Hari-hari setelah kepulangan Melody ke Seoul berjalan dengan ritme baru yang penuh kehangatan. Sesuai janji para anggota Dream, ke mana pun Melody pergi, selalu ada salah satu dari mereka yang mendampinginya.
Chenle kerap menggerutu apabila Melody terlambat, meski hanya lima menit.
Jisung dengan sabar menanti di depan pintu sambil asyik memainkan ponselnya.
Haechan tak pernah lupa membawa camilan untuk dibagi, sementara Jaemin selalu memastikan Melody membawa jaket saat cuaca dingin.
Jeno, dengan diam-diam, sering mengambil alih tas Melody apabila terlihat berat.
Mark, yang menjadi penutup dari semua itu, selalu menyambut Melody dengan senyum menenangkan setiap kali mengantarnya pulang.
Awalnya, Melody merasa sedikit terkekang oleh perhatian berlebih ini. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa semua itu adalah cara mereka memastikan ia tidak akan "menghilang" lagi.
Faith, yang pernah mengalami hal serupa bersama anggota Super Junior, sering kali tertawa kecil melihat tingkah laku para anggota Dream.
"Dulu, aku juga seperti itu," ujarnya suatu hari ketika mereka duduk bersama di sofa selepas Melody kembali dari kegiatannya.
"Para Samchodeul di Super Junior bahkan membuat jadwal resmi untuk mengantarkan dan menjemputku dari sekolah. Kyuhyun oppa pernah mengomel karena aku lupa memberi kabar saat ada les tambahan."
Melody tersenyum mendengar cerita itu, merasa lega bahwa ia bukan satu-satunya yang "dijaga ketat" oleh keluarga besar ini.
Karena telah melewatkan masa pendaftaran perguruan tinggi, Melody memilih mengisi hari-harinya dengan membantu Sora di toko roti keluarga atau mengikuti Hani mengajar di kelas terapi musik.
Di toko roti, ia belajar membuat roti dan kue dari Sora yang sabar mengajarinya cara menguleni adonan hingga mencapai tekstur yang sempurna.
"Kau memiliki bakat, Melody," ujar Sora suatu sore sambil mengelap tangan di apron yang sedikit berdebu.
"Tapi jangan beri tahu Faith. Nanti dia iri padamu...."
Melody tertawa kecil, menikmati kebersamaan sederhana itu.
Sementara itu, di kelas terapi musik bersama Hani, ia menemukan ketenangan saat membantu anak-anak memainkan alat musik sederhana—mengingatkannya pada masa kecilnya yang penuh melodi.
Setelah kepulangannya, Melody mulai rutin mengunjungi makam ibunya setiap akhir pekan. Pertemuan ajaib dengan sosok sang ibu di Tokyo telah mengubah pandangannya terhadap wanita yang sebelumnya hanya ia kenal lewat foto keluarga dan mimpi samar masa kecil.
Kini, sosok ibunya terasa begitu nyata—hangat, penuh cinta, dan senantiasa hadir dalam ingatannya. Setiap kunjungan, ia membawa bunga kecil dari taman depan rumah dan duduk di depan nisan untuk bercerita tentang hari-harinya.
Pada suatu akhir pekan, sebulan setelah kepulangannya, Melody datang ke makam ditemani oleh Jeno dan Jaemin. Keduanya berdiri agak jauh, memberi ruang bagi Melody untuk berbicara secara pribadi. Ia menatap nisan itu sejenak, lalu mulai berbicara dengan suara pelan.
"Eomma... Injun Oppa sampai saat ini belum juga kembali. Apa ia berbohong padaku? Aku menunggunya setiap hari, tetapi kadang aku takut... takut ia tidak akan datang."
Ia menarik napas dalam-dalam, suaranya mulai bergetar.
"Aku pergi ke Jepang waktu itu karena aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpanya. Aku menyukai Injun Oppa, Eomma. Aku menyayanginya. Sepertinya... aku mencintainya. Namun, apakah ini mungkin? Usia kami terpaut cukup jauh, dan aku tidak tahu apakah keluarga akan menyetujui. Aku juga tidak tahu apakah ia menyukaiku atau tidak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unmei no Akai Ito
FanfictionUnmei no Akai Ito, selanjutnya disebut sebagai Benang Merah Takdir, merupakan kepercayaan Jepang yang sebetulnya berasal dari Cina. Konon, di jari kelingking setiap orang ada benang merah yang tak kasat mata, yang akan terhubung dengan jodohnya. Han...
