Kalau Faith Eonni punya Naeun Eonni sebagai partner in crime-nya, maka aku punya Lui. Kalian ingat kan sahabatku saat di tempat terapi musik Mommy Hani dulu ? Yang pernah membelaku waktu teman-teman yang lain bertanya kenapa aku tidak punya Eomma seperti mereka.
Ya.... Dia.... Lui yang itu.
Setelah saat itu, aku dan Lui bisa dibilang bersahabat dekat. Bukan bisa dibilang lagi, tapi kami memang sahabat dekat. Dia satu-satunya sahabatku yang bukan idol atau staff perusahaan. Bukannya mau sombong atau pamer. Tapi perusahaan itu sudah seperti taman bermain pribadiku. Sudah aku sebutkan sebelumnya kan ? hampir semua orang yang bekerja di perusahaan kenal baik denganku, termasuk para idolnya.
Setelah merapikan kembali tumpukan dokumen di ruang kerja Appa, aku bergegas keluar dari sana. Aku sengaja keluar dari jalan belakang, jalan yang biasa dilewati oleh para idol apabila mereka berkencan atau ingin menghindar dari wartawan maupun penggemar yang menunggu di depan perusahaan. Aku tentu saja tahu jalan rahasia ini. Beberapa kali aku menggunakannya bila aku keluar bermain bersama dengan Chenji Oppa atau Nomin Oppa.
Biar aku beritahu ya....
Penggemar fanatik Nomin Oppa dan Chenji Oppa itu sangat bar-bar dan beringas. Aku masih ingin berumur panjang dan menikmati masa mudaku.
Di ujung jalan rahasia itu, aku bergerak menuju ke halte bus terdekat. Aku berencana bertemu dengan Lui. Aku belum membuat janji temu dengannya sebelumnya. Tapi, berita terbaru tentang Renjun Oppa yang baru aku dapatkn dari ruang kerja Appa tentu saja tidak bisa aku simpan sendirian dalam waktu yang lama.
Girl things....
Kami-kami ini tidak tahan memendam rahasia besar terlalu lama.
Lui sahabatku itu sedang bekerja paruh waktu di sebuah restoran ayam goreng. Aku pikir sekalian saja aku makan siang di sana. Bus yang aku naiki berhenti tidak jauh dari gedung dimana restoran ayam goreng tempat Lui bekerja berada. Dari halte tempat aku turun, hanya tinggal berjalan kaki selama sepuluh menit.
Aku melambaikan tanganku dari balik pintu kaca saat Lui bisa melihat kedatanganku.
"Lui-ya !!!" seruku. Aku duduk di salah satu meja yang kosong. Restoran tidak begitu ramai. Mungkin karena belum mendekati jam makan siang.
Lui mendecih melihat kedatanganku. Sambil meletakkan kedua tangannya ke dalam apron, dia berjalan mendekati meja yang aku tempati.
"Baru ingat kalau kau punya teman yang sedang berkerja keras membanting tulang di tempat ini ?" sindir Lui.
Aku menangkupkan kedua tanganku. "Mianhae.... Mianhae... Bukan maksudku tidak mengajakmu ke Inje. Kau tahu kan bagaimana ketatnya kakak iparku soal siapa yang bisa datang ke rumahnya itu ? Lagipula, memangnya kau bisa ijin dari pekerjaan paruh waktumu ini ?" jelasku panjang lebar.
"Tsk.... Alasan...."
"Aku nggak bohong kok !!! Beneran !!! Makanya aku pulang cepat dari Inje supaya bisa bermain denganmu lagi...."
"Bujuk rayumu yang satu itu sudah tidak mempan padaku, Lee Melody."
Aku mengerucutkan kedua bibirku. "Lui-ya.... Kau tega sekali padaku.... Padahal aku kemari karena ingin memberitahumu sesuatu. Tapi sudahlah... kalau kau memang tidak ingin bertemu aku lagi, aku pulang saja. Biar cerita soal Injun Oppa ini, aku simpan dalam hati." ujarku dramatis. Aku sedang memancing Lui sebenarnya. Sama sepertiku, dia juga termasuk yang paling ingin tahu soal keberadaan Renjun Oppa. Semua itu karenaku juga yang selalu bercerita tentang Renjun Oppa padanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Unmei no Akai Ito
FanfictionUnmei no Akai Ito, selanjutnya disebut sebagai Benang Merah Takdir, merupakan kepercayaan Jepang yang sebetulnya berasal dari Cina. Konon, di jari kelingking setiap orang ada benang merah yang tak kasat mata, yang akan terhubung dengan jodohnya. Han...