Falling Slowly

87 12 2
                                        



Kalau kalian pikir setelah aku mengungkapkan identitasku yang sebenarnya pada Injun Oppa dan dia langsung percaya pada semua perkataanku, maka kalian salah besar. Bukannya percaya, aku malah diusir dari gedung miliknya.


Iya


Aku diusir


D.I.U.S.I.R


Injun Oppa mengusirku dengan amarah yang menggelegak. Aku tidak pernah melihat dia marah seperti itu sebelumnya. Aku tahu sih kalau Injun Oppa itu pemarah. Kata Dream Oppadeul yang lain, juga penggemar mereka, kesabaran Injun Oppa itu kalau mau diibaratkan seperti tissue yang dibelah tujuh.


Iya


Setipis itu memang kesabaran Injun Oppa


Apalagi kalau Haechan Oppa, Chenle Oppa atau Jisung Oppa sudah mulai bertingkah. Aku sering lihat di video-video lama mereka, bagaimana ketiga orang itu selalu saja membuat volume suara Injun Oppa mencapai batas maksimalnya. Mungkin juga, itu yang menjadi alasan kenapa Injun Oppa dengan mudah mencapai nada-nada tinggi di setiap lagu mereka.


Dia terlatih meneriaki Dream Oppadeul.


Kembali pada kenyataan bahwa aku diusir oleh Injun Oppa.


Jangan tanya bagaimana sakitnya hatiku sekarang. Tapi sebenarnya, yang membuat aku lebih sakit adalah reaksi Injun Oppa setelahnya. Sehabis dia mengusirku dengan marah, dia pergi meninggalkanku lebih dulu. Aku melihat punggungnya bergerak saat dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke suatu tempat yang berada di bagian paling belakang gedung ini. Beberapa saat kemudian aku mendengarkan bunyi pintu yang dibanting dengan keras.


Dan disinilah aku sekarang, dua puluh menit setelah aku diusir oleh Injun Oppa, berdiri dengan perasaan resah di depan pintu ruangan yang kemungkinan besar dituju oleh Injun Oppa tadi.


Tebakanku, kamar Injun Oppa berada di balik pintu ini.


Aku menarik napas panjang lalu memajukan salah satu daun telingaku dan aku sandarkan di permukaan pintu tersebut. Sayup-sayup, aku bisa mendengar suara isak tangis Injun Oppa yang menyayat hatiku.


Astaga.....


Aku tidak menyangka Injun Oppa akan bereaksi seperti ini.


Aku mendecakkan lidahku.


Awas saja kau, Akkinta....


Injun Oppa jadi menangis karena ide bodohmu itu.....


Eh,


Aku lupa


Ini ideku atau ide si roh gentayangan itu ya ?


Pokoknya, ingatkan saja aku untuk memarahinya....


Aku menjauhkan telingaku dari permukaan pintu lalu memutuskan untuk duduk membelakangi pintu tersebut.


"Oppa......." Aku memanggil Injun Oppa meski aku tahu dia tidak akan menyahutiku.


"Kau pasti berpikir kalau aku sudah gila, kan ? Atau mungkin, kau menganggap aku sebagai seorang penguntit yang menakutkan..... Bagaimana bisa aku mengaku bahwa aku adalah Lee Melody sementara mungkin, fakta yang kau tahu kalau aku sudah meninggal.....Bayangkan perasaanku ketika melihat diriku tapi di dalam tubuh orang lain. Aku tidak percaya, tapi itulah yang terjadi. Aku juga menganggap ini semua hanya mimpi..... Mimpi yang sangat buruk... Aku berharap aku segera terbangun dan kembali bertemu dengan keluargaku....."


Aku menjeda ucapanku sejenak untuk menarik napas panjang.



"Aku datang ke negara ini karena aku sangat merindukanmu, Oppa..... Belasan tahun yang lalu kau pergi tanpa berpamitan padaku..... Aku ditinggalkan dengan segudang pertanyaan. Kenapa kau pergi ? Apa yang terjadi ? Kenapa tidak pernah ada kabar ? Apa kau hidup dengan baik ? Apa kau sudah menikah ? Apa kau bahagia ?"



"Aku tidak pernah melupakanmu, Oppa...... Tidak pernah..... Kalau kau berpikir aku akan mudah melupakanmu karena kau meninggalkan aku saat aku masih sangat kecil dulu, maka kau salah besar.... Katanya, karena hati mereka masih murni, anak kecil justru selalu mengingat orang-orang yang menyayangi mereka dengan tulus. Kau menyayangiku dengan tulus, Oppa..... Bagaimana aku bisa menyingkirkanmu dari hati dan pikiranku ?"


"Dream Oppadeul juga selalu mengingatmu. Aku tumbuh besar dengan cerita-cerita mereka tentangmu, dengan sederet album foto yang berisi kenangan kita. Aku masih menyimpan semua album foto itu sampai sekarang. Meskipun, ada kekosongan yang tidak bisa digantikan oleh siapapun sejak Oppa pergi, tapi kami masih terus membuat album foto yang baru dan mengisinya dengan kenangan kami. Album-album foto ini yang akan menggantikan semua cerita kami seandainya Oppa kembali nanti....."


Suaraku mulai bergetar karena emosi yang bercampur menjadi satu. Bicara tentang Dream Oppadeul membuat aku jadi merindukan semua keluargaku yang aku tinggalkan di Seoul sana. Tenggorokanku tercekat dan air mata mulai meluncur dengan deras.



"Mungkin, rasa rinduku padamu yang membuat semesta mengijinkan aku meminjam raga orang lain demi bisa bertemu lagi denganmu, Oppa..... Mungkin, rasa putus asaku karena tidak kunjung mendapatkan kabar tentangmu yang membuat para dewa di langit memperpanjang sedikit umurku demi bisa mendengar suaramu lagi...."



"Meskipun saat ini kau melihatku sebagai orang lain, kau menganggap bahwa aku adalah orang lain, kau memperlakukan aku sebagai orang lain, tapi aku menerimanya dengan senang hati...." Waktuku tidak banyak lagi, Oppa..... Mungkin saja..... ini adalah kesempatan terakhirku untuk bisa mendengar alasan kenapa kau pergi meninggalkan kami semua.....Kenapa kau meninggalkan aku ?"



Kepalaku tertunduk dan aku menangis dengan keras. Kata-kata terakhir yang aku ucapkan mengingatkan aku kembali kalau waktuku tersisa sedikit. Setelah ini, setelah jiwa Kaoru kembali ke raganya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Akan kemana aku nanti ? Apa aku akan kembali pada ragaku sendiri ? Atau justru, aku akan pergi menyusul ibu kandungku yang sudah wafat bertahun-tahun yang lalu.


Tiba-tiba,


Aku mendengar suara anak kunci yang diputar yang disusul dengan suara derit pintu yang bergerak terbuka. Dengan mata yang basah, aku mendongakkan wajahku dan melihat Injun Oppa berdiri di hadapanku. Wajahnya juga tidak kalah menyedihkannya dengan wajahku sekarang.


Mataku bergerak mengikuti semua pergerakan yang dilakukan oleh Injun Oppa.


Injun Oppa menurunkan tubuhnya secara perlahan, lalu berjongkok di hadapanku. Tangannya terjulur ke depan dan dengan lembut mengusap wajahku yang basah. Aku bisa melihat kedua bibir Injun Oppa terlipat ke dalam. Dia pasti sedang berusaha untuk tidak ikut menangis.


"Ody-ah ?" suara Injun Oppa terdengar lirih saat memanggil nama kecilku.


Astaga.....


Betapa aku rindu mendengar suara lembut Injun Oppa memanggilku seperti itu.


"Ody-ah ? Lee Melody ?" suara Injun Oppa yang tadi lirih sekarang mulai terdengar mantap saat menyebut namaku.


Aku merespon dengan menganggukkan kepalaku.


"Nde, Oppa.... Ini aku...."


"Lee Melody....." Injun Oppa mengulangi lagi.


"Euhmmm......"jawabku.


Lalu tiba-tiba, Injun Oppa meraihku ke dalam pelukannya dan dia memelukku dengan sangat erat.


"Maafkan Oppa..... Maafkan Oppa..... Oppa sudah berbuat jahat kepadamu..... Maafkan Oppa....." ucap Injun Oppa berulang-ulang di telingaku.


Aku menggelengkan kepalaku di dalam pelukan Injun Oppa. Tanpa bicara, aku hanya membalas dengan balas memeluk Injun Oppa lebih erat lagi.



(TBC)

Unmei no Akai ItoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang