36. J*lang

13 0 0
                                    

Anna sedikit meringis karena cengkraman Gia yang cukup kuat, lengan Anna terasa sakit. Anna sudah berontak dan protes pada Gia. Tapi Gia. mengabaikannya dan malah melangkahkan kakinya lebih cepat sambil menyeret Anna.

Anna tahu bahwa Gia marah. Sebelumnya pria ini tidak pernah bersikap kasar seperti sekarang ini. Tatapannya juga tak bisa Anna artikan.

Langkahnya terhenti saat mereka sampai di rooftop. Anna mengumpat di dalam hatinya, untung pria ini adalah kekasihnya. Jika bukan, mungkin Anna sudah mematahkan lengannya atau mendorongnya dati rooftop ini. "Apa, sih?!"

Gia membalikkan badan lalu menatap intens kedua mata Anna. Sedetik kemudian, telapak tangannya sudah mendarat mulus di pipi kanan Anna. "J*lang!"

Anna terkejut bukan main. Ia tidak pernah menduga pria ini akan melupakan hal barusan. Tamparan Gia terasa panas di pipinya, ia menatap keramik yang ia pijak lalu memejamkan matanya. Ada apa dengan kekasihnya? Kenapa tiba-tiba menamparnya dan mengatai dia j*lang.

Hati Anna terasa sesak begitu saja, ia ingin menangis. Ini membuatnya sakit. Anna mengatur nafasnya mencoba menenangkan diri agar tidak melakukan hal-hal di luar kendali. Ini pertama kalinya, Anna di sakiti tapi ia tak melawan. Biasanya Anna akan marah dan langsung menyerang balik. Tapi yang ia rasakan saat ini hanya sesak dan bingung. Apa yang harus ia lakukan?

"Tadi kau berduaan dengan Bintang, lalu dengan pria blasteran itu dan mengabaikan aku! Setelah itu kau bersama Andra. Sebenarnya berapa banyak pria yang kau simpan, Anna?!" Bentak Gia dengan nada yang meninggi.

Anna diam dan berpikir, apakah hal itu salah? Mereka semua adalah teman Anna dan Anna tidak melakukan hal diluar batas. Apa mungkin Gia marah karena rangkulan Andra barusan?

"Yang dikatakan, Kak Naya... ternyata benar."

Anna mengangkat wajahnya dan menatap Gia. Matanya terlihat merah, nafasnya memburu dan jemarinya gemetar. Anna mengernyitkan dahinya bingung, yang di katakan Kak Naya? Memangnya apa saja yang sudah wanita itu katakan?

"Kau j*lang!" Makinya lagi.

Anna berdecih dan menyeringai. "Jadi, apa saja yang sudah wanita itu katakan padamu? Aku j*lang? Wanita rendahan? Pelacur? Iya?" Ucap Anna dengan penuh penekanan.

"Tapi itulah kenyataannya, Anna. Kau bersama banyak pria di saat statusmu berpacaran denganku!" Jawab Gia.

"Dan kau percaya? Mereka hanya teman!"

Gia mengusap kasar wajahnya, ia terlihat frustasi. "Tapi, aku tak suka! Bisakah kau sedikit saja menjaga perasaanku?" Sentak Gia.

Anna tersenyum kecut, menjaga perasaan? Kenapa ia meminta Anna menjaga perasaan sedangkan Gia tak pernah menjaga perasaannya. Bukankah itu terlihat egois?

Anna yang sudah malas itu berbalik dan hendak pergi dari sana. Dengan sigap Gia menghadang jalan Anna. "Jawab aku!"

"Kau sendiri bagaimana? Kau tahu perasaanku? Apa kau sudah menjaga perasaanku?" Sungut Anna.

Gia terdiam, tatapan tajamnya mulai melunak. Anna menghembuskan nafasnya kasar. Jika memang ingin berdebat akan Anna ladeni. Ia juga punya begitu banyak alasan logis untuk membela diri.

"Kau pergi diam-diam saat hari kencan kita dan setelah itu kau lebih sering pergi dengan wanita itu tanpa menyempatkan waktu untukku. Bahkan kau hanya meminta maaf lewat pesan. Apa kau sudah menjaga perasaanku, Algia Febrant?!"

Gia mendekat lalu memegang pundak Anna. "Kau cemburu?"

"Bodoh! Setelah aku mengatakan itu, kau masih bertanya?"

Anna tak habis pikir. Ia tak mengerti isi kepala pria di depannya.

Gia mengelus-elus pipi kanan Anna. Anna melirik tangan Gia dan menepisnya, "Tidak menghilangkan rasa sakitnya."

Pipi Anna masih terlihat merah akibat tamparan tadi. Wanita itu terus menatap tajam Gia tepat dimatanya. Ia sama sekali tidak mengalihkan tatapannya yang begitu mengintimidasi itu dari Gia.

"Ada lagi makian yang ingin kau lontarkan?" Tanya Anna yang sama sekali tidak Gia jawab.

Anna menunjuk pipi kirinya, "Atau mau menambah satu tamparan lagi di pipi sebelah sini?"

Gia masih diam.

"Tidak ada? Kalau begitu apalagi yang dikatakan Kak Naya mu? Katakan saja yang menurutmu benar."

"Kenapa diam? Tolong bilang pada Naya jika ingin memaki datang saja langsung ke hadapan ku dan siapkan argumen yang membuatku bungkam."

Anna memutar bola matanya malas, ia seperti bicara dengan batu. "Dan tolong bilang pada Gia, jangan bodoh! Jangan mau dijadikan boneka. Terlihat miris dan menjijikkan."

Anna membalikkan badannya dan berjalan pergi. Gia hanya diam tanpa berniat menahan Anna. Ia sadar bahwa ia salah. Perkataan Anna benar. Ia menjadi boneka. Bahkan ia berani berbuat kasar dan lebih mempercayai orang lain dibandingkan kekasihnya. Bodoh.

"Maaf, Anna," kata Gia yang membuat langkah Anna terhenti.

"Tidak, jika menurutmu kau benar tidak perlu meminta maaf. Jika kau berpikir aku adalah jalang silahkan pergi," jawab Anna.

"Bukan begitu. Maaf,"

"Karena aku tidak akan mengubah diriku hanya demi orang lain. Jika kau tak suka silahkan pergi. Aku tidak terlalu memperdulikan orang lain," tambah Anna.

Anna meninggalkan Gia dan turun dari rooftop. Saat melewati studio musik ia berpapasan dengan Naya, wanita itu baru saja membuka mulutnya tapi ucapannya tertahan oleh ucapan Anna, "Good control. Nice work."

Anna masuk ke studio untuk mengambil ponselnya.

"Perang dunia?" Tanya Sandy.

Anna hanya mengangguk lalu pergi ke toilet untuk berkumur-kumur.

"Ribut besar sampai berdarah seperti itu?" Tanya Andra yang mengikuti Anna sejak tadi.

Anna melihat darah dan air yang ia buang ke lantai. Darah itu ia tahan didalam mulutnya. Saat ia merasakan perih di sudut bibirnya ia menjilatnya untuk menghentikan pendarahan dan agar Gia tidak tahu.

"Hanya sedikit."

Anna menggulung lengan bajunya dan melihat pergelangan tangannya yang merah. Andra mendekat lalu memegang lengan Anna yang merah itu.

"Mau aku balas dengan yang lebih dari ini?" Kata Andra. Anna menarik tangannya lalu menjawab, "Aku bisa melakukannya sendiri jika aku mau."

Anna memutar-mutar pergelangan tangannya lalu mencuci wajahnya. Ia menatap wajahnya di cermin.

"Apa kau akan terus berdiri di situ dan menatapku?" Kata Anna saat melihat Andra yang mematung di tempatnya lewat cermin.

"Ya siapa tahu kau butuh sandaran dan orang yang memberikan tissue," jawab Andra.

Anna tersenyum tipis, "Tidak bisa menangis di depan orang."

"Lemah. Padahal tinggal menangis saja jika perlu," kata Anna.

Anna berbalik dan melihat Andra, "Sepertinya kau memang ingin melihatku menangis ya? Masih menyimpan dendam?"

"Dendam apanya? Menyimpan rasa saja bagaimana?"

Anna berjalan keluar lalu mendorong pelan Andra yang menghalangi pintu," Menjijikkan."

Andra tidak waras.

To be continue
Thanks for reading

RAIN'S MEMORIES Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang