I Can't Run Away

75 11 2
                                    

Bertindak nekat adalah satu-satunya hal yang terpikirkan di kepalaku sekarang. Aku bisa berakhir di raga Kaoru sekarang ini adalah hasil dari tindakan nekatku untuk datang ke Jepang demi mencari Injun Oppa. Rasa penasaran yang sudah menumpuk di dalam diriku selama bertahun-tahun ini menjadi penyebab dan alasannya, meskipun aku tidak menduga kalau tingkah nekatku ini ternyata harus membuat aku hampir kehilangan nyawaku sendiri.


Aku bilang hampir, karena nyatanya saat ini aku masih hidup meski mendiami raga orang lain.


Jadi, bertindak nekat sekali lagi, tentu tidak akan menjadi masalah kan ?


Begitu jam kerjaku selesai, aku bergegas menuju ke gedung milik Injun Oppa tanpa membuat janji sebelumnya. Reiko bahkan sampai terheran-heran melihatku yang tampak sangat terburu-buru untuk meninggalkan kafe. Ucapan Akkinta soal waktuku yang tidak lama lagi di dalam raga milik Kaoru ini membuat aku mengesampingkan banyak hal.


Matahari belum sepenuhnya terbenam ketika aku akhirnya berdiri di depan pintu masuk gedung milik Injun Oppa. Sepanjang hari ini Injun Oppa sama sekali tidak memesan apapun, baik makanan maupun minuman, membuat aku jadi gelisah. Jangan sampai kedatanganku hari ini jadi sia-sia karena Injun Oppa tidak berada di tempat.


Tangan kananku terulur untuk menekan bel yang terpasang di samping pintu masuk. Aku menunggu sambil berharap cemas, mungkin selama lima menit yang terasa sangat lama itu, sampai akhirnya aku mendengar suara pintu yang terbuka. Aku menghembuskan napas lega, Injun Oppa berada di dalam gedungnya.


Aku mendorong pintu masuk yang telah terbuka itu lalu melangkahkan kakiku ke dalam. Suara derap langkah seseorang yang menuruni tangga terdengar kemudian.


"Kaoru-chan.... Sebuah kejutan yang menyenangkan...." Injun Oppa menyambut kedatanganku dengan senyum di wajahnya.


"Minhyung-kun....." balasku sembari membungkuk sekilas. "....Maaf karena berkunjung tanpa pemberitahuan terlebih dahulu...." lanjutku.


Injun Oppa menggelengkan kepalanya.


"Ayo naik ke lantai dua..... Akan kubuatkan teh untukmu...." ajak Injun Oppa lalu berjalan mendahului untuk naik ke lantai yang dia maksud.


Injun Oppa mempersilahkan aku duduk di sofa panjang yang sama dengan yang aku duduki ketika terakhir kali aku berkunjung ke tempat ini, sementara Injun Oppa turun ke lantai satu untuk membuatkan teh untukku. Dari tempatku sekarang, aku bisa melihat ada sederet lukisan baru yang mungkin baru selesai dikerjakan oleh Injun Oppa.


"Aku baru saja mendapatkan kiriman teh herbal dari kenalanku. Aku harap kau menyukainya, Kaoru-chan..." suara Injun Oppa membuat aku mengalihkan pandangan dari barisan kanvas yang penuh dengan warna menjadi menatap Injun Oppa yang hari ini terlihat tampan-dia selalu tampan buatku-dengan balutan sweater warna cokelat keemasan serta kacamata yang menghias wajahnya. Dia membawa nampan yang berisi dua gelas teh hangat serta sepiring kudapan warna warni.


"Aku tahu ini bukan upacara minum teh, tapi aku paling suka menyantap namagashi setiap kali aku menyeduh secangkir teh....." jelas Injun Oppa ketika dia menggeser sepiring kudapan warna warni yang katanya bernama namagashi itu ke arahku.


Aku mengambil satu potong namagashi yang berbentuk bulat dan dihiasi dengan kelopak bunga sakura di atasnya. Tepung beras bercampur dengan rasa manis pasta kacang merah langsung memenuhi indera perasaku.


"Enak kan ?" tanya Injun Oppa. Aku mengangguk mengiyakan.


Setelah menghabiskan satu potong namagashi lalu menyesap teh herbal yang disuguhkan oleh Injun Oppa, lidahku terasa kelu. Aku bingung harus memulai pembicaraan dari mana dengan Injun Oppa sehingga yang aku lakukan kemudian hanyalan menatap lurus ke arah Injun Oppa yang duduk di hadapanku.


Unmei no Akai ItoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang