48.|| MENELAN NASIB

44 4 0
                                    

Semua terasa singkat
Setelah banyak cerita yang di ikat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Hari lalu Prim pernah mengajak Gibran untuk belajar bersama, tapi sebelumnya Jeni meminta Gibran untuk temui Emily. Prim mengangguk pelan, ia pun ikut menemani Gibran dengan menaiki sepeda ontelnya.

Kondisi Emily saat itu semakin buruk, mulai kehilangan nafsu makan, berat badannya menurun, pipinya semakin tirus, mata lelahnya cukup terlihat, bahkan sudah tidak ada rambut lagi yang melindungi kepalanya.

Prim sangat tak tega melihat gadis itu, terbaring lemah dengan selang infusan.

"Hayy Emily."

"Primilly."

"Apakabar kamu?"

"Gini aja Prim, udah lama ya Kita nggak ketemu. Gimana kabarmu?"

"Alhamdulillah baik, hmm Ayah kamu kemana?"

"Keluar dulu sebentar."

"Em, kondisi lo ada perubahan nggak?" Gibran bertanya saat sedikit melangkah maju.

"Nggak ada Gib, aku udah cape berjuang terus."

"Semangat Emily, kamu nggak boleh gitu, kamu pasti bisa sehat kok." Prim memeluk pelan tubuh Emily.

Tidak ada hal yang membuat Emily semangat selain Gibran, tapi Gibran masih belum bisa memberi apa yang Emily mau. Gibran hanya mampu menjadi teman baik Emily saja, untuk masalah selalu ada, ia pun belum bisa berjanji.

"Doain Emily ya semoga Emily bisa sehat lagi." ucap Beni Ayah dari Emily itu yang baru saja datang.

"Aaminn, pasti Om. Allah memberi jalannya."

Satu jam usai mereka menyudahi pertemuan dengan Emily. Prim menundukkan kepalanya saat melihat kondisi Emily tidak seperti bulan lalu, bahkan kini ia sudah tidak memiliki rambut yang sempurna.

Gadis itu berjalan beriringan dengan Gibran sembari membayangkan satu moment yang sama dengan Emily.

"Gibran."

"Apa?"

"Kalau Prim nggak punya rambut gimana?"

"Gimana apanya?"

"Gibran masih mau nemenin Prim?"

Gibran menghela napas, lalu ia menarik pelan bahu Prim agar mengarah kepadanya. Pada tatapan itu Gibran memberi senyuman seakan meyakinkan sesuatu kepada Prim.

"Emang sejauh ini, gue masih belum bisa di percaya sama lo?" Gibran menaikan kedua alisnya.

"Prim takut aja Gibran."

"Cengeng lo! Hahaha." Gibran mengacak ngacak rambut gadis di hadapannya.

Tidak ingin banyak drama, lelaki itu menggenggam lengan Prim untuk kembali berjalan bersamanya.

***

Mengingat kejadian di masa lampau, Prim mengenal Gibran yang dingin cuek, mahal senyum, tapi sekarang sudah 2 tahun berlalu ternyata banyak hal yang lebih menyenangkan dari sosok Gibran. Gibran yang perhatian, Gibran yang bucin, Gibran yang kadang kala cerewet, semuanya gadis itu dapatkan ketika ia sudah terikat menjadi kekasihnya.

GIBRAN UNTUK PRIMILLY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang