penyiksaan 2

1.2K 49 0
                                    

Tekan tanda ⭐ di pojok kiri bawah untuk bisa melanjutkan part ini

************************************

Wanita berpenampilan sederhana menenteng tas hitam juga tongkat menghampiri Reyn, langkahnya sangat pelan mengingat satu kaki tidak bisa berdiri sempurna.

"Reyn,"

Semula Reyn tidak mendengar tetapi Raline menggoyangkan tangan hingga pria itu ikut menoleh.

Wajahnya berubah sendu menatap wanita paruh baya mendekati mereka. Bibir yang semula ingin memprotes mendadak diam hanya dengan melihat wanita tersebut.

Tante Zoel?

Ucapan yang hanya mampu sampai di tenggorokan, Reyn sendiri tidak bisa berucap melihat wanita yang sudah menua dan sakit-sakitan.

"Apa kabar?"

Karena tidak ada jawaban dari Reyn, wanita bernama Zoel mengelus tangan yang berada di pinggang Raline. Tidak ada lagi kata apa pun hanya senyuman tulus yang mengembang dengan mata berkaca-kaca.

Raline yang tidak bisa melihat seseorang menangis, melepas tangan Reyn mencoba menenangkan wanita yang ada di sampingnya.

"Ibu tidak apa-apa?"

Zoel menggeleng, mengelap bekas air mata yang belum turun.

"Nak, wajahmu mengingatkan pada putri ibu."

Uhuk...

Tenggorokan Reyn merasa tercekak, ia tahu arah pembicaraan mereka akan kemana. Tangannya kembali meraih bahu Raline mengalihkan dari sisi Zoel.

"Tante siapa yang sakit?"

"Saya sendiri,"

Zoel terbatuk-batuk memegang tangan Reyn untuk tumpuan tubuh yang tidak seimbang. Ia lalu duduk membantu mengembalikan energi yang terkuras saat berjalan dari arah ruang pengambilan obat ke lobi rumah sakit.

"Reyn, siapa dia?"

Reyn dan Raline sama-sama beradu pandang, kedua mata mereka tidak berkedip memikirkan jawaban dari pertanyaan Zoel.

"Teman,"

"Pacar."

Reyn mengenalkan Raline sebagai teman sedang Raline kebalikannya. Sungguh jawaban yang tidak pas, keduanya menjadi canggung setelah perbedaan jawaban.

Zoel hanya bisa tersenyum tipis memperhatikan keduanya yang malu-malu.

"Jika tante sudah selesai berobat, mari saya antar pulang."

"Tidak perlu, tante masih ada janji dengan dokter."

Raline tidak tega melihat kondisi Zoel berjalan dengan alat bantu. Raline sedikit berjinjit membisikan sesuatu pada pria yang masih erat memegang bahunya.

"Antarkan ibu ini, aku bisa pulang naik bus."

Reyn juga tidak setuju dengan usul dari Raline. Bagaimana pun yang membawa Raline ke rumah sakit adalah dirinya, mana mungkin ia membiarkannya pulang seorang diri dengan keadaan yang masih lemas.

"Sepertinya saya harus segera pulang, teman saya harus minum obat."

"Hmm, hati-hati Reyn."

Reyn sedikit menarik tangan Raline pergi dari sana, jika tidak dengan paksaan Raline tidak akan menurut.

"Kamu tidak kasihan melihat ibu itu sendirian disana? Cepat kembali dan temani dia."

Reyn membiarkan ocehan Raline tetap menarik tubuh itu hingga sampai di parkiran.

TogetheRTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang