Light's Will Guide You Home

40 12 1
                                    

Melody's POV


Dunia di sekitarku terasa membeku.


Aku menatap wanita itu—sosok yang selama ini hanya muncul dalam mimpi-mimpiku—dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa dia bukan sekadar ilusi. Dia nyata. Dia ada di sini, berdiri di hadapanku dalam cahaya yang begitu lembut, seolah keberadaannya sendiri adalah jawaban atas kerinduan yang bahkan tidak aku sadari selama ini.


Tanganku gemetar.


Aku ingin berbicara, ingin bertanya banyak hal, tapi tenggorokanku terasa begitu kering.


"Eomma...?" suaraku nyaris tak terdengar, lebih seperti bisikan yang rapuh daripada panggilan.


Sosok wanita itu—ibuku—tersenyum lembut. Cahaya yang menyelimutinya berpendar semakin terang, memberikan kehangatan yang anehnya begitu familiar. Kehadiran yang seharusnya selalu ada dalam hidupku, namun kini terasa begitu jauh dan tak tergapai.


"Melody, Lee Melody..." panggilnya, suaranya begitu halus, namun bergema dalam kepalaku seperti nyanyian yang menenangkan.


Hatiku terasa sesak. Ada sesuatu yang selama ini terpendam begitu dalam, terkunci di tempat yang bahkan aku sendiri tidak bisa jangkau. Dan kini, semua itu seolah terbuka begitu saja.


Aku melangkah maju tanpa sadar, menatapnya lebih dalam, mencari sesuatu dalam sorot matanya yang hangat.


"Bagaimana bisa...?" suaraku lirih, nyaris tercekat oleh gumpalan emosi yang memenuhi dadaku.


Ibu tetap tersenyum, tapi ada kesedihan samar di matanya.


"Aku tidak datang karena keinginanku sendiri, putriku," katanya dengan nada lembut. "Aku hanya perantara... perantara dari doa-doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan."


Aku mengerutkan kening, menunggu penjelasannya.


Tatapan ibu beralih ke Renjun, yang sejak tadi hanya berdiri dalam diam.


"Doa ibunya..." bisiknya lirih. "Doa seorang ibu yang menginginkan kedamaian untuk putra tunggalnya."


Renjun mengangkat wajahnya, matanya yang memerah menatap ibu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Aku bisa melihat betapa dalam kata-kata itu menyentuh hatinya.


Lalu, ibu menoleh ke arah Sunghoon—atau Akkinta—yang masih berdiri diam, ekspresinya tertutup oleh bayangan emosinya sendiri.


"Doa ibumu, Sunghoon-ah," lanjutnya. "Doa seorang ibu yang sebelum menghembuskan napas terakhirnya, meminta keselamatan dan perlindungan untuk putra yang dia cintai."


Aku melihat bahu Sunghoon sedikit bergetar. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, tapi ekspresinya sedikit melunak.


Ibu menatapku lagi.


"Dan doaku sendiri... untuk bisa bertemu putri kecilku, satu kali lagi..."


Kata-kata itu menghantam dadaku seperti badai.


Aku terdiam, tidak tahu bagaimana harus merespons.


Selama ini, aku selalu merasa ada sesuatu yang hilang. Ada lubang kosong di dalam hatiku yang tidak pernah bisa terisi. Dan kini, aku tahu kenapa.


Aku kehilangan ibuku.


Aku kehilangan sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari diriku.


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 3 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Unmei no Akai ItoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang