Butterfly

81 14 6
                                    

Putar multimedia untuk tahu kenapa part ini diberi judul "Butterfly"









Aku mengusak kepalaku sebagai tanda bahwa aku mulai frustasi. Jam yang sudah disepakati untukku bertemu dengan Injun Oppa sudah semakin dekat tetapi aku bahkan belum mulai bersiap-siap. Sejak semalam aku terlalu sibuk mereka-reka apa yang akan terjadi di saat kami menghabiskan waktu berdua saja nanti. Kepalaku juga bekerja terlalu keras untuk memikirkan pakaian apa yang harus aku kenakan. Isi dari lemari pakaian Kaoru hanya sepersepuluh dari lemari pakaianku yang ada di Seoul sana.


Aku ulangi


Satu per sepuluh !!!!


Dengan lemari pakaian yang sebesar itu saja aku masih selalu kebingungan untuk menentukan outfit yang aku kenakan jika aku harus menghadiri sebuah acara. Untung ada Lui yang sukarela menjadi konsultan fashion pribadiku.


Tapi di sini tidak ada Lui !!!!


"Pakai saja apa yang ada. Tidak akan memberikan banyak perbedaan padamu...."


Aku berjengit kaget saat mendengar suara laki-laki di dalam kamarku yang jelas-jelas aku kunci dari luar. Aku menghela napas panjang. Harusnya aku sudah tidak perlu terkejut seperti tadi. Memangnya siapa lagi yang akan tiba-tiba muncul di dalam kamarku kalau bukan Akkinta.


Aku buru-buru menoleh dan menatap geram ke arah Akkinta yang ternyata sedang bersandar di jendela kamarku sambil bersedekap.


"Kau tahu apa sih soal perempuan ?" aku menukas sebal.


"Yang aku tahu, perempuan itu suka sekali menyulitkan dirinya sendiri...." Akkinta membalas ucapanku.


Aku melihat Akkinta menegakkan tubuhnya lalu berjalan mendekat ke arahku.


"Kau itu hanya akan bertemu dengannya. Kenapa sampai membuat kamarmu jadi mirip medan perang seperti ini sih ?"


"Hanya ???!!! Hanya bertemu katamu ??!!!" Aku menjerit histeris.


"Apa kau tahu berapa lama waktu yang aku habiskan hanya demi bisa bertemu lagi dengan Injun Oppa ?"


"Ck.... Pakai otakmu.... Yang dia temui nanti itu Kaoru, bukan dirimu.... Buat apa kau harus tampil cantik di depan Injun Oppa kalau bukan kau yang mendapatkan kreditnya"


Mulutku terbuka saat mendengarkan rentetan kalimat panjang yang dilontarkan oleh Akkinta. Benar juga apa yang dikatakan olehnya. Yang dilihat oleh Injun Oppa nanti itu kan Kaoru dan bukan aku.


"Tutup mulutmu, bodoh. Bisa-bisa kau menghisap masuk semua barang-barang yang ada di dalam kamarmu ini...."


Aku buru-buru menutup mulutku. Tapi kemudian, aku sadar kalau aku baru saja dikata-katai lagi oleh roh yang krisis identitas itu.


Hantu bukan, malaikat juga bukan.


"Cepat mandi sana.... Kau akan terlambat bertemu dengan Injun Oppamu itu kalau kau masih sibuk mencari-cari pakaian seperti ini...."


Aku lantas memandang jam yang terpasang di dinding kamar. Lagi-lagi Akkinta benar. Setengah jam lagi adalah waktu yang sudah aku dan Injun Oppa sepakati untuk bertemu di gedung tempat dia tinggal. Gedung yang berada di sebelah kafe milik Seok Hee Eonni.


Aku langsung berlari tunggang langgang. Mengambil handuk yang aku jemur di balkon, menarik asal baju-baju yang aku lempar di atar tempat tidur lalu melesat cepat untuk memasuki kamar mandi.


Unmei no Akai ItoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang