Begitu roda pesawat menyentuh landasan di Bandara Incheon, Seoul, Melody merasakan getaran halus yang menjalar dari kakinya hingga ke dadanya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tetapi karena campuran perasaan yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata.
Ia menatap keluar jendela pesawat, melihat pemandangan landasan yang diterangi lampu senja, dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Seoul—kota yang selama ini ia anggap rumah—terasa begitu jauh saat ia terjebak dalam pengalaman ajaib di Tokyo. Dalam benaknya, ia sempat yakin bahwa ia tak akan pernah kembali, bahwa jiwanya pernah bersemayam di raga yang lain telah menutup pintu kepulangannya untuk selamanya.
Saat pintu pesawat terbuka dan udara sejuk Seoul menyelinap masuk, Melody menarik napas dalam-dalam. Ada aroma samar dari musim semi yang bercampur dengan bau aspal dan bahan bakar jet—bau yang begitu biasa, tapi kini terasa seperti pelukan hangat baginya. Ia bangkit dari kursinya dengan kaki yang masih sedikit gemetar, bukan karena lelah perjalanan, tetapi karena beban emosi yang ia bawa.
"Aku benar-benar pulang..." gumamnya pelan pada diri sendiri, suaranya hampir tenggelam oleh suara penumpang lain yang bergegas turun. Dalam hati, ia masih bisa merasakan sisa-sisa ketakutan itu—bayangan dirinya yang terperangkap di tubuh Kaoru, hari-hari penuh ketidakpastian, dan rasa putus asa yang sempat membuatnya berpikir bahwa Seoul hanyalah kenangan yang tak akan ia sentuh lagi.
"Ayo, Nak..... Semua sudah menunggumu di rumah...." tepukan pelan serta kalimat ajakan dari Hyukjae menarik Melody kembali ke dunia nyata. Dia melemparkan senyum pada Hyukjae, yang terlihat jauh lebih tua setelah dia tinggalkan.
Semua anggota Super Junior masuk ke dalam barisan mobil yang sudah menunggu. Melody memilih untuk naik di mobil yang sama dengan Taeyong dan Faith. Ada amanah dari Renjun yang harus dia sampaikan pada Taeyong. Apalagi nanti mereka pasti akan bertemu dengan anggota Dream.
"Iya, Melody..... Oppa mengerti.... Sekali lagi kau ingatkan Oppa, kita putar balik ke Inje....." gerutu Taeyong.
Melody membalas dengan tawa gemas.
Ketika mobil yang membawa Melody, Taeyong, dan Faith akhirnya berhenti di depan rumah di Seoul, pintu depan rumah langsung terbuka lebar. Melody melangkah keluar dari mobil, tas kecil di pundaknya tergantung miring, dan kakinya menginjak tanah rumahnya untuk pertama kalinya setelah semua yang ia alami.
Rasa dingin dari trotoar menjalar ke telapak kakinya, dan tiba-tiba ia merasa tubuhnya ringan—seolah beban yang selama ini ia pikul di Tokyo terlepas begitu saja.
"Ini bukan mimpi" gumamnya, dan air mata yang selama ini ia tahan akhirnya meleleh perlahan di pipinya. Ia menatap rumah itu—lampu yang menyala hangat di jendela, bunga-bunga kecil di taman depan yang bergoyang diterpa angin—dan jantungnya terasa penuh. Rasa syukur bercampur dengan keajaiban yang masih sulit ia percaya: ia hidup, ia pulang, dan ia diberi kesempatan kedua.
Tiga wanita dewasa dengan usia berbeda—Sora, Hani, dan Evelyn—sudah berdiri di ambang pintu, menanti dengan penuh harap. Mereka telah menunggu sejak pagi, setelah para suami mereka mengabarkan bahwa rombongan telah terbang dari Tokyo.
Sora, dengan rambut pendeknya dan tangannya memegang apron yang sedikit kusut.
Hani, istri Siwon, berada di sisinya, matanya merah karena menahan tangis sejak mendengar kabar kepulangan gadis yang sudah dia anggap seperti putri kandungnya sendiri itu.
Evelyn, istri Kyuhyun, yang selalu tampak santai namun penuh semangat, berdiri di sisi lain, memegang tas kecil berisi oleh-oleh yang ia siapkan khusus untuk Melody.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unmei no Akai Ito
FanfictionUnmei no Akai Ito, selanjutnya disebut sebagai Benang Merah Takdir, merupakan kepercayaan Jepang yang sebetulnya berasal dari Cina. Konon, di jari kelingking setiap orang ada benang merah yang tak kasat mata, yang akan terhubung dengan jodohnya. Han...
