Selamat membaca!
Sebentar lagi menuju ending teman-teman.
Xxx
"Pak, Bu, Husna pamit ya. Nanti kalau ada waktu pasti kami akan kesini lagi." Pamit Husna yang sedang mengusap nisan kedua orang tuanya.
"Kami pamit ya. Saya janji akan menjaga anak bapak dan ibu dengan segenap hati. Jadi bapak dan ibu tidak perlu khawatir mengenai anak bapak dan ibu." Ucap Gaffi dengan mantap.
Selesai berkunjung dari makam kedua orang tua Husna. Mereka berempat sedang mencari restoran untuk makan, mengingat hari sudah semakin siang dan mereka belum makan siang.
Setelah menemukan restoran, mereka saat ini sudah memilih menu makanan, jadi tinggal menunggu makanan dan minuman yang sudah mereka pesan.
"Kamu tidak makan, Husna?" Tanya Gaffi pada Husna yang sedang menggendong Alia dan menyuapi Dafi.
Husna menengok dan berkata, "aku suapin Dafi dulu mas, nanti baru aku makan,"
Gaffi yang baru saja mendengar jawaban dari Husna yang seperti itu langsung mendekatkan Dafi kearahnya. "Biar saya saja yang suapin Dafi, kamu makan saja."
"Gimana sama mas Gaffi? Mas Gaffi juga lagi makan, kan?"
"Jangan pikirkan saya. Sembari saya makan, saya juga bisa menyuapi Dafi. Mana mungkin saya bisa makan dengan tenang sedangkan kamu sedang sibuk dengan anak kita."
"Dafi ayok makan sama Papa, buka mulutnya!" Perintah Gaffi pada sang anak.
Dafi hanya menurut. "Bunda juga makan ya," ucap Dafi pada Husna.
Husna hanya mengangguk sembari mengusap kepala Dafi dengan sayang. "Iya sayang. Abang juga makanannya di habiskan ya,"
Xxx
Sehabis bersinggah di restoran dan membayar pesenan mereka, saat ini mereka sedang berada di penginapan yang jaraknya tidak jauh dari Malioboro.
"Hahahaha geli Papa, sudah-sudah abang geli," ucap Dafi sembari tertawa. Anak itu baru saja selesai mandi bersama Gaffi.
"Hayo pakai bajunya dulu, nanti Bunda marah kalau abang kayak begini,"
"Bunda tolong abang, Papa gelitikin abang," teriak Dafi.
Husna yang melihat kedua insan itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bapak dan anak.
Ibu dua anak itu berjalan kearah sumber suara. "Sudah-sudah, Mas, kasihan Dafi nya. Sini abang, bunda pakaikan bajunya." Ucap Husna yang sudah mengambil alih pakaian Dafi dari tangan Gaffi.
"Abang menang, Papa kalah." Kata Dafi dengan menyombongkan dirinya saat tahu Husna membela dirinya.
"Eitsss, abang kok gitu sama Papa? Gak boleh seperti itu. Hayo abang harus apa?" Ucap Husna dengan lembut.
Dafi menunduk dan berkata, "maafin abang ya, Papa," sesal Dafi.
Gaffi hanya tersenyum melihat perilaku sang anak. Ia bangga melihat anak pertamanya begitu sopan terhadap orang tuanya.
Pria itu mendekat kearah sang anak, kemudian menyamakan tinggi Dafi dan tak lupa mengusap kepala Dafi dengan begitu sayang. "Iya Papa maafkan. Sekarang kasih Papa senyuman dong,"
Saat itu juga Dafi langsung memeluk Gaffi dan tak lupa memberikan senyuman selebar mungkin.
"Sekarang abang sama Papa dulu ya, Bunda mau mandiin adik dulu,"
Dafi mengangguk sambil mengacungkan kedua jempol tangannya. "Oke, Bunda,"
Malam hari anak-anak sudah pada tidur, kini tinggal pasutri itu yang masih belum tidur. Seperti saat ini Husna sedang mencari Gaffi yang ternyata ada di balkon kamar.
"Mas, aku cariin ternyata kamu di sini," ucap Husna sembari duduk di samping Gaffi.
Pria itu langsung menoleh kearah sumber suara. Dia begitu kaget saat tahu sang istri mendekati dirinya. Buru-buru ia menjauhkan rokoknya dari jangkauan istrinya.
"Kenapa disini? Saya lagi merokok,"
Husna tidak menggubris perkataan suaminya, ia masih tetap di posisi awal yaitu duduk. "Mas kenapa belum tidur?" Tanya Husna lagi.
"Belum mengantuk. Kamu masuk dulu, nanti saya susul,"
"Mas," panggil Husna dengan sangat pelan.
"Ya?"
"Terima kasih banyak ya,"
"Untuk?"
"Semuanya. Tentang hari ini yang menurutku banyak kejutan."
"Ini belum seberapa. Apakah kamu senang?"
Tentu saja Husna mengangguk. "Tentu. Ini pertama kali kita liburan komplit begini. Senang sekali rasanya, Mas," tak lupa diakhiri dengan senyum tipis.
Rasanya Gaffi bisa bernafas dengan lega, seperti beban yang ia pikul bisa menjadi lebih ringan ketika melihat senyuman Husna.
"Saya pastikan hanya ada air mata kebahagiaan dan senyum manis yang akan menghiasi wajah manismu." Ungkap Gaffi sembari menyesap rokoknya.
Saat itu juga Husna merasakan pipinya panas ketika mendengar penuturan sang suami saat memuji dirinya.
Husna tidak berhenti mengucap rasa syukur kepada Sang Pencipta. Ia merasa kebahagiaan yang berlimpah. Ini mimpinya, ini penantiannya, ini hasil dari kesabarannya selama ini.
"Aku jadi ingat dengan Mbak Wiwin. Di Kota ini aku bertahan hidup dengan berjualan kue. Sekarang gimana ya kabarnya Mbak Wiwin?" tiba-tiba teringat dengan Wiwin, teman kost Husna saat ia berada di daerah Jogjakarta.
Gaffi mematikan rokoknya, lalu mendekat kearah Husna. Suasana menjadi lebih hening lagi. Gaffi mendekap tubuh mungil sang istri, sembari mengecup kening Husna. "Kamu ingin bertemu dengan temanmu itu?"
Husna mengerjabkan matanya, memastikan bahwa yang ia dengar tadi benar. "Boleh, Mas?"
Tentu Gaffi mengangguk, "kenapa tidak boleh, pasti boleh dong,"
"Mau, Mas. Aku mau bertemu dengan mbak Wiwin." Gaffi hanya mengiyakan saja.
Xxx
KAMU SEDANG MEMBACA
GAFNA
SpiritualNote : setelah membaca cerita ini, silahkan ambil sisi baiknya saja! Ini kisah dua insan yang harus menikah saat Riana--- selaku majikan Husna memintanya untuk menikah dan menjadi istri dan ibu sambung untuk Dafi. "Kamu yakin mau jadi istri dan ibu...
