Happy Reading 📚
"Gerak lagi dia, Sayang!"
Arum terkekeh melihat wajah Rama yang tampak berbinar kala merasakan pergerakan bayi mereka yang masih berada dalam perut Arum.
Rama mendekatkan wajahnya ke perut Arum yang kini sudah besar. Ia berbisik di sana, "Suka dielus Papa ya?"
"Sshh-," Tepat dua detik setelah bisikan sang suami, Arum dibuat meringis kala merasakan ngilu di area perutnya yang dibarengi gerakan cukup kuat dari calon bayi mereka.
"Sakit, Love?" Ada raut khawatir yang nampak samar di wajah Rama saat ia melayangkan pertanyaan itu.
Arum tersenyum, lalu menggeleng. "Engga, cuma ngilu aja, sedikit. Kayaknya dia seneng diajak ngobrol sama kamu. Tendangannya kenceng." Ia terkekeh di penghujung kalimat.
Tangan Rama kembali memberikan elusan pelan di perut buncit Arum, ia berikan kecupan singkat di sana. "Satu bulan lagi Baby ketemu sama Papa-Mama, jangan nakal dulu ya, baik-baik di perut Mama, okey?"
Atas pertanyaan itu, Rama kembali merasakan gerakan pelan di sekitar tangannya. Ia menarik senyum, merasa lucu akan momen tersebut. Laki-laki itu kembali membubuhi kecupan ringan, "Pinter."
"Kaki kamu masih pegel?" Kini fokus Rama beralih pada istrinya yang sedari tadi menyaksikan interaksinya dengan bayi mereka.
Arum menggeleng pelan, "Udah mendingan kok, kamu tenang aja."
Rama mengangguk samar, "Kamu yakin ngga mau aku temenin ke rumah Papa-Mama? Atau tunggu aku selesai meeting, biar barengan ke sananya."
Siang ini harusnya Arum dan Rama pindah ke rumah utama sesuai rencana yang sudah mereka sepakati sejak minggu kemarin. Kepindahan tersebut dilakukan atas usulan Andira-Ibunda Rama-yang mengaku khawatir apabila Arum harus tetap berada di rumah seorang diri sampai waktu HPL tiba, mengingat usia kandungan Arum saat ini mulai memasuki bulan kesembilan. Usulan tersebut langsung saja disetuju oleh Rama yang memang sebelumnya sempat berpikir demikian. Meski sebenarnya ada asisten rumah tangga yang menemani, tapi Rama merasa jauh lebih tenang apabila istrinya dijaga langsung oleh sang ibunda. Untuk itulah ia menyanggupi meski itu artinya Rama harus menempuh waktu lebih lama menuju kantor atau bahkan tidak bisa pulang beberapa hari sebab jarak antara kantornya dengan rumah utama yang terbilang cukup jauh.
"Ngga usah, aku ngga apa-apa. Lagian nanti dijemput sama Mama, kamu tenang aja. Kamu sendiri inget kan kata Papa kemarin, hari ini meeting penting. Kamu harus hadir." Jawab Arum sembari sedikit membenarkan kerah kemeja suaminya.
Rama menghela nafas pelan, tidak bisa menampik hal tersebut. "Ya udah, nanti kalau udah mau berangkat kabarin aku ya, Sayang? Setelah meeting aku usahain langsung nyusul."
Arum tergelak kecil, "Aku ke rumah orang tua kamu lho, bukan keluar kota. Kok kamu khawatir banget sih?" Tanyanya yang kemudian memberi kecupan singkat di pipi sang suami.
"Perjalanannya agak jauh, takut kamunya ngga nyaman tapi aku ngga ada buat nemenin kamu." Akunya.
"Astaga ..." Arum tak bisa menyembunyikan tawa gelinya, "Udah ah, kamu berangkat sana, udah jam lho. Nanti telat sampai kantor."
Rama berdecak, "Cium dulu." Ujarnya sembari memajukan wajahnya.
"Malu ah, nanti Bibi tiba-tiba ke sini gimana?"
"Ngga akan. Paling kalau Bibi liat, dia cuma shock dikit terus bilang 'ya ampun' kayak minggu kemarin."
Arum menepuk pelan bahu suaminya, otaknya otomatis mendayu pada ingatan minggu lalu di mana Bi Ning yang merupakan asisten rumah tangga mereka memergoki Arum dan Rama tengah asik bercumbu di taman belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
TANYA GENGSI
Romansa19+ | Arum tahu bahwa hidupnya tidak akan baik-baik saja setelah ia sah menjadi istri Rama, si pelaku pembullyan saat dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. ___________ Arkasa Rajendra Rama adalah sosok laki-laki yang mati-matian Arum...
