Selamat membaca!
***
Dua garis.
Iya, Husna baru saja melihat hasil dari tes kehamilan tadi pagi. Berita bahagia ini baru diketahui oleh kedua orang tua Gaffi yang Husna kabari tadi. Setelah mengetahui berita kehamilan ini, Riana dan Zidan akan kembali ke Indonesia secepatnya karena mereka tidak mau melewatkan moment bahagia ini. Apalagi menyangkut keturunan Ekbal yang akan hadir ditengah-tengah keluarga mereka. Pewaris selanjutnya akan segera hadir. Namun sayangnya, hanya Gaffi yang belum tahu mengenai kabar bahagia ini. Seperti direncana awal Husna akan mengunjungi kantor pria itu bersama Dafi dan membawa makan siang yang sudah ia siapkan. Tak lupa juga untuk membawa kue yang sudah ia buat agar mengetahui kabar bahagia ini.
Husna sudah bersiap sejak tadi. Begitu juga dengan Dafi yang sejak tadi tidak sabar untuk bertemu dengan Papanya. Saat ini Husna sedang menunggu supir dari kantor yang diperintahkan Gaffi untuk menjemput dirinya.
Tin
Mendengar suara klakson mobil, Husna yang sedang menggendong Dafi pun langsung keluar rumah dengan menguncinya terlebih dahulu.
Pintu belakang dibukakan oleh supir, pria paruh baya itu sempat menyunggingkan senyumnya. "Silahkan, Nyonya," ujar supir itu dengan ramah.
"Terima kasih, Pak." Jawab Husna dengan sopan.
Kemudian mereka melaju menuju kantor Gaffi. Mengingat dirinya sedang berbadan dua membuat Husna reflek mengelus perutnya. Ia sendiri tidak menyangka dan baru menyadari kalau dirinya telat tiga minggu. Husna ingin buru-buru melihat reaksi suaminya mengenai kabar kehamilannya ini.
Dafi sendiri belum tahu bahwa dia akan mempunyai adik baru. Kemungkinan mereka yang akan berusaha untuk memberitahu Dafi bahwa dirinya akan menjadi seorang abang. Tanpa sadar Husna menangis, ia mengusap sudut matanya yang terasa berair.
Sesampainya di kantor Gaffi, banyak pasang mata yang menyapa dan memperhatikan mereka berdua. Mereka semua menyambut Husna dan Dafi dengan baik. Seperti saat ini Husna langsung bergegas menuju lift khusus pemilik perusahaan.
Sebelum masuk, Husna bertemu dengan sekretaris Gaffi yang bernama Candra. Pria itu langsung membungkukan badannya dan tak lupa menyapa Husna sebagai bentuk rasa hormat. "Selamat siang, Bu. Mau bertemu Pak Gaffi ya, Bu?"
Husna mengangguk. "Iya, Pak Gaffi nya ada kan?"
"Ada Bu, silahkan masuk."
"Terima kasih, Candra." Candra mengangguk sebagai jawabannya. Kemudian pria itu langsung kembali duduk untuk kembali menyelasaikan pekerjaannya, karena sebentar lagi menuju jam makan siang.
***
Ruangan Ceo
Gaffi Ekbal Putra
Sesampainya di depan ruangan Gaffi, Husna mengetuk pintu kemudian mendorong pintu agar terbuka. Terlihat pemilik perusahaan sedang bersandar pada kursi besarnya sambil membaca berkas yang sudah menumpuk. Entahlah, Husna tidak tahu. Apakah berkas yang ditumpuk itu sudah selesai atau belum dikerjakan, yang terpenting suaminya itu harus kembali mengisi tenaganya lebih dulu agar kembali semangat.
Gaffi yang melihat kehadiran anak dan istrinya seketika langsung menghampiri dan langsung memeluk istrinya terlebih dahulu. Setelah itu memindahkan Dafi dari tangan Husna ke tangan Gaffi, biar pria itu yang mengambil alih anak pertamanya. Tak lupa juga Husna mencium punggung tangan Gaffi.
KAMU SEDANG MEMBACA
GAFNA
Tâm linhNote : setelah membaca cerita ini, silahkan ambil sisi baiknya saja! Ini kisah dua insan yang harus menikah saat Riana--- selaku majikan Husna memintanya untuk menikah dan menjadi istri dan ibu sambung untuk Dafi. "Kamu yakin mau jadi istri dan ibu...
