurus persidangan keluarga Yena," jawab Seoho.
"Gimana dengan Chaerin dan lain-lain? Mereka sampai sekarang masih bisa ketawa-ketiwi!" sahut Yeona.
Yesoo menahan Yeona yang terlihat seperti akan meledak.
"Yeon... tenang, Yeon...," bisik Yesoo.
"Tenang? Lo nyuruh gue tenang saat Yena udah di dalam tanah begitu? Enggak, Soo! Ini enggak adil! Gue enggak bisa terima begini aja! Gue mau lihat Chaerin dan Hayoung ngerasain apa yang kita semua rasain!" omel Yeona.
Ravn mengernyitkan dahinya.
"Apa ini semua ada hubungannya dengan mereka?" tanya Ravn tiba-tiba.
Yeona menatap Ravn dengan sorot mata tajam.
"Apa peduli lo, Kak?!" tanyanya kesal.
Ravn menghampiri Yeona dan menipiskan jarak di antara mereka.
"Rav...," tegur Hwanwoong.
"Gue peduli sama Yena, lo enggak usah sok-sok begitu di depan gue," ucap Ravn.
"Huh, kalau lo peduli sama Yena, yang harusnya ada di samping Yena dulu itu lo bukan Kak Seoho!" ujar Yeona marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ice Cube Lover || ONEUS RAVN
FanfictionYena tidak pernah berpikir dirinya akan jatuh hati pada seorang kakak kelas super dingin dan misterius bernama Ravn. Dibalik sikap dingin Ravn, ternyata laki-laki itu memiliki masa lalu yang cukup kelam. Mampukah Yena meluluhkan hati Ravn? Apakah Ye...
