New Age

86 15 2
                                        

Beberapa hari setelah semua kejadian itu, Melody akhirnya keluar dari rumah sakit. Dia hanya menghabiskan waktu kurang dari seminggu di sana, dan tubuhnya sudah terasa pulih sepenuhnya. Udara segar di luar gedung rumah sakit menyambutnya seperti pelukan hangat, menggantikan aroma antiseptik yang selama ini mengisi hari-harinya. Dengan langkah ringan, ia memutuskan untuk menemui Renjun sekali lagi sebelum kembali ke Seoul keesokan harinya.


Pagi itu cerah, langit biru membentang tanpa awan. Melody menemukan Renjun duduk di bangku taman kecil tak jauh dari rumah sakit, tempat yang sama di mana Melody dan Sunghoon pernah berbincang sebelumnya. Pria itu tampak tenggelam dalam pikirannya, menatap pepohonan yang bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi. Di tangannya, ia memegang secangkir kopi yang uapnya masih mengepul tipis.


Melody mendekat dengan senyum kecil. "Injun Oppa," panggilnya lembut, membuat Renjun menoleh.


Matanya mengerjap, lalu ia tersenyum hangat. "Ody-ah, kau sudah keluar?" tanyanya, suaranya penuh kelegaan. "Bagaimana perasaanmu?"


"Lebih baik," jawab Melody sambil duduk di sampingnya. "Aku pulang ke Seoul besok. Tapi sebelum itu, aku ingin bertemu dulu denganmu"


Renjun mengangguk pelan, seolah sudah menduga. "Ada apa?" tanyanya, meski nadanya menunjukkan ia tahu ini bukan sekadar obrolan biasa.


Melody menatapnya dengan sorot mata penuh harap. "Aku akan menunggu kamu kembali ke Seoul, Oppa," katanya tegas. "Kali ini, kamu harus pulang. Kami semua menunggumu."


Renjun terdiam sejenak, menatap cangkir kopinya. Ada keraguan yang sempat melintas di wajahnya, tapi Melody tidak menyerah. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya berubah lebih lembut namun penuh semangat.


"Oppa, dengar ya. Sunghoon bilang sesuatu padaku waktu kami di taman. Dia bilang, 'Semua yang kau cintai di Seoul sedang menunggumu pulang.' Dan dia juga bilang, dia ingin kamu kembali ke hidupmu, ke panggung, ke orang-orang yang menyayangimu. Termasuk aku."


Renjun menoleh padanya, matanya melebar sedikit mendengar kutipan itu. Melody tersenyum kecil, melihat reaksi itu sebagai tanda bahwa kata-katanya mulai mengena.


"Sunghoon tidak mau kamu terus terjebak di sini, Oppa. Dan aku juga tidak. Kami semua tahu betapa berartinya Seoul buatmu—Dream, panggung, pemggemarmu. Pulanglah, Oppa. Jangan buat kami menunggu terlalu lama."


Renjun menghela napas pelan, lalu menatap Melody dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara haru dan keraguan.


"Iya," jawabnya akhirnya, suaranya tenang tapi pasti.


"Aku akan pulang. Tapi aku perlu waktu untuk mengurus segala sesuatu di sini dulu—untuk Sunghoon. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan sebelum aku bisa kembali."


Melody mengangguk, memahami. "Aku tahu. Tapi janji ya, Oppa. Jangan lama-lama. Aku sudah menunggumu hampir tiga belas tahun. Jangan membuat aku harus menunggu terlalu lama lagi......"


Renjun tersenyum kecil. "Janji."


Namun, sebelum Melody beranjak, Renjun menahannya dengan nada yang sedikit lebih serius. "Oh ya, ada satu hal lagi."


"Apa itu?" tanya Melody, mengerutkan kening.


"Tolong ingatkan Taeyong Hyung supaya dia tidak membocorkan pertemuan kita pada anggota Dream" pintanya. "Biar aku sendiri yang bercerita nanti. Aku ingin mereka mendengar semuanya langsung dariku."


Melody terkekeh kecil.


"Baiklah..... Aku akan pastikan rahasia kita ini aman, Oppa.... Seperti dulu....."


Unmei no Akai ItoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang