Downpour

71 12 1
                                    

Aku menjadi pegawai yang terakhir keluar dari kafe karena aku masih ingin menunggu sampai Faith Eonni benar-benar menghilang dari hadapanku. Ada sedikit masalah pada penginputan inventory kafe, sehingga Seok Hee Eonni harus menunda waktu keberangkatan mereka. Yang tadinya mereka sudah pergi sejak dua jam yang lalu, terpaksa harus mundur sampai saat ini.


"Aku jadi tidak enak membuatmu harus pulang paling terakhir, Kaoru-chan...." Seok Hee Eonni berucap kepadaku dengan wajah yang tidak enak. Pasalnya, semua pegawa kafe, termasuk Reiko, sudah pulang mendahului sesuai janji dari Seok Hee Eonni.


"Tidak apa-apa, Seok Hee-san..... Aku juga tidak tahu harus melakukan apa hari ini..... Kau meliburkan kami begitu tiba-tiba...." jawabku.


Seok Hee Eonni tertawa pelan.


"Kalau kau memang tidak ada acara, ikut saja dengan kami, bagaimana ?"


Baik aku maupun Seok Hee Eonni kompak menolehkan wajah kami ke arah Faith Eonni yang baru saja berbicara.


Aku melihat Naeun Eonni mendekati Faith Eonni lalu memegang pergelangan tangan Faith Eonni.


"Faith-ah..... Apa kau serius mau mengajak dia ? Kita kan baru mengenalnya hari ini...." Naeun Eonni berbicara dengan menggunakan bahasa Korea tanpa mengurangi intensitas volume suaranya. Mungkin dia pikir, kalau hanya mereka bertiga yang mengerti dengan bahasa itu.


Aku mengawasi dengan ekor mataku supaya tidak terlihat jelas kalau aku mengerti dan sedang menguping pembicaraan mereka. Faith Eonni membalas ucapan Naeun Eonni sembari melepaskan cekalan di pergelangan tangannya.


"Tidak apa-apa.... Kasihan juga dia harus sendirian di sepanjang hari ini kan ?"


Meskipun aku sangat mengerti dengan alasan Naeun Eonni yang mencurigaiku, tapi aku tidak bisa tidak tersenyum ketika mendengar balasan dari Faith Eonni. Namun aku segera menyesuaikan kembali raut wajahku supaya mereka tidak merasa aneh denganku.


Tidak mengindahkan Naeun Eonni, Faith Eonni kembali melangkah mendekatiku.


"Tidak apa-apa kan kalau dia ikut dengan kita ?" tanya Faith Eonni pada Seok Hee Eonni yang langsung dibalas dengan gelengan kepala oleh bosku itu.


"Tidak..... Tidak apa-apa sih....."


Faith Eonni tersenyum puas, senyum yang selalu menghiasi wajahnya ketika Taeyong Oppa bertekuk lutut dan melakukan semua keinginannya.


"Jadi bagaimana ?" Wajah Faith Eonni kini beralih kepadaku. "Apa kau mau ikut dengan kami, Kaoru-chan ?"


Aku ingin menjawab iya, tapi aku urung melakukannya karena di ambang pintu sana, Akkinta sedang berdiri dan menatap lurus ke arahku. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali, tanda bahwa dia tidak setuju dengan usul dari Faith Eonni.


Kedua bibirku yang terkatup rapat agak mengerut ketika aku menahan amarahku pada Akkinta.


Roh amnesia itu tidak tahu rasanya bertemu dengan keluarga yang sangat dirindukan ya ?


Tapi kemudian aku ingat


Akkinta saja tidak tahu alasan kenapa dia berada di dunia ini sebagai roh gentayangan. Pasti dia juga tidak tahu siapa keluarganya. Dia tidak ingat apapun, tidak tahu apapun tentang dirinya. Kecuali sebuah kemungkinan, baru kemungkinan, kalau keberadaan Injun Oppa di negara ini ada hubungan dengan dirinya.


Mempertimbangkan hal itu, aku pun menggelengkan kepalaku.


"Terima kasih untuk tawarannya, tapi aku tidak ingin menganggu waktu pribadi kalian....."


Unmei no Akai ItoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang