Sesuai janji, part baru unlock setelah 20 votes
3rd POV
"Apa harus sampai sejauh ini, Renjun-ah ?"
Renjun menoleh ke belakang. Senyumnya mengembang saat menemukan sosok pria dewasa yang wajahnya tidak banyak berubah meskipun saat ini tidak lagi aktif menjadi idol dan lebih banyak mengerjakan proyek film bersama dengan rekan satu grupnya.
Renjun merapikan bagian depan rambutnya yang sejak tadi berantakan akibat tiupan angin yang cukup kencang. Salahkan posisinya saat ini yang sedang duduk di atas salah satu bebatuan yang ada di puncak gunung Bukhansan Seoul.
"Umur memang tidak bisa berbohong ya Hyung ?" sahut Renjun sambil tersenyum miring.
Pria yang dipanggil Hyung oleh Renjun itu berdecak pelan. Dengan langkah terhuyung dia mendekati batu yang diduduki oleh Renjun lalu duduk di sampingnya. Mendengar napas yang terengah-engah keluar dari mulut pria itu, Renjun lantas meraih botol minumnya, membuka bagian penutupnya kemudian menyerahkan botol itu kepada pria yang duduk di sampingnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemandangan kota Seoul yang membentang di depan matanya saat ini.
Pria itu segera menandaskan isi dari botol minum yang diberikan oleh Renjun. Tidak perduli kalau nanti Renjun akan mengumpatinya karena sudah menghabiskan minumannya tanpa permisi. Setelah berhasil menetralkan deru napasnya, pria itu mengusap bibirnya yang basah dengan menggunakan punggung tangannya lalu mengembalikan botol minum yang sudah kosong itu kepada pemiliknya.
"Aishhh.... Aku memberikanmu botol minumku bukan berarti langsung dihabiskan juga Hyung...." Renjun mendengus kesal saat mendapati botol minumnya habis tak bersisa.
"Siapa suruh kau mengajakku bertemu di tempat seperti ini ? Sudah tahu usiaku hampir mendekati kepala empat..."
"Hidup baru dimulai saat berusia empat puluhan, Hyung.... Apa Hyung tidak pernah mendengar kalimat itu ?"
"Mana ? Mana orangnya yang bilang kalimat tidak masuk akal seperti itu ?"
"Aku.... Baru saja aku mengatakannya.... Apa Hyung tidak mendengarnya ? Jangan bilang kalau pendengaran Hyung sekarang juga sudah mulai terganggu...."
"Yaakk !!! Huang Renjun !!! Kau jauh-jauh datang ke Seoul, menyuruhku mendaki gunung, hanya untuk mengata-ngataiku ya ???"
Renjun tergelak. Tawanya kemudian menulari pria yang duduk di sampingnya. Mereka berdua tertawa bersama selama beberapa saat.
"Chenle semalam datang ke apartemenku lagi. Dia terlihat sangat marah. Seperti banteng siap menanduk siapa saja orang yang sengaja mencari masalah dengannya...."
Renjun mendengus pelan. Kepalanya menunduk, menatap jari-jarinya yang bertaut.
"Wajar kalau dia marah padaku seperti itu.... Aku sudah sangat mengecewakannya...."
"Kau masih bisa kembali, Jun-ah...."
Renjun mengangkat kepalanya. Menolehkannya ke samping. Tatapannya bertemu dengan tatapan pria sesama perantauan dari China yang sudah seperti saudaranya.
"Apa Hyung tidak merasa seperti sedang bicara pada diri Hyung sendiri ?"
Dahi pria itu mengernyit tanda dia tidak paham dengan maksud ucapan Renjun.
"Jun-ah.... Itu kan nama Hyung...."
"Maksudku itu kau, Renjun-ah.... Kau ini.... Hyung sedang serius tahu !!!!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Unmei no Akai Ito
FanfictionUnmei no Akai Ito, selanjutnya disebut sebagai Benang Merah Takdir, merupakan kepercayaan Jepang yang sebetulnya berasal dari Cina. Konon, di jari kelingking setiap orang ada benang merah yang tak kasat mata, yang akan terhubung dengan jodohnya. Han...