Annasya terlihat sangat lelah dengan keadaannya saat ini. Ia selalu melihat keadaan rumah seperti ini. Pagi yang seharusnya indah seakan tak berlaku bagi Anna.. Bayangkan saja jika setiap pagi kau harus melihat pertengkaran sepasang kekasih dan lebih parahnya lagi pasti Anna akan terlibat dalam pertengkaran itu. Jika saja dia bukan bibinya mungkin Anna sudah melakukan hal yang tak pantas padanya.
Saat ini Annasya yang biasa di panggil Anna itu masih berkuliah di salah satu universitas besar di kota dengan mengambil jurusan di bidang musik. Orang tua Anna telah meninggal saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama karena suatu hal yang sampai saat ini masih berbekas didalam dirinya. Kini ia tinggal bersama sang bibi yaitu Vira yang setiap hari selalu membawa pulang seorang lelaki ke rumah dan setiap paginya selalu saja bertengkar. Dan itu harus Anna saksikan setiap hari dengan pria yang berbeda-beda.
Tapi walau bagaimanapun Anna tetap menyayanginya. Hanya dia yang mau merawatnya sejak orang tuanya meninggal ya....walau terkadang ucapan Vira sangat pedas dan membuat Anna ingin merobek mulutnya.
Dan di senin pagi ini Anna berencana akan pergi ke taman itu lagi untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut . Ia berharap tak akan bertemu lagi dengan pria menyebalkan yang menganggu nya kemarin. Bahkan mengingatnya saja membuat mood Anna rusak seketika. Ia pun mengenakan jaket tebalnya dan mengambil payung merah favoritnya karena diluar sedang hujan tapi tak begitu deras tidak mungkin ia nekat menerobos hujan. Walau ia menyukai hujan tapi ia tak sebodoh itu
"Kau mau kemana? Kenapa tak memakai almamater? Sudah pintar ? Sehingga tak ingin kuliah lagi?" Tegur sang bibi dengan sinisnya. Anna heran, tak bisakah ia berbicara dengan baik?
"Pergi menenangkan diri daripada disini. Membuat telingaku sakit mendengarmu dan pacar barumu itu bertengkar," balas Anna santai.
Anna melirik bibinya sekilas, terlihat dia hanya diam.
"Oh iya paman... apa tak sebaiknya kau pulang saja? Sepertinya bibiku juga tak ingin kau ada disini. Besok juga ia akan mendapat pria baru," ucap Anna yang lebih mengarah untuk mengusir paman itu.
Paman itupun pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Mereka gila!
"Bi? Tidak bisakah kau tak membawa teman temanmu itu ke rumah ini setiap hari? Aku merasa tak nyaman dan berhenti bertingkah seperti lacur!"
Belum sempat bibi menjawab Anna sudah pergi meninggalkan rumah dan berjalan menuju teman. Ia tak butuh jawaban, ia hanya butuh tindakan.
Anna pun sampai dan duduk dibangku taman itu.
"Ah sial kenapa aku tak membawa buku liriknya," kesal Anna.
Ia pun mengurungkan niatnya untuk menulis lirik lagu dan mengambil rokok yang ada didl dalam saku jaketnya lalu menyalakannya dan menghisapnya.
"Merokok lagi?" Ucap pria yang kemarin membuat Anna kesal setengah mati. Wajah Anna masam seketika melihat pria itu yang dengan tanpa dosanya tersenyum riang lalu duduk di sebelah Anna. Apa sih maunya?
Namun pandangan Anna tak bisa lepas dari almamater yang Algia kenakan. Ok ini adalah kesialan untuk Anna. Karena ia satu universitas dengan Anna. Apa lagi ini Ya Tuhan!!
"Kenapa tak pergi ke kampus?" Tanya Anna, padahal yang ia tahu kan kampus nya itu sangat ketat dalam aturan. Telat sedikit saja bisa kacau.
Gia melihat ke arah Anna lalu menjawab sambil tersenyum. "Membolos di jam pertama untuk menikmati hujan tak apa bukan?"
Anna terdiam untuk beberapa detik saat ia melihat Gia tersenyum. Sebenarnya sebeeapa obses ia dengan hujan? Anna saja tidak sampai segitunya. Bahkan kata-katanya terdengar cringe di telinga Anna. Anna terus melihat senyuman Gia yang manis dan tulus itu. Melihatnya saja membuat diri Anna terasa damai. Anna menggelengkan kepalanya dan mencoba menghilangkan pikiran aneh yang terus memuji pria menyebalkan ini.
"Kenapa kau diam saja dan melihatku seperti itu? Aku tahu aku tampan" Kata Gia sambil mengusap rambutnya. Anna sampai merinding dibuatnya.
"Cih percaya diri sekali!" Balas Anna sinis.
"Aku mendengarnya nona,"
"Kurasa kau harus pergi ke gym agar tubuhmu itu mendukung untuk bisa disebut tampan," ledek Anna mengingat tinggi badan Gia yang tidak terlalu tinggi. Bahkan jika dibandingkan hanya beda sekitar lima sentimeter dengan Anna. Kebalikan dari Gia, Anna bisa di bilang cukup tinggi untuk ukuran wanita yaitu seratus enam puluh empat sentimeter.
Terlihat Gia sedang mengeluarkan sebuah kotak makan dari tasnya.
"Apa kau mau? Ibuku membuat banyak sandwich," tawar Gia sambil menyodorkan sepotong roti kepada Anna.
Anna hanya diam. Ragu? Tentu saja, Bagaimana jika dia memasukkan racun atau semacamnya. Kita tidak bisa langsung percaya pada orang baru kan?
"Tenang saja. Aku tak memasukkan racun tikus atau semacamnya," kata Gia seolah tahu apa yang Anna pikirkan.
"Oke. Terima kasih" Kata Anna lalu mengambil roti itu dan memakannya. Kebetulan sekali, ia kan belum sempat sarapan.
"Enak"
Ckrek
Anna menoleh ke arah Gia. Terlihat ia sedang mengarahkan kameranya kepada Anna.
"Hey! Apa-apaan kau ini. Jangan sembarangan memotretku. Sini biar ku hapus" Marah Anna sambil mencoba mengambil kamera itu dari genggamannya. Ia tidak suka dipotret.
"Tak apa. Hasilnya bagus. Lumayan untuk tugasku haha," Jawabnya sambil memperlihatkannya kepada Anna.
Dan benar saja, ini bagus Terlihat Anna yang sedang memakan sandwich dengan latar belakang hujan yang indah. Ini memang bagus tapi Anna sedikit tak suka dengan ucapan terakhirnya. Tugas? Tugas apanya? Apa Gia akan memberikan foto itu kepada dosen. Memikirkannya saja membuat Anna kesal karena sejujurnya ia benci dengan kampus itu apalagi dosennya
Gia tersenyum melihat kameranya lalu memasukkannya ke dalam tas. Padahal Anna baru saja akan merebut kamera iru dan menghapus fotonya.
"Kalo begitu aku pergi dulu sepertinya jam pelajaran kedua akan segera dimulai. Bisa kacau jika aku bolos lagi. Dah! Jangan rindukan aku ya," Pamit Gia.
"Ya. Terima kasih untuk sandwichnya," Jawab Anna singkat. Gia mengangguk dan tersenyum lalu pergi dari sana.
Sudah lama juga Anna tidak pergi ke kampus. Mungkin sekitar satu bulan. Tidak! Ia tidak bolos. Anna si scors oleh dosennya. Ya mau bagaimana lagi ini juga karena ulahnya sendiri kan? Bibinya masih belum tahu bahwa selama sebulan belakangan ini Anna di skors.
"Untung saja masa skors ku sudah mau habis," ucap Anna lalu ia pergi ke basecamp nya. Tidak mungkin ia pulang. Yang ada bibinya akan terus mengoceh dan mengomel.
To be continue.
Give ur support here.
Vote n comment if u enjoy
KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN'S MEMORIES
Gizem / GerilimAnnasya ialah gadis bersorot tajam yang menyimpan banyak rahasia dalam dirinya. Sosoknya begitu dingin sampai membuat hatinya perlahan membeku. Sampai akhirnya sosok dinginnya perlahan mencair tatkala Algia masuk ke dalam hidupnya dan mulai membongk...
