The Truth Untold

85 15 0
                                        



Aku memandangi Faith Eonni yang sibuk mengupas apel di samping ranjangku. Tangannya bergerak cekatan, seolah sudah terbiasa melakukan hal ini setiap hari. Sesekali, dia menoleh ke arahku, memastikan aku baik-baik saja.


"Taeyong Oppa kemana?" tanyaku, memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di antara kami.


Faith melirikku sekilas sebelum kembali fokus pada apelnya. "Dia sedang sibuk menjawab pertanyaan anak-anak Dream soal kondisi kamu," jawabnya santai. "Kayaknya mereka tidak berhenti bertanya sejak kami berangkat dari Seoul beberapa hari yang lalu"


Aku tersenyum kecil. Dream Oppadeul memang seperti itu. Sejak dulu, mereka tidak pernah berhenti mengkhawatirkanku. Rasanya hangat mengetahui ada begitu banyak orang yang peduli. Ah, rasanya aku tidak sabar ingin mempertemukan mereka kembali.


Aku kembali menatap Faith Eonni. Aku tidak tahu kenapa, tapi sore ini aku ingin melihat wajahnya lebih lama. Aku memperhatikan setiap lekuk wajahnya, dari garis alisnya yang tegas, mata jernihnya yang tampak penuh keteguhan, hingga cara bibirnya melengkung setiap kali dia tersenyum kecil. Aku tidak tahu sejak kapan, tapi semakin aku menatapnya, semakin aku yakin akan sesuatu yang selama ini hanya kudengar dari Appa.


Tanpa sadar, tanganku terangkat. Jemariku menyentuh pipi Faith dengan lembut.


Faith tersentak, jelas tidak menyangka. "Ada sesuatu di wajahku?" tanyanya sambil refleks mengusap pipinya sendiri.


Aku tersenyum dan menggeleng pelan.


Faith hanya menghela napas kecil lalu kembali mengupas apelnya. "Kamu rindu sekali dengan Eonni, ya? Makanya dari tadi kamu memandangi aku terus?" godanya.


Aku terkekeh pelan. "Ternyata Appa nggak bohong."


Faith mengangkat alisnya, bingung. "Nggak bohong soal apa?"


Aku menatapnya dalam-dalam sebelum menjawab, "Soal wajah Eonni. Appa kan selalu bilang, Eonni mirip sekali sama Eomma."


Faith tersenyum kecil. "Kan wajah Eomma ada di foto keluarga. Kamu bisa melihatnya kapan saja...."


Aku menggeleng, kali ini lebih mantap.


"Bukan dari foto keluarga," kataku pelan. "Aku tahu Eonni mirip sama Eomma bukan karena itu."


Faith menatapku dengan ekspresi bingung. "Lalu, dari mana?"


Aku diam sebentar, mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengatakannya.


"Karena aku bertemu langsung dengannya...."



Aku mendengar suara dentingan logam menghantam lantai. Ketika aku melihat ke bawah, pisau di tangan Faith telah jatuh. Matanya membulat, terkejut.


"Apa?" suaranya nyaris bergetar. "Apa maksudmu?"


Aku menatapnya lekat-lekat.


"Aku bertemu dengan Eomma."


Faith tidak langsung merespons. Dia hanya diam, terpaku, seolah otaknya masih berusaha mencerna kata-kataku. Aku bisa melihat dadanya naik turun dengan cepat, napasnya sedikit memburu.


"Kamu bercanda, kan?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik.


Aku menggeleng. "Aku tidak bercanda..."


Faith menatapku tajam, seolah mencari tanda-tanda bahwa aku hanya mengatakan hal ini karena efek obat atau karena pikiranku yang sedang kacau. Tapi aku tahu, aku sangat sadar dengan apa yang aku katakan.


Unmei no Akai ItoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang