"Paspor?" suara Lui terdengar dari ponsel yang sekarang posisinya berada di antara telinga dan pundakku. Kedua tanganku sedang sibuk. Tangan yang satu menarik handle koper sementara tangan yang lain memegang paspor dan boarding pass yang di atasnya tercetak jelas namaku. Boarding pass dari salah satu maskapai penerbangan Korea Selatan yang tujuannya menuju ke Bandara Narita, Tokyo.
"Check...." jawabku sambil mataku melirik ke arah tangan yang memegang paspor.
"Tiket ?"
"Check...." Sekali lagi aku memastikan boarding passku yang aku selipkan di antara halaman di buku pasporku masih aman di sana.
"Duit ?"
"Aman. Tadi sudah tarik tunai dulu. Tinggal di tukar setelah pemeriksaan imigrasi selesai."
"Oke. Take care ya !!! Jangan lupa, waktu kamu cuma tiga hari buat nemuin Injun Oppa di sana. Lebih dari tiga hari, aku nggak jamin bisa lepas dari interogasi Faith Eonni..."
"Iya.... Tiga hari aja kok Lui-ku sayang. Thank you for backing me up. Aku mau lewat pemeriksaan X-ray dulu ya. Aku hubungi lagi setelah mendarat di Jepang."
Setelah mengakhiri panggilan suaraku dengan Lui, aku menyimpan ponselku ke dalam sling bag dan bergabung di salah satu barisan panjang yang terbentuk di depan pemeriksaan X-ray. Aku nggak bohong, jantungku saat ini berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Meskipun ini bukan pertama kalinya aku melakukan perjalanan ke luar negeri. Pasalnya, ini pertama kalinya aku bepergian tanpa ditemani siapapun. Padahal biasanya, dimanapun aku berada, pasti ada Appa, Daddy, Mommy, Gomo, Samchon, atau minimal ada salah satu staf mereka yang menemaniku kemanapun aku pergi.
Kenapa aku nekad melakukan hal ini ?
Tentu saja karena rasa penasaranku tentang keberadaan Renjun Oppa. Setelah pembicaraanku dengan Lui di tempat kerja paruh waktunya, secara impulsif aku memutuskan untuk berangkat saja ke Jepang. Lui membantuku untuk memesankan tiket yang paling dekat waktu penerbangannya sementara aku mengepak barang-barangku di dalam satu buah koper kecil seukuran kabin pesawat.
Sebenarnya aku ingin membawa koper yang lebih besar, tapi Lui melarangku melakukannya. Menurut sahabatku itu, aku ke Jepang dalam rangka sebuah misi maha penting, bukan untuk jalan-jalan. Jadi lebih baik membawa barang-barang yang penting saja. Semakin ringkas semakin baik. Dan lagi, alasanku tidak berada di rumah selama tiga hari adalah aku menginap di apartement sewaan milik Lui. Tidak mungkin kan aku kembali dari apartement Lui dengan koper besar berisi cenderamata dari negeri Sakura itu ?
Pintar kan pemikiran sahabatku itu ? Hanya saja yang membuat aku heran, kenapa kepintarannya itu datangnya hanya musiman saja.
Aku melewati pemeriksaan X-ray dengan perasaan was-was. Sedikit gelisah. Jangan sampai ada salah satu penumpang yang mengenali kehadiranku di sini. Sudah aku bilang kan kalau aku cukup dikenal di perusahaan ? Takutnya ada staf yang melakukan perjalanan ke luar negeri yang jadwal penerbangannya bersamaan dengan jadwal penerbanganku ke Jepang. Atau lebih parah lagi, tujuan kami sama-sama ke Jepang alias berada di dalam satu pesawat.
Berhasil melewati pemeriksaan X-ray tanpa ada yang mengenaliku, aku beranjak ke pemeriksaan imigrasi. Rasa cemas kembali menggelayut. Bagaimana tidak, yang aku tahu, beberapa petugas imigrasi adalah kenalan Daddy Siwon. Jangan sampai, petugas yang memeriksa pasporku nanti adalah petugas yang kenal dengan Daddy Siwon. Bukannya mendarat di Jepang, yang ada nanti malah aku berakhir di ruang pemeriksaan imigrasi.
Tapi ternyata, dewi fortuna sedang berpihak padaku. Sampai panggilan untuk naik pesawat terdengar di ruang tunggu, hal-hal yang aku takutkan sama sekali tidak terjadi. Bahkan pesan singkat yang aku kirimkan pada Faith Eonni untuk menunda kedatangannya ke Seoul karena aku berencana menginap di tempat Lui dijawab dengan oke, tanpa meminta penjelasan yang lain.
Aku naik ke dalam pesawat yang akan membawaku lebih dekat dengan Renjun Oppa. Sambil membalas senyuman para pramugari dan pramugara yang berbaris rapi dari depan pintu pesawat, mataku bergerak mencari nomor kursi yang tertera di boarding pass milikku.
27A
Aku selalu memilih kursi dekat jendela. Dan disitulah tempatku sekarang. Setelah menyimpan koperku di bagasi kabin di atas kursi, aku bergerak masuk ke deretan kursi nomor 27 dan menempati kursi nomor 27A. Seperti sudah terprogram di dalam kepalaku, karena sudah tidak terhitung berapa kali aku bepergian dengan moda transportasi ini, aku langsung memasang seat belt tanpa menunggu aba-aba dari para awak kabin.
Sambil menunggu seluruh penumpang naik ke dalam pesawat dan duduk di kursi mereka masing-masing, tanganku kembali bergulir di layar ponselku. Tujuanku adalah galeri foto di ponselku tempat aku menyimpan hasil jepretan ponselku terutama foto yang aku ambil di ruang kerja Appa tadi siang.
Nishimura & Asahi (西村あさひ法律事務所, Nishimura Asahi Hōritsu Jimusho )
Otemachi - Tokyo
Rencana awalku, setibanya aku di Tokyo nanti, tentu saja langsung mengunjungi kantor pengacara ini. Aku sudah membahas ini dengan Lui juga. Kalau aku tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari kantor pengacara itu, maka aku akan menunggu di depan kantor itu selama tiga hari sampai waktu kepulanganku ke Seoul nanti. Lui yakin, dalam tiga hari itu, Renjun Oppa pasti akan datang ke kantor tersebut.
"Maaf...." suara wanita muda yang sedang menggendong anak kecil membuat aku menoleh ke samping.
"Ya ?" tanyaku.
Wanita itu membungkuk sekilas dan tersenyum kikuk sebelum mengutarakan keinginannya.
"Maaf sekali, tapi ini pertama kalinya putriku naik pesawat. Dan dia ingin sekali melihat awan sepanjang perjalanan...." ucapnya dengan nada tidak enak.
"Ah.... Tentu saja.... Ibu duduk di kursi nomor berapa ?" balasku bertanya.
"27H" jawab wanita itu.
Aku mengangguk kemudian segera melepas seat bealt yang tadi sudah melingkari perutku dan berjalan keluar dari deretan kursi.
"Silahkan...."
Wanita itu kembali membungkuk untuk mengucapkan terima kasih. Aku membalas dengan senyuman. Tiba-tiba aku teringat dengan cokelat yang tadi aku simpan di dalam sling bag milikku. Aku keluarkan cokelat itu dari dalam tas kemudian memberikannya kepada anak balita yang saat ini sedang memandangiku dengan wajahnya yang menggemaskan.
"Untuk menemanimu melihat awan..." ucapku. Aku mengusap pipi gembil balita itu sebelum aku bergerak menuju kursi baruku yang ada di barisan tengah. Tidak buruk juga duduk bersama lima orang asing. Karena posisiku berada di kursi paling ujung dekat lorong. Jadinya akan lebih mudah jika aku harus ke kamar mandi nanti.
Pesawat lepas landas setelah semua penumpang naik dan seluruh prosedur pemeriksaan sudah dilaksanakan. Beberapa kali aku bertukar pandang dengan ibu muda dan balita perempuan lucu yang saat ini duduk di kursi milikku.
Tiga puluh menit sebelum waktu mendarat, tiba-tiba awak kabin mengumumkan bahwa penumpang harus kembali mengenakan sabuk pengamannya. Tidak lama berselang, pesawat bergetar dengan hebat. Bahkan aku bisa merasakan ketinggian pesawat turun dengan tiba-tiba. Membuat perutku seperti sedang menaiki wahana roller coaster. Pesawat kembali bergetar dengan hebat. Sampai-sampai aku dan juga penumpang yang lain terlonjak dari kursi. Suara teriakan dan tangis anak-anak mulai terdengar. Aku juga mulai kalut saat masker oksigen turun dari tempatnya. Dengan tangan bergetar aku meraih tali masker dan memakaikan benda itu ke wajahku.
Suara tangisan dan teriakan bercampur menjadi satu. Tubuhku terhempas ke kanan dan ke kiri saking kerasnya turbulensi pesawat yang aku tumpangi ini. Aku meremat dengan kencang tali tas yang ada di pangkuanku sambil memejamkan kedua mataku.
Lalu, dalam satu tumbukan yang kencang, aku merasa seperti terlempar dari kursi yang aku duduki dan membentur kursi yang lain. Perlahan, kesadaranku menghilang seiring dengan suara ledakan yang terdengar dekat di telingaku.
Appa, mianhae...
Eonni, mianhae...
(TBC)

KAMU SEDANG MEMBACA
Unmei no Akai Ito
Fiksi PenggemarUnmei no Akai Ito, selanjutnya disebut sebagai Benang Merah Takdir, merupakan kepercayaan Jepang yang sebetulnya berasal dari Cina. Konon, di jari kelingking setiap orang ada benang merah yang tak kasat mata, yang akan terhubung dengan jodohnya. Han...