A Thrill Possibility

169 22 7
                                    



Akkinta muncul di pagi hari saat aku sudah selesai berganti pakaian. Semalaman aku tidak bisa tidur. Sekuat apapun aku mencoba, mensugesti diriku bahwa aku butuh istirahat, tetapi setiak kali ucapan Rena tentang Kaoru yang berkencan dengan Injun Oppa, kedua mataku kembali terbuka dengan sempurna.


"Pelanggan kafe bosmu bisa kabur semua kalau kau muncul dengan wajah kacau seperti itu. Kau tidak berdandan sama sekali...."


Aku menghela napas panjang.


"Aku tidak semangat untuk mempercantik diriku. Lagipula, untuk siapa aku melakukannya ? Tidak ada yang melihatku...."jawabku.


Aku bisa mendengar decakan keluar dari mulut Akkinta bersamaan dengan kepalanya yang dia gelengkan.


"Kau ini benar-benar bodoh ya...." cibir Akkinta.


"Sudah aku bilang, jangan katai aku bodoh !" balasku tajam.


"Karena kau itu memang bodoh, bodoh!"


Aku mengambil sisir yang ada di atas meja rias dan hendak melemparkannya ke tempat dimana Akkinta berdiri sambil bersedekap. Tapi dalam sekejap mata Akkinta langsung menghilang.


"Kan... Aku bilang juga apa.... Kau itu benar-benar bodoh.... Sisir yang kau pegang itu tidak akan mengenai aku, bodoh...." suara Akkinta terdengar di telinga kiriku. Aku menolehkan kepalaku dengan cepat, tapi dia sudah kembali menghilang.


"BERHENTI MENGATAIKU BODOH!!!!" teriakku kesal, Aku tidak tahu Akkinta ada di mana sekarang. Jadi aku melakukannya dengan asal. Dia bisa dengar atau tidak, aku tidak perduli.


Akkinta muncul kembali. Kali ini dia berdiri di dekatku.


"Bisakah sekali saja kau menggunakan kepalamu dengan benar?" ucap Akkinta.


Aku mendelik ke arahnya.


"Ini bukan kepalaku, kalau kau lupa...."


"Tapi isinya saat ini itu adalah pikiranmu..." sahut Akkinta sinis.


Aku menghembuskan napas dengan frustasi. Dengan suasana hatiku yang sedang buruk kali ini, tidak bisakah Akkinta sedikit melembutkan kalimatnya saat bicara denganku ?


"Kalau kau hanya ingin terus menghinaku, lebih baik kau pergi saja lagi. Aku sedang malas bertengkar...." jawabku akhirnya. Aku memutar tubuhku, mengambil cardigan dan tote bag dari bahan anyaman lalu berjalan keluar dari kamar.


"Kau bisa memanfaatkan cerita itu." cetus Akkinta. Membuat langkahku berhenti tepat di depan pintu. Dengan cepat aku membalikkan tubuhku.


"Memanfaatkan cerita itu ? Cerita yang mana ?"


"Cerita tentang Kaoru yang katanya akan berkencan dengan Injun Oppamu."


Dalam sepersekian detik, posisi Akkinta berubah jadi berdiri tepat di hadapanku.


"Dengarkan aku. Aku tidak tahu apa cerita yang kemarin kau dengar dari mulut Rena itu benar atau tidak. Tapi kita bisa memanfaatkannya. Kalau benar Injun Oppamu itu benar-benar mengajak Kaoru berkencan, berarti kan Kaoru dan Injun Oppamu itu saling kenal. Aku yakin, dia pasti akan kembali ke kafe. Bisa hari ini, besok, atau minggu depan. Kau tinggal menunggu dengan manis di sana. Percaya padaku."


Kedua mataku mengerjap beberapa kali saat kepalaku mencerna semua ucapan Akkinta.


Benar juga


Unmei no Akai ItoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang