penjahat 1

1.7K 67 6
                                    

************************************

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

************************************

Hospital..

"Lukanya tidak terlalu serius, tiga hari sudah kembali seperti semula." Penjelasan dokter setelah membalut luka menggunakan kain kasa.

"Jangan lupa ganti kasa sehari dua kali dan oles pereda nyeri." Senyum ketulusan setelah selesai membereskan peralatan.

"Terima kasih dok,"

"Sama-sama."

Raline menoleh, disana Reyn sudah tidak ada. Seperti biasa Reyn akan pergi tanpa pamit sebelum Raline mengucapkan terima kasih.

Dengan langkah kaki sedikit pincang, Raline melewati koridor rumah sakit tanpa mempedulikan keberadaan Reyn. Karena yang pasti Reyn sudah pergi dengan wajah merah padamnya.

Terpaan angin malam meniup setiap helai rambut, Raline yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans pendek merasa kedinginan.

Awalnya Raline hanya keluar membeli peralatan sekolah di mini market terdekat namun karena stok kosong membuatnya mencari ke tempat yang lebih jauh. Tidak disangka saat mengambil uang koin tiba-tiba tubuhnya terserempet motor dan berakhir di rumah sakit.

Raline terus berjalan dihalaman rumah sakit sambil kedua tangan menggosok-gosokan lengan, tiba-tiba tangan seseorang mengenakan jaket kulit pada tubuhnya.

Raline menoleh, lagi-lagi Reyn menolong disaat ia membutuhkan. Tidak ada senyum dari sudut bibir, Reyn kembali melajukan langkah.

"Tu..tunggu."

Raline berusaha mengejar mengambil jaket yang telah membalut tubuhnya.

"Aku tidak bisa menerima ini."

Reyn tersinggung matanya menatap Raline kembali pada jaket ditangan.

Ada desisan pelan terdengar dari bibir Reyn ketika melihat bibir Raline bergetar. Reyn tahu jika gadis didepannya kedinginan tetapi berusaha baik-baik saja.

Reyn bersikap acuh mengenakan kembali jaketnya, menyeret tangan Raline pergi dari sana.

"Reyn?"

Raline berusaha mengimbangi langkah panjang Reyn namun sia-sia, tubuhnya terus terserat langkah panjang tersebut.

Mereka sampai di parkiran, Reyn mengenakan helm ke kepala Raline dan menguncinya. Sebelum itu tangannya mengetuk keras helm tersebut.

Suara mesin motor menyala membuat Raline terdiam menatap punggung yang telah siap. Anggukan pelan dari Reyn meminta Raline untuk naik tidak mendapat respon, Raline masih berdiri berpegang pada jok.

Reyn kembali mendesis turun dari motornya membantu Raline untuk naik dengan cara menggendong. Setelahnya motor melaju dengan kecepatan cepat menyalip setiap kendaraan yang ada di depan tanpa rasa takut akan terjadinya kecelakaan.

TogetheRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang