Renjun PoV
"Kau, siapa ?"
Secara tidak sengaja, aku berbicara dalam bahasa Korea. Mataku menatap lamat ke netra milik Kaoru. Untuk sesaat, aku merasa dia mengerti dengan apa yang aku ucapkan.
Kalimat yang menyambut kedatangan kami di museum kontemporer ini adalah penyebabnya.
The Sunflower is mine, in a way....
Sebaris kalimat ini mampu melemparkan aku ke masa lalu. Ke masa dimana aku masih berdiri tegak di atas panggung, bernyanyi dengan penuh kepercayaan diri. Saat itu, ada seseorang yang bagai bunga matahari untukku. Tidak hanya untukku, tetapi juga untuk lima orang yang lain. Seseorang yang ceria. Seseorang yang selalu menghangatkan suasana.
Seperti bunga matahari.....
Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana rindunya aku pada sosok seperti bunga matahari itu....
Sosok yang dideskripsikan secara jelas oleh Kaoru dalam kalimatnya. Seolah-olah gadis itu mengenal sosok yang sama dengan sosok yang melekat erat di dalam ingatanku. Sosok yang membuat aku terpaku kini.
Sangat tidak mungkin kalau deskripsi Kaoru itu mengarah pada orang yang sama dengan yang ada di dalam pikiranku saat ini kan ?
Kaoru tidak mungkin mengenal Lee Haechan sama seperti aku mengenalnya sebagai sosok yang menyerupai bunga matahari.
"Minhyung-kun..... lepas..... kau menyakitiku....."
Kedua mataku mengerjap. Kesadaranku kembali. Aku lantas melepaskan cekalanku dari tangan Kaoru.
"Maafkan aku, Kaoru-chan..... tetapi, aku butuh waktu untuk sendirian....." Aku melangkah mundur. Meninggalkan Kaoru yang kebingungan. Kemudian melesat dengan cepat meninggalkan tempat pameran tersebut.
Aku berjalan tanpa arah. Dengan pikiran yang penuh, aku menaiki bus yang berhenti di depanku tanpa tahu kemana bus ini akan mengarah. Yang aku perlukan hanya segera menjauh demi meredakan rasa sesak yang membuncah di dalam dadaku.
Kenangan demi kenangan berkelabat di benakku. Kenangan yang kupikir sudah berhasil aku kubur dalam-dalam. Aku bahkan sengaja membangun tembok yang tinggi untuk sebagai pagar pembatas agar aku tidak lagi mengulik kenangan-kenangan tersebut. Tetapi hanya dibutuhkan satu kalimat saja. Satu kalimat, dan aku kembali terlempar ke masa lalu yang ingin aku lupakan itu.
Dulu, hidupku benar-benar sempurna. Aku punya karier menyanyi yang cemerlang. Aku punya teman-teman yang menyenangkan. Aku punya keluarga yang selalu mendukungku apapun yang terjadi. Aku punya segalanya. Mungkin aku terlalu sombong karena pernah berpikir bahwa tidak ada yang bisa merebut kehidupanku yang sempurna itu.
Tapi kemudian, satu kejadian membuat aku terhempas sampai ke dasar. Meski ada banyak tangan yang terulur untuk meraihku. Menawarkan bantuan supaya aku bisa kembali lagi ke permukaan, tetapi aku menolaknya. Aku tidak bisa lagi kembali ke kehidupanku yang dulu.Bagaimana aku bisa melakukan itu ketika aku secara sadar telah membuat satu keluarga menderita ? Aku harus menghukum diriku sendiri. Hukuman yang setimpal dengan perbuatanku.
Melepaskan segalanya adalah hal yang terasa paling benar untuk aku lakukan.
🎀🎀🎀
"Anak muda, kau mau turun dimana? Ini adalah perhentian yang terakhir....."
Aku terkesiap. Aku memeriksa sekelilingku. Entah sudah berapa lama aku berada di dalam bus ini. Tetapi hanya tertinggal aku di dalam bus ini. Bapak tua yang berada di balik kemudi tentu bertanya padaku tadi.
"Maafkan aku..... Aku akan turun di sini...."
Dengan segera aku beranjak bangkit. Turun dari bus tersebut melalui pintu bagian tengah yang terbuka secara otomatis setelah sebelumnya memindai kembali kartu transportasi publik milikku sebagai penanda bahwa aku mengakhiri perjalananku di tempat ini.
Saat aku menjejakkan kedua kakiku ke tanah, aku baru sadar bahwa perhentian terakhir dari bus ini adalah sebuah halte yang ada di tepi pantai. Suara ombak yang terhempas di bibir pantai terdengar silih berganti. Sepertinya seluruh alam semesta sedang mengejekku hari ini. Ketika aku berusaha menghindari hall museum yang membuatku teringat pada Lee Haechan, aku justru datang ke tempat yang membangkitkan kenangan lain yang berusaha aku lupakan.
Dulu, kami bertujuh sangat suka bermain ke pantai. Aku dan Haechan akan saling mencipratkan air laut ke tubuh kami masing-masing. Jisung dan Chenle akan saling mendorong sampai ada salah satu yang tercebur ke laut. Jaemin akan sibuk mengambil gambar kami semua lewat kamera kesayangannya sementara Jeno dan Mark Hyung hanya akan berdiri bersisian, mengawasi kami yang larut dalam permainan.
Biasanya, sebelum kami berangkat ke pantai, aku akan berinisiatif membeli beberapa barang supaya kami bisa bermain mencari harta karun bersama. Aku akan meminta manajer untuk menyembunyikan barang-barang tersebut lalu kami akan mencarinya bersama-sama. Aku suka melihat bagaimana antusiasnya mereka mencari barang-barang yang sudah aku siapkan. Hatiku terasa hangat saat melihat mereka berseru kegirangan ketika menemukan barang-barang yang tersembunyi itu. Barang-barang yang tampak sederhana, tetapi aku mengerahkan seluruh hati dan pikiranku untuk memutuskan setiap barang yang aku beli itu.
Aku mencari tempat yang teduh lalu mendudukkan diriku di sana. Beruntung tidak ada orang lain selain diriku di pantai ini. Aku mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas tanganku. Bukan ponsel yang aku gunakan belakangan ini, tetapi ponsel yang pernah aku gunakan saat aku masih di tinggal Seoul.
Sengaja aku masih mengaktifkannya, meski aku harus mengurus perpindahan nomor itu menjadi atas nama pengacaraku agar tidak ada yang bisa melacak keberadaanku di negara ini. Mungkin, aku melakukan itu karena aku tidak pernah benar-benar ingin melupakan segalanya. Di antara tembok yang sengaja aku bangun itu, ada lubang kecil yang sengaja aku biarkan terbuka karena aku tahu aku tidak bisa benar-benar melupakan mereka.
Aku mengusap layarnya dengan menggunakan ibu jariku. Aku menundukkan wajahku, menatap layar ponsel yang dayanya tinggal tersisa sekitar dua puluh persen saja. Lampu LED menyala. Tampilan depan ponsel lamaku itu muncul setelahnya. Ada ratusan panggilan tidak terjawab, ribuan notifikasi pesan yang tidak pernah sama sekali aku baca. Aku membiarkannya begitu saja.
Lagi-lagi, alam semesta memang sengaja mempermainkanku hari ini. Sebaris nama yang sejak tadi membuat kacau tiba-tiba muncul di layar.
Haechan memanggil
Jari-jariku bergetar.
Haruskah kali ini aku menjawab panggilannya ?
Tapi getar lain dari ponselku yang aku gunakan di negara ini mengalihkan perhatianku. Dengan cepat mengeluarkan ponselku itu. Mataku terbelalak saat membaca identitas kontak yang berusaha menghubungiku saat ini.
Rumah Sakit Umum Tokyo memanggil
Aku segera menjawab panggilan tersebut.
"Moshi-moshi...."
Mataku membeliak sempurna saat aku berusaha untuk mencerna berita yang sedang diteruskan padaku oleh sang penelepon.
"Aku akan segera ke sana...."
Membiarkan panggilan Haechan berhenti dengan sendirinya, aku bergegas bangkit dan berlari menuju ke halte bus. Untung saja ada taksi yang lewat dan aku segera menghentikannya.
Biarkan kenangan-kenangan itu tetap pada tempatnya, Huang Renjun....
Kau sudah melepaskan semuanya....
Kau harus tetap melakukannya....
(TBC)

KAMU SEDANG MEMBACA
Unmei no Akai Ito
FanfictionUnmei no Akai Ito, selanjutnya disebut sebagai Benang Merah Takdir, merupakan kepercayaan Jepang yang sebetulnya berasal dari Cina. Konon, di jari kelingking setiap orang ada benang merah yang tak kasat mata, yang akan terhubung dengan jodohnya. Han...