Taeyong POV
Aku melangkah masuk ke dalam ruang rawat Melody dengan hati yang masih berdebar. Cahaya lampu yang temaram membuat wajah adik iparku tampak lebih pucat dari biasanya, tapi matanya masih jernih, penuh keyakinan. Dia menoleh begitu menyadari kedatanganku, menyambut dengan senyum kecil.
Aku menarik napas panjang sebelum duduk di kursi di sebelah brankarnya. Butuh beberapa detik bagiku untuk mengumpulkan kata-kata.
"Apa benar semua yang baru saja kamu ceritakan ke Faith?" tanyaku akhirnya.
Melody menganggukkan kepala tanpa ragu. "Benar, Oppa"
Aku mengamati wajahnya, mencari tanda-tanda kebingungan atau mungkin efek samping dari obat yang dia konsumsi. Tapi tidak ada. Dia terlihat terlalu sadar, terlalu yakin.
"Ceritaku mungkin aneh, tidak logis, dan terdengar tidak masuk akal," lanjutnya. "Tapi itulah yang terjadi."
Aku terdiam. Semua yang dia katakan barusan membuat pikiranku berkecamuk. Aku selalu menjadi orang yang rasional, yang percaya pada hal-hal yang bisa dijelaskan dengan akal. Tapi ini... ini di luar logika.
Aku menarik napas lagi sebelum bertanya, "Jadi benar, kamu bertemu dengan Renjun?"
Melody menatapku lekat, lalu kembali mengangguk.
Dadaku terasa sesak. Renjun—nama itu sudah lama tidak kusebut. Nama yang hanya ada di dalam kenangan. Nama seseorang yang sudah lama hilang dari kehidupan kami, menyisakan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
"Dia ada di sini," katanya pelan. "Di negara ini. Di kota ini."
Hatiku mencelos. Napasku tercekat di tenggorokan.
Jika ini hanya lelucon, maka ini sama sekali bukan lelucon yang lucu.
Jika ini benar...
Aku menggenggam lututku erat, mencoba menenangkan gejolak di dadaku.
"Antarkan aku menemuinya," kataku, hampir tanpa berpikir.
Melody tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku, seolah memastikan aku benar-benar siap.
"Kamu percaya padaku, Oppa?" tanyanya pelan.
Aku menelan ludah.
Aku ingin berkata tidak. Aku ingin bilang kalau semua ini mustahil.
Tapi jika Melody benar...
"Aku percaya," jawabku akhirnya.
Melody menarik napas dalam. "Baiklah."
🎀🎀🎀
Aku mendorong kursi roda Melody menyusuri lorong rumah sakit. Faith berjalan di sampingku, diam dalam pikirannya sendiri.
Melody tidak banyak bicara sepanjang perjalanan. Matanya lurus ke depan, ekspresinya penuh konsentrasi, seolah dia sedang mengandalkan sesuatu yang lebih dari sekadar ingatan untuk menemukan tempat yang dituju.
Hingga akhirnya, dia berhenti di depan sebuah pintu kamar pasien.
Aku meliriknya. "Di sini?" tanyaku, memastikan.
Melody mengangguk.
Aku menatap pintu itu, jantungku berdetak lebih cepat. Aku tidak tahu apa yang menungguku di baliknya, tetapi jika Melody benar...
KAMU SEDANG MEMBACA
Unmei no Akai Ito
FanfictionUnmei no Akai Ito, selanjutnya disebut sebagai Benang Merah Takdir, merupakan kepercayaan Jepang yang sebetulnya berasal dari Cina. Konon, di jari kelingking setiap orang ada benang merah yang tak kasat mata, yang akan terhubung dengan jodohnya. Han...
